{"id":4616,"date":"2022-03-18T10:59:42","date_gmt":"2022-03-18T03:59:42","guid":{"rendered":"https:\/\/santuynesia.com\/?p=4616"},"modified":"2022-03-18T10:59:48","modified_gmt":"2022-03-18T03:59:48","slug":"cara-membuat-bibit-cabai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/cara-membuat-bibit-cabai","title":{"rendered":"Cara Membuat Bibit Cabai Dengan Benar"},"content":{"rendered":"\n<p>Pada pertemuan kali ini santuynesia.com ingin berbagi informasi terkait Cara Membuat Bibit Cabai Dengan Benar, oleh karena itu mari simak artikel berikut.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Cabai<\/strong>\u00a0(<a href=\"https:\/\/santuynesia.com\/morfologi-tanaman-cabai\" target=\"_blank\" data-type=\"post\" data-id=\"3599\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\"><em>Capsicum annum<\/em>\u00a0L.<\/a>), merupakan salah satu bumbu dapur yang identik dengan rasa pedas dan banyak digemari oleh masyarakat Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain rasanya yang pedas cabai juga menyimpan berbagai manfaat yang luar biasa bagi kesehatan tubuh kita.<ins><\/ins><\/p>\n\n\n\n<p>Harga jual cabai yang begitu tinggi membuat sebagian ibu rumah tangga merasa keberatan untuk membelinya. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang mencoba menanam sendiri cabai di pekarangan rumah atau pada pot-pot untuk konsumsi pribadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum masuk pada tahap perawatan, maka terlebih dahulu kita belajar pada tahap\u00a0pembuatan bibit cabai.<\/p>\n\n\n\n<p>Membuat bibit cabai\u00a0merupakan hal yang cukup mudah bagi yang sudah terbiasa. Bagi Anda yang baru belajar jaganlah khawatir.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Cara Membuat Bibit Cabai<\/h2>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li>Media yang digunakan, yaitu tanah dan pupuk kandang. Pupuk kandang dapat Anda gantikan pupuk urea dan KCL. Dengan perbandingan tanah 10, pupuk kandang 3 ( Urea 2 dan KCL 1).<\/li><li>Campur bahan media tersebut hingga merata dan saring menggunakan ayakan. Ayakan dapat menggunakan strimin yang ukuranya 0,5cm.<\/li><li>Masukan media pada pot-pot dengan cara ditaburkan menggunakan tangan, dan jangan dipadatkan karena dapat menghambat proses pertumbuhan benih.<\/li><li>Siapkan dan tata rapi pada wadah yang telah disediakan.<\/li><li>Setelah media siap, basahi media menggunakan air secara merata baru kemudian masukan benih pada pot bibit satu per satu. Jika bibit ingin Anda gunakan sendiri dapat ditambahkan 2 atau 3 benih dalam 1 pot.<\/li><li>Tutup benih dengan tipis-tipis menggunakan tanah lembut. Selanjutnya basahi menggunakan semprotan pengkabut manual supaya letak dari benih tidak berubah posisi karena penyemprotan.<\/li><li>Kondisikan supaya suhu tanah tetap lembab dengan cara menutup pot menggunakan plastik mulsa.<\/li><li>Anda dapat membuka plastik mulsa setelah satu minggu benih mulai ditaburkan ke dalam pot tersebut. Kemudian setelah benih tumbuh Anda perlu melakukan penyiraman setiap hari supaya benih tetap tumbuh dengan baik.<\/li><li>Tunggu sampai dengan 4 minggu baru benih dapat dipindah pada lahan atau media pot yang lebih besar.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Demikian artikel tentang cara membuat bibit cabai dengan benar. Semoga dapat menjadi referensi bagi Anda.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada pertemuan kali ini santuynesia.com ingin berbagi informasi terkait Cara Membuat Bibit Cabai Dengan Benar, oleh karena itu mari simak artikel berikut. Cabai\u00a0(Capsicum annum\u00a0L.), merupakan salah satu bumbu dapur yang identik dengan rasa pedas dan banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Selain rasanya yang pedas cabai juga menyimpan berbagai manfaat yang luar biasa bagi kesehatan tubuh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4617,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"rank_math_lock_modified_date":false,"footnotes":""},"categories":[111],"tags":[617,302,193],"class_list":["post-4616","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi","tag-bibit-cabai","tag-cabai","tag-tumbuhan"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":6}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4616"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4616"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4616\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4620,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4616\/revisions\/4620"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4617"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4616"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4616"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4616"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}