{"id":4861,"date":"2022-04-16T11:40:12","date_gmt":"2022-04-16T04:40:12","guid":{"rendered":"https:\/\/santuynesia.com\/?p=4861"},"modified":"2022-04-16T19:30:22","modified_gmt":"2022-04-16T12:30:22","slug":"perbedaan-bahan-cotton-combed-20s-24s-30s-dan-40s","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/perbedaan-bahan-cotton-combed-20s-24s-30s-dan-40s","title":{"rendered":"Perbedaan Bahan Kaos Jenis Cotton Combed 20s, 24s, 30s dan 40s untuk Pembuatan Kaos"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><a href=\"https:\/\/santuynesia.com\/perbedaan-bahan-cotton-combed-20s-24s-30s-dan-40s\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">SantuyNesia<\/a> <\/strong>&#8211; Pada saat mulai memilih kaos polos, Anda akan sering dihadapkan pada istilah Cotton Combed 20s, 24s, 30s, atau 40s. Apa arti angka-angka tersebut?<\/p>\n\n\n\n<p>Secara umum, semakin kecil angka semakin tebal bahan kaos yang dimaksud. Walaupun demikian, tidak ada standar yang pasti di antara para produsen bahan katun, sehingga istilah 20s dari produsen A bisa berbeda ketebalannya dengan bahan 20s dari produsen yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Angka 20, 24, 30, dan 40 menunjukkan tipe benang yang digunakan pada proses perajutan menjadi bahan kain.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Benang 20 biasanya digunakan untuk menghasilkan bahan kain dengan gramasi antara 180 \u2013 220 gr\/m2 untuk jenis rajutan jarum tunggal.<\/li><li>Benang 24 digunakan untuk menghasilkan bahan kain dengan gramasi antara 170 \u2013 210 gr\/m2 untuk jenis rajutan jarum tunggal.<\/li><li>Benang 30 digunakan untuk menghasilkan bahan kain dengan gramasi antara 140 \u2013 160 gr\/m2 untuk jenis rajutan jarum tunggal. Untuk jenis rajutan jarum ganda, bahan kain yang dihasilkan mencapai gramasi antara 210 \u2013 230 gr\/m2.<\/li><li>Benang 40 digunakan untuk menghasilkan bahan kain dengan gramasi antara 110 \u2013 120 gr\/m2 untuk jenis rajutan jarum tunggal. Untuk jenis rajutan jarum ganda, bahan kain yang dihasilkan mencapai gramasi antara 180 \u2013 200 gr\/m2.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Huruf \u2018s\u2019 di belakang angka menunjukkan jenis rajutan untuk bahan kaos. \u2018s\u2019 adalah singkatan dari single knit atau rajutan jarum tunggal. Jenis rajutan ini rapat, padat, kurang lentur. Sebagian besar bahan kaos katun yang beredar di pasaran menggunakan tipe rajutan jarum tunggal ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain single knit, juga ada double knit atau rajutan jarum ganda, bahan dapat digunakan bolak-balik, kedua sisinya sama saja. Bahan kaos double knit ditandai dengan huruf \u2018d\u2019 di belakang angka. Jenis rajutannya tidak rapat, kenyal, dan lentur, sehingga cocok digunakan untuk pakaian bayi dan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n<p>Kaos yang biasanya digunakan untuk bahan sablon kaos distro, umumnya menggunakan bahan kain katun combed 20s dan 30s.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SantuyNesia &#8211; Pada saat mulai memilih kaos polos, Anda akan sering dihadapkan pada istilah Cotton Combed 20s, 24s, 30s, atau 40s. Apa arti angka-angka tersebut? Secara umum, semakin kecil angka semakin tebal bahan kaos yang dimaksud. Walaupun demikian, tidak ada standar yang pasti di antara para produsen bahan katun, sehingga istilah 20s dari produsen A [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4862,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"rank_math_lock_modified_date":false,"footnotes":""},"categories":[67],"tags":[683,691,681,682],"class_list":["post-4861","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam","tag-cotton-combed","tag-fashion","tag-kain","tag-katun"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":6}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4861"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4861"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4861\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4864,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4861\/revisions\/4864"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4862"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4861"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4861"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4861"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}