{"id":4423,"date":"2022-03-02T12:00:00","date_gmt":"2022-03-02T05:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/santuynesia.com\/?p=4423"},"modified":"2022-03-02T10:44:10","modified_gmt":"2022-03-02T03:44:10","slug":"perbedaan-dokter-gigi-umum-dan-spesialis-bedah-mulut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/perbedaan-dokter-gigi-umum-dan-spesialis-bedah-mulut","title":{"rendered":"Ketahui Perbedaan Dokter Gigi Umum dan Spesialis Bedah Mulut"},"content":{"rendered":"\n<p>Jika berbicara mengenai kesehatan gigi dan mulut, sebenarnya tidak hanya bersinggungan dengan dokter gigi umum saja, tetapi juga berbagai spesialisasi di bidangnya, dan salah satunya spesialis bedah mulut. Lalu, apa perbedaan dokter gigi umum dan spesialis bedah mulut?&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pendidikan Spesialis<\/h2>\n\n\n\n<p>Seseorang dapat dikatakan sebagai dokter gigi umum jika dirinya telah mengikuti pendidikan S-1 (sarjana) dan jenjang profesi. <a href=\"https:\/\/santuynesia.com\/tips-mahasiswa-baru\" target=\"_blank\" data-type=\"post\" data-id=\"3528\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Mahasiswa<\/a> kedokteran gigi menyebut jenjang sarjana tersebut sebagai masa preklinik. Umumnya, jenjang S-1 ini ditempuh kira-kira selama 3,5 tahun dan hanya mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara jenjang profesi biasa disebut sebagai masa klinik atau koas (magang di rumah sakit). Masa ini rata-rata akan ditempuh selama 1,5\u20132 tahun. Setelah melewati masa ini, barulah mendapatkan gelar dokter gigi. Dokter gigi yang ingin menjadi spesialis &nbsp;harus mengikuti pendidikan dokter gigi spesialis. Lama prosesnya kurang lebih 5\u201310 semester untuk mendapatkan gelar, sehingga waktu ini bergantung pada bidang spesialisasi yang diambil oleh dokter gigi tersebut.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Keahlian Lebih Spesifik<\/h2>\n\n\n\n<p>Dokter gigi umum merupakan dokter yang dilatih khusus dalam hal perawatan gigi, berperan sangat penting untuk memastikan perawatan gigi dan mulut yang aman dan efektif. Hal ini karena prosedur rutin yang tampaknya biasa-biasa saja, seperti pencabutan, tambal, dan pemerian anestesi, dapat menyebabkan komplikasi bila tidak ditangani dengan tepat. Komplikasi yang dapat ditimbulkan bisa berupa perdarahan berkepanjangan, nyeri, hematoma, hingga terjadi kerusakan saraf sementara, atau bahkan permanen.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Lalu, bagaimana dengan dokter spesialis bedah mulut?<\/h3>\n\n\n\n<p>Sesuai dengan gelarnya, dokter spesialis ini memiliki tugas untuk melakukan prosedur bedah pada gigi, tulang, jaringan rongga mulut, dan wajah. Bedah mulut ini merupakan suatu tindakan untuk mengobati kelainan pada rongga mulut. Lewat prosedur ini, kelainan yang terjadi pada rahang dapat ditangani. Tidak hanya itu, bidang ini juga bisa menangani kelainan yang terjadi pada gigi dan gusi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Berikut ini adalah beberapa kondisi yang bisa ditangani oleh dokter spesialis bedah mulut.<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li><strong>Implan gigi.<\/strong>&nbsp;Prosedur bedah dengan tujuan mengganti akar gigi dan gigi yang hilang dengan akar buatan (implan) yang ditanam ke dalam gusi.&nbsp;<\/li><li><strong>Operasi rahang<\/strong>. Operasi ini bertujuan untuk memperbaiki rahang, baik pada rahang atas atau rahang bawah.<\/li><li><strong>Operasi gigi bungsu.&nbsp;<\/strong>Gigi geraham yang letaknya paling belakang di dalam mulut, biasanya tumbuh pada umur 17\u201325 tahun.<\/li><\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika berbicara mengenai kesehatan gigi dan mulut, sebenarnya tidak hanya bersinggungan dengan dokter gigi umum saja, tetapi juga berbagai spesialisasi di bidangnya, dan salah satunya spesialis bedah mulut. Lalu, apa perbedaan dokter gigi umum dan spesialis bedah mulut?&nbsp; Pendidikan Spesialis Seseorang dapat dikatakan sebagai dokter gigi umum jika dirinya telah mengikuti pendidikan S-1 (sarjana) dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4424,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"rank_math_lock_modified_date":false,"footnotes":""},"categories":[108],"tags":[561,562],"class_list":["post-4423","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sehat","tag-dokter-gigi","tag-spesialis-bedah-mulut"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":6}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4423"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4423"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4423\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4427,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4423\/revisions\/4427"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4424"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4423"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4423"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4423"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}