{"id":5030,"date":"2022-11-29T00:11:51","date_gmt":"2022-11-28T17:11:51","guid":{"rendered":"https:\/\/santuynesia.com\/?p=5030"},"modified":"2022-11-29T00:11:56","modified_gmt":"2022-11-28T17:11:56","slug":"biografi-ki-hajar-dewantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/biografi-ki-hajar-dewantara","title":{"rendered":"Biografi Ki Hajar Dewantara"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Santuynesia <\/strong>&#8211; Halo semuanya, ngomong-ngomong kamu sudah kenal sama\u00a0<a href=\"\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Ki Hajar Dewantara<\/a>\u00a0belum? Beliau adalah salah satu tokoh penting dalam mengembangkan pendidikan di\u00a0 Indonesia. Bisa dibilang juga toko reformis pendidikan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut biar kamu kenal lebih dekat sama Ki Hajar Dewantara langsung saja yuk kenalan. Inilah Biografi Ki Hajar Dewantara.<\/p>\n\n\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Profil Ki Hajar Dewantara<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Nama :\u00a0<strong>Raden Mas Soewardi Soerjaningrat<\/strong><br>Nama Panggilan :\u00a0<strong>Ki Hadjar Dewantara (1922)<\/strong><br>Tempat Tanggal Lahir :\u00a0<strong>Yogyakarta, 2 Mei 1889<\/strong><br>Wafat :\u00a0<strong>26 April 1959, (meninggal 69 tahun)<\/strong><br>Saudara:\u00a0Soerjopranoto<br>Istri:\u00a0Nyi Sutartinah<br>Orang Tua:\u00a0Pangeran Soerjaningrat (Nama Ayah) dan juga Raden Ayu Sandiah (Nama Ibu)<br>Anak:\u00a0Ratih Tarbiyah, Syailendra Wijaya, Bambang Sokowati Dewantara, Subroto Aria mataram, Sudiro Alimurtolo.<br>Riwayat prestasi :\u00a0Aktivis Pergerakan Kemerdekaan Indonesia, politisi, kolumnis, dan pelopor pendidikan bagi bumi putra Indonesia ketika Indonesia masih dijajah oleh Belanda.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Biografi Ki Hajar Dewantara<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-3\">Pendidikan Ki Hajar Dewantara<\/h3>\n\n\n\n<p>Ki Hajar Dewantara merupakan anak dari pasangan Pangeran Soerjaningrat dan juga Raden Ayu Sandiah, beliau berasal dari lingkungan keluarga Kadipaten Pakualaman dan beliau sempat mengenyam pendidikan di ELS atau Sekolah Dasar Eropa Belanda. Karena, menurut sejarah pemuda yang bisa menlanjutkan pendidikan hingga umur 12 tahun ke atas (termasuk di ELS) adalah keluarga bangsawan. -Baca RA Kartini- sampai beliau berhasil melanjutkan pendidikan hingga ke STOVIA yaitu Sekolah Dokter Bumiputera.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, dikarenakan saat itu beliau mengalami sakit, maka beliau tidak bisa menyelesaikan pendidikannya saat itu. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan menjadi wartawan di beberapa media surat kabar.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-4\">Awal Karir Ki Hajar Dewantara<\/h3>\n\n\n\n<p>Karena, tidak bisa menyelesaikan pendidikan. Kemudian beliau memutuskan untuk bekerja di surat kabar, saat itu beliau bekerja di surat kabar Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan juga surat kabar Poesara, saat menjadi seorang wartawan beliau termasuk penulis yang sangat hebat. Karena, tulisannya begitu komunikatif dan juga tergolong tajam dalam pemikiran.<\/p>\n\n\n\n<p>Beliau pernah membuat tulisan dalam media kabar hingga menyebabkan kemarahan dari pemerintahan Kolonial Belanda. Kemudian beliau ditangkap hingga beliau diasingkan ke Pulau Bangka, yang mana sebenarnya pengasingan tersebut sebenarnya atas permintaan dari beliau sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian, belanda malah juga mendapatkan protes dari rekan-rekan organisasinya yaitu Douwes Dekker dan juga Dr. Tjipto Mangunkusumo, yang mana mereka inilah yang dikenal sebagai \u2018 Tiga Serangkai\u2019, hingga kemudian mereka bertiga yang diasingkan ke Belanda<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-5\">Selama Ki Hajar Dewatara di Asingkan<\/h3>\n\n\n\n<p>Berdasarkan catatan biografi Ki Hajar Dewantara pada tahun 1913 ketika Pemerintah Hindia \u2013 Belanda mulai mengumpulkan rampasan harta dari masyarakat Pribumi yang akan digunakan untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis menimbulkan reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk salah satunya adalah Soewardi atau Ki Hajar Dewantara.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian, beliau menuliskan sebuah berita di dalam surat kabar De Expres dengan judul \u201cAls ik een Nederlander was\u201d. Tulisan ini termasuk kritikan tajam dan sangat pedas bagi para pejabat Hindia Belanda kala itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin karena memang gaya tulisan yang dibuat beliau saat itu berbeda dengan penulisan beliau biasamya, tenyata banyak diantara pejabat yang menyaksikan bahwa tulisan tangan tersebut dibuat oleh Soewardi. Sehingga banyak diantara mereka yang juga berpendapat jika memang Soewardilah yang membuat, ternyata juga ada campur tangan dari&nbsp; Douwes Dekker yang menjadi pimpinan dari De Expres ini yang memang ingin menjerumuskan Soewardi sehingga belau berani untuk membuat tulisan tersebut. Akibatnya beliau diasingkan ke Pulau Bangka, ketika itu usia beliau masih 24 tahun.