{"id":3546,"date":"2021-11-02T07:30:00","date_gmt":"2021-11-02T00:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/santuynesia.com\/?p=3546"},"modified":"2021-11-02T07:15:25","modified_gmt":"2021-11-02T00:15:25","slug":"pengertian-pendidikan-karakter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/pengertian-pendidikan-karakter","title":{"rendered":"Pengertian Pendidikan Karakter, Tujuan, Fungsi, Nilai, Ciri-ciri dan Kaidahnya"},"content":{"rendered":"\n<p>Hai sobat&nbsp;santuyers&nbsp;kita tahu bahwa indonesia pada tahun ini menerapkan pendidikan berbasis karakter. Tapi kamu tahu ga. Apa sih pendidikan berbasis karakter itu?&nbsp;<\/p>\n\n\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-1\">Pengertian Pendidikan Karakter<\/h2>\n\n\n\n<p>Pendidikan berbasis karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter\/sifat siswa. Sehingga dari sini terdapat beberapa pengertian tentang pendidikan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-2\">1. Menurut Lickona<\/h3>\n\n\n\n<p>Lickona menngatakan bahwa pengertian pendidikan berbasis&nbsp; karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-3\">2. Menurut Suyanto<\/h3>\n\n\n\n<p>Suyanto menelaah pendidikan berbasis karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun&nbsp; negara.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-4\">3. Menurut Kertajaya<\/h3>\n\n\n\n<p>Pendidikan berbasis Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut seperti <a href=\"https:\/\/santuynesia.com\/kepribadian-ambivert\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">kepribadian ambivert<\/a>, serta merupakan \u201cmachine\u201d yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-5\">4. Menurut UU. RI No.20 tahun 2003<\/h3>\n\n\n\n<p>Pendidikan karakter merupakan usaha sadar &nbsp;dan terencana di dalam mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan juga pembudayaan peserta didik untuk membangun pribadi yang baik untuk warga negara Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-6\">5. Menurut Kamus Psikologi<\/h3>\n\n\n\n<p>Pendidikan karakter&nbsp;menurut kamus psikologi adalah kepribadian yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya berkaitan dengan kejujuran seseorang dan sifat \u2013 sifat yang relatif &nbsp;tetap. (Dali Gulo, 1982).<\/p>\n\n\n\n<p>Penguatan&nbsp;<strong>pendidikan mora<\/strong>l&nbsp;(<em>moral education<\/em>) atau&nbsp;pendidikan karakter&nbsp;(<em>character education<\/em>)&nbsp; dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita.<\/p>\n\n\n\n<p>Krisis moral tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek.<\/p>\n\n\n\n<p>Penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu pendidikan karakter menjadi sangat penting.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-7\">Tujuan Pendidikan Karakter<\/h2>\n\n\n\n<p>Tujuan pendidikan berbasis karakter yaitu untuk membentuk bangsa yang tangguh, bangsa yang bermoral, berakhlak mulia, bertoransi serta bekerja atau gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Pendidikan ini juga bertujuan untuk membentuk suatu bangsa agar memiliki jiwa yang patriotik atau jiwa suka menolong antar sesama. <\/p>\n\n\n\n<p>Disisi lain, juga untuk membentuk jiwa seseorang agar berkembang secara dinamis, berorientasi terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk menciptakan manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-8\">Fungsi Pendidikan Karakter<\/h2>\n\n\n\n<p>Fungsi pendidikan karakter yaitu untuk mengembangkan potensi dasar seorang anak agar berhati baik, memiliki perilaku yang baik serta berpikiran yang baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada fungsi besarnya yaitu yaitu untuk memperkuat dan membangun perilaku anak bangsa yang multikultur.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini juga memiliki fungsi untuk meningkatkan peradaban manusia dan menjadi bangsa yang baik di dalam pergaulan dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini tidak hanya didapatkan di bangku sekolah, melainkan dari berbagai media yang meliputi lingkungan, keluarga, media teknologi, dunia usaha dan juga pemerintahan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-9\">Nilai-nilai Pendidikan Karakter<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Religius<\/h3>\n\n\n\n<p>Yaitu sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Jujur<\/h3>\n\n\n\n<p>Adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Toleransi<\/h3>\n\n\n\n<p>Merupakan sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Mandiri<\/h3>\n\n\n\n<p>Yang di maksud mandiri adalah Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Demokratis<\/h3>\n\n\n\n<p>Yaitu Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">6. Rasa Ingin Tahu<\/h3>\n\n\n\n<p>Adalah Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.\\<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">7. Disiplin<\/h3>\n\n\n\n<p>Adalah tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">8. Kerja Keras<\/h3>\n\n\n\n<p>Merupakan sikap yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">9. Kreatif<\/h3>\n\n\n\n<p>Yaitu Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Ciri-ciri Pendidikan Karakter<\/h2>\n\n\n\n<p>Menurut Foerster dan Majid (2010) menyebutkan, paling tidak empat dasar ciri \u2013 cirinya, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<p>1. Keteraturan interior dimana setiap tindakan seseorang harus diukur berdasarkan hirarki nilai. Maka nilai disini menjadi pedoman yang bersikat normative dalam setiap tindakan manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>2. Koherensi disini adaalah yang diharapkan dapat memberikan keberanian dan membuat seseorang teguh pada prinsip, dan tidak terombang-ambing pada situasi baru atau takut resiko.<\/p>\n\n\n\n<p>3. Otonomi. disini mengharuskan seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi kepribadian pribadi, Keteguhan dan kesetiaan.<\/p>\n\n\n\n<p>4. Keteguhan daya tahan seseorang guna menginginkan apapun yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-10\">Kaidah Dasar Pendidikan Karakter<\/h2>\n\n\n\n<p>Kaidah -Kaidah ini berfungsi sebagai fondasi utama penguatan pendidikan tersebut. Berikut ini kaidah terbut yaitu:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-11\">1. Pancasila<\/h3>\n\n\n\n<p>Negara kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) ditegakkan atas dasar prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini berarti nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya dan seni.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-12\">2. Agama<\/h3>\n\n\n\n<p>Masyarakat Indonesia ialah masyarakat beragam. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama.<\/p>\n\n\n\n<p>Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"rtoc-13\">3. Budaya<\/h3>\n\n\n\n<p>Nilai-nilai budaya dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hai sobat&nbsp;santuyers&nbsp;kita tahu bahwa indonesia pada tahun ini menerapkan pendidikan berbasis karakter. Tapi kamu tahu ga. Apa sih pendidikan berbasis karakter itu?&nbsp; Pengertian Pendidikan Karakter Pendidikan berbasis karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter\/sifat siswa. Sehingga dari sini terdapat beberapa pengertian tentang pendidikan tersebut. 1. Menurut Lickona Lickona menngatakan bahwa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3568,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"rank_math_lock_modified_date":false,"footnotes":""},"categories":[106],"tags":[45,291,48],"class_list":["post-3546","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-individu","tag-karakter","tag-pendidikan"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":6}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3546"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3546"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3546\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3571,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3546\/revisions\/3571"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3568"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3546"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3546"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3546"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}