{"id":2962,"date":"2021-09-08T08:38:16","date_gmt":"2021-09-08T01:38:16","guid":{"rendered":"https:\/\/santuynesia.com\/?p=2962"},"modified":"2021-09-08T08:38:20","modified_gmt":"2021-09-08T01:38:20","slug":"paku-ekor-kuda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/paku-ekor-kuda","title":{"rendered":"Paku Ekor Kuda: Pengertian, Klasifikasi, Morfologi, dan Ciri-cirinya"},"content":{"rendered":"\n<p>Pada pertemuan kali ini kita ingin berbagi informasi tentang tumbuhan&nbsp;<strong>paku ekor kuda<\/strong>, meliputi pengertian,&nbsp;<strong>klasifikakasi dan morfologi, serta ciri-cirinya<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Paku ekor kuda<\/strong>&nbsp;merujuk pada golongan kecil tumbuhan berjumlah sekitar 20 spesies, umumnya terna kecil dan termasuk genus&nbsp;<em>Equisetum<\/em>. Dalam bahasa latin Equisetum terdiri dari kata \u201c<em>equus<\/em>\u201d yang berarti kuda dan \u201c<em>setum<\/em>\u201d yang berarti&nbsp; rambut tebal.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/santuynesia.com\/paku-ekor-kuda\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">Paku ekor kuda<\/a> merupakan tumbuhan dengan genus tunggal Equisetum yang sebagian hidup di darat dan sebagianya lagi di rawa-rawa.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara umum tumbuhan Paku ekor kuda suka hidup pada tanah yang basah baik di tempat berpasir maupun berlempung. Tidak hanya itu, beberapa bahkan ada yang hidup di air, dimana batangnya yang berongga dapat membantu beradaptasi dengan lingkungan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Seluruh anggota dari <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Paku_ekor_kuda\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">paku ekor kuda<\/a> dapat dijumpai di seluruh dunia kecuali di Antartika.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan di Asia Tenggara termasuk Indonesia hanya terdapat satu spesies alami saja, yaitu E. ramosissimum subsp.&nbsp;<em>debile.<\/em>&nbsp;Dalam bahasa jawa spesies ini dikenal dengan&nbsp;<em>petongan<\/em>, sedangkan dalam bahasa melayu disebut&nbsp;<em>rumput betung<\/em>, dan bahasa sunda tataropongan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tumbuhan paku ekor kuda memiliki memiliki usia tahunan dan berukuran kecil sekitar dengan tinggi 0.2 m sampai 1.5 m. Akan tetapi ada beberapa dari anggota tumbuhan paku ekor kuda yang memiliki tinggi mencapai 8 m, yaitu (<em>E. giganteum<\/em>&nbsp;dan&nbsp;<em>E. myriochaetum<\/em>) yang hidup di Amerika Tropik.<ins><\/ins><\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mengenal lebih jelas mengenai tumbuhan tersebut, maka perhatikan klasifikasi dari tanaman paku ekor kuda berikut.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Klasifikasi Tumbuhan Paku Ekor Kuda<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><tbody><tr><td>Divisi<\/td><td>Pteridophyta<\/td><\/tr><tr><td>Kelas<\/td><td>Equisetinae<\/td><\/tr><tr><td>Ordo<\/td><td>Equisetales<\/td><\/tr><tr><td>Famili<\/td><td>Equisetinaceae<\/td><\/tr><tr><td>Genus<\/td><td>Equisetum<\/td><\/tr><tr><td>Spesies<\/td><td><em>Equisetum debile L.<\/em><\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Morfologi Tumbuhan Paku Ekor Kuda<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><strong>Batang tumbuhan paku ekor kuda<\/strong>&nbsp;berwarna hijau, beruas-ruas, dan terdapat lubang dibagian tengahnya. Di penampang melintang batang tersebut tampak terlihat suatu lingkaran berkas-berkas pengangkut&nbsp;<em>kolateral<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu tampak juga dua lingkaran saluran-saluran 8 antar sel, dan terdapat satu ruang udara lisigen dipusatnya. Dalam sporofil terdapat berkas pengangkut dengan susunan yang konsentris.<\/p>\n\n\n\n<p>Semua anggota tumbuhan ini mempunyai daun yang tidak berkembang biak, melainkan hanya menyerupai sisik dan berbentuk meruncing.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Daun-daun<\/strong>&nbsp;tersebut terletak di bagian bawah melekat menjadi suatu sarung yang menyelubungi batang. Terutama daun tersebut duduk berkarang menutupi ruas.<\/p>\n\n\n\n<p>Cabang-cabang tumbuhan ini tidak keluar dari bagian ketiak daun, melainkan keluar di antara daun-daun, sehingga menembus sarung keluar.<\/p>\n\n\n\n<p>Batang dan cabang dari tumbuhan paku ini memiliki fungsi sebagai asimilator dengan warna hijau karena berklorofil.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain klasifikasi dan morfologi dari tumbuhan paku ekor kuda, terdapat juga beberapa ciri-ciri dari tumbuhan ini yang penting untuk diketahui.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>Ciri-ciri Tumbuhan Paku Ekor Kud<\/strong>a<\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Memiliki percabangan batang yang unik, yaitu berbentuk ulir, sehingga mirip dengan ekor kuda.<\/li><li>Berdaun tunggal dengan ukuran cukup kecil dan tersusun secara spiral.<\/li><li>Berasal dari genus Equisetum.<\/li><li>Mempunyai gametofit berukuran kecil dan mengandung klorofil.<\/li><li>Bagian batang berongga dan beruas-ruas.<\/li><li>Tidak mempunyai lapisan kambium.<\/li><li>Fotosintesis dilakukan oleh batang dan cabang karena daunnya berukuran sangat kecil.<\/li><li>Sporangiumnya terletak di bagian dalam strobilus (kerucut).<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Demikian artikel tentang,&nbsp;<strong>Paku Ekor Kuda: Pengertian, Klasifikasi, Morfologi, Ciri-ciri<\/strong>. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi Anda.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada pertemuan kali ini kita ingin berbagi informasi tentang tumbuhan&nbsp;paku ekor kuda, meliputi pengertian,&nbsp;klasifikakasi dan morfologi, serta ciri-cirinya. Paku ekor kuda&nbsp;merujuk pada golongan kecil tumbuhan berjumlah sekitar 20 spesies, umumnya terna kecil dan termasuk genus&nbsp;Equisetum. Dalam bahasa latin Equisetum terdiri dari kata \u201cequus\u201d yang berarti kuda dan \u201csetum\u201d yang berarti&nbsp; rambut tebal. Paku ekor kuda [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2963,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"rank_math_lock_modified_date":false,"footnotes":""},"categories":[111],"tags":[185,214],"class_list":["post-2962","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi","tag-flora","tag-tumbuhan-paku"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":6}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2962"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2962"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2962\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2998,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2962\/revisions\/2998"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2963"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2962"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2962"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2962"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}