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat beliau diasingkan di Belanda sebenarnya beliau tidak sendirian, melainkan beliau ditemani oleh kedua sahabatnya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo. Selama masa pengasingan tersebut ternyata Soewardi juga aktif dalam sebuah organisasi yaitu Indische vereeniging atau Perhimpunan Hindia yang isinya adalah pelajar yang berasal dari Indonesia dan juga di tahun yang sama ia mendirikan sebuah kantor berita yaitu Indonesiach pers bureau atau yang dikenal sebagai Kantor Berita Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-6\">Aktivis Pergerakan Kemerdekaan<\/h3>\n\n\n\n<p>Selain dikenal sebagai wartawan beliau juga dikenal seseorang pemuda yang aktif di dalam sebuah organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya sebagai Organisasi Boedi Oetomo yaitu pada tahun 1908 beliau juga terlibat aktif di dalam propaganda yang bertujuan untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia yang dijajah oleh pemerintahan Belanda untuk bersatu.<\/p>\n\n\n\n<p>Beliau menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya persatuan dan juga kesatuan di dalam berbangsa maupun bernegara. Bahkan dalam catatan biografi Ki Hajar Dewantara Kongres Boedi Oetomo pertama kali yang diadakan di Yogyakarta dipimpin langsung oleh Ki Haji Dewantara.<\/p>\n\n\n\n<p>Soewardi mulai merintis cita-citanya untuk memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan sampai berhasil mendapatkan akta atau ijazah pendidikan, sehingga ijazah tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada studinya tersebut ia kemudian memulai dengan ide-ide dari sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Montessori dan juga Froebel, dari pengaruh-pengaruh itulah kemudian membuatnya mengembangkan sistem pendidikannya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kembalinya Soewardi ke Indonesia<\/h3>\n\n\n\n<p>Setelah kembalinya ke Indonesia pada bulan September tahun 1919 ia kemudian segera bergabung di sekolah binaan saudaranya, dari situlah Soewardi memiliki pengalaman di dalam mengajar, berbekal pengalamannya di dalam mengajar kemudian ia mulai mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang didirikannya pada tahun 3 Juli 1992.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Sekolah ini diberi nama national Onderwijs Institut Tamansiswa atau yang lebih dikenal sebagai Perguruan Nasional Taman Siswa, saat itu Soewardi sudah genap berusia 40 tahun. Pada usia itu beliau kemudian lebih dikenal denhan nama Ki Hadjar Dewantara dan tidak memakai gelar kebangsawanan di depan namanya. Beliau tidak menggunakan gelar kebangsawanannya sebenarnya agar lebih bebas atau leluasa dekat dengan rakyat secara fisik maupun jiwa, tanpa harus memandang kasta.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan semboyan yang dipakai dalam sistem pendidikannya ini\u00a0 sangatdikenal di kalangan pendidikan Indonesia yaitu\u00a0<strong>\u2018ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.\u2019<\/strong>\u00a0yang artinya adalah \u2018di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.\u2019 Semboyan ini yang sampai saat ini masih dikenal di dalam sistem pendidikan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-8\">Pengabdian Kepada Indonesia ketika Merdeka<\/h3>\n\n\n\n<p>Pada kabinet pertama Republik Indonesia Ki Hajar Dewantara langsung diangkat menjadi Menteri Pendidikan di Indonesia. Dalam catatan biografi Ki Hajar Dewantara pada tahun 1957 beliau telah mendapatkan gelar doktor kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari sebuah universitas tertua di indonesia yaitu Universitas Gadjah Mada.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Atas jasa-jasa beliau dalam merintis pendidikan umum, kemudian beliau diberi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahiran beliau yaitu 28 Nopember 1959 ditetapkan sebagai Hari Pendidikan nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Itulah <a href=\"https:\/\/santuynesia.com\/biografi-ki-hajar-dewantara\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">Biografi<\/a> Bapak Pendidikan Nasional bangsa indonesia sebagai generasi muda sudah seharusnya kita bisa meneladani beliau. Semoga tulisan ini bermanfaat. Terimakasih.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Santuynesia &#8211; Halo semuanya, ngomong-ngomong kamu sudah kenal sama\u00a0Ki Hajar Dewantara\u00a0belum? Beliau adalah salah satu tokoh penting dalam mengembangkan pendidikan di\u00a0 Indonesia. Bisa dibilang juga toko reformis pendidikan Indonesia. Lebih lanjut biar kamu kenal lebih dekat sama Ki Hajar Dewantara langsung saja yuk kenalan. Inilah Biografi Ki Hajar Dewantara. Profil Ki Hajar Dewantara Nama :\u00a0Raden [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5032,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"rank_math_lock_modified_date":false,"footnotes":""},"categories":[111],"tags":[309,756],"class_list":["post-5030","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi","tag-biografi","tag-ki-hajar-dewantara"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":6}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5030"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5030"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5030\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5035,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5030\/revisions\/5035"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5032"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5030"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5030"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5030"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}