{"id":2820,"date":"2021-08-25T07:21:48","date_gmt":"2021-08-25T00:21:48","guid":{"rendered":"https:\/\/santuynesia.com\/?p=2820"},"modified":"2021-08-25T07:21:52","modified_gmt":"2021-08-25T00:21:52","slug":"perkembangbiakan-generatif-dan-vegetatif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/perkembangbiakan-generatif-dan-vegetatif","title":{"rendered":"Perkembangbiakan Generatif dan Vegetatif Pada Hewan Serta Contohnya"},"content":{"rendered":"\n<p>Perkembangbiakan pada hewan terbagi menjadi dua macam, yaitu s<strong>ecara generatif dan vegetatif.<\/strong> <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pembiakan_generatif\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Perkembangbiakan generatif<\/a>\u00a0atau disebut juga\u00a0perkembangbiakan seksual\u00a0terjadi jika sel kelamin jantan (<em>spermatozoid<\/em>) bertemu dengan sel kelamin betina (sel telur).\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Perkembangbiakan generatif\u00a0terbagi menjadi tiga jenis, yaitu\u00a0ovipar, vivipar, dan ovovivipar. Sementara itu,\u00a0perkembangbiakan vegetatif disebut juga sebagai\u00a0perkembangbiakan aseksual (tidak melalui perkawinan). <\/p>\n\n\n\n<p>Terdapat tiga cara\u00a0perkembangbiakan vegetatif pada hewan, antara lain\u00a0tunas, fragmentasi, dan membelah diri.<\/p>\n\n\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Perkembangbiakan Generatif<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Ovipar (Bertelur)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><strong>Ovipar<\/strong>&nbsp;adalah perkembangbiakan pada hewan yang dilakukan dengan cara bertelur dan biasanya dilakukan unggas dan reptil. Ovipar berasal dari kata \u201covum\u201d yang berarti telur. Setelah hewan bertelur, maka induknya &nbsp;akan mengerami telur tersebut dalam beberapa waktu sampai telur tersebut menetas.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi, pertumbuhan dan perkembangan embrio&nbsp;<strong>hewan ovipar<\/strong>&nbsp;terjadi di luar tubuh induknya. Embrio hewan&nbsp;<strong>ovipar<\/strong>&nbsp;akan dilindungi dengan cangkang telur. Telur yang dikeluarkan oleh hewan ovipar dilengkapi dengan kuning telur atau&nbsp;<em>yolk<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Fungsi dari kuning telur tersebut adalah dijadikan sebagai cadangan makanan untuk embrio yang tumbuh di dalam telur tersebut.<ins><\/ins><\/p>\n\n\n\n<p>Embrio yang tumbuh sempurna akan menetas dan keluar dari cangkang telur menjadi individu baru yang sejenis. Contoh hewan bertelur, yaitu ayam, bebek, dan angsa.<\/p>\n\n\n\n<p>Ciri-ciri umum dari&nbsp;<strong>hewan ovipar<\/strong>&nbsp;:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Tidak mengalami masa mengandung<\/li><li>Tidak memiliki kelenjar susu<\/li><li>Tidak menyusui anaknya<\/li><li>Tubuh ditumbuhi penuh bulu<\/li><li>Tidak memiliki daun telinga<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Vivipar (Melahirkan)<\/h3>\n\n\n\n<p><em>Vivipar&nbsp;<\/em>merupakan perkembangbiakan hewan yang dilakukan dengan cara melahirkan atau beranak. Perkembangbiakan vivipar banyak dilakukan oleh mamalia atau hewan menyusui.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah terjadi pembuahan, embrio akan tumbuh dan berkembang dalam rahim betina. Selama berada dalam kandungan embrio akan tetap mendapatkan makanan dari apa yang dimakan oleh induknya melalui plasenta. Contoh hewan melahirkan, yaitu anjing, singa, dan kucing.<\/p>\n\n\n\n<p>Berikut adalah ciri-ciri hewan yang berkembangbiak dengan cara&nbsp;<em>vivipar<\/em>&nbsp;:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Menyusui anaknya (mamalia).<\/li><li>Mempunyai daun telinga.<\/li><li>Tubuhnya ditutupi dengan bulu atau rambut.<\/li><li>Induk mengandung keturunannya selama beberapa waktu.<\/li><li>Mempunyai kelenjar susu.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Ovovipipar (Bertelur dan Melahirkan)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><strong>Ovovivipar<\/strong>&nbsp;merupakan perkembangbiakan secara kawin yang dilakukan dengan cara bertelur sekaligus melahirkan. Dimana perkembangbiakan ovovivipar ini merupakan kombinasi dari dua tadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika terjadi pembuahan, maka embrio yang dihasilkan akan tumbuh dan berkembang di dalam telur. Hal ini memeng sedikit mirip vivipar, akan tetapi pada perkembangikan dengan cara ovovivipar,\u00a0telur tersebut tidak akan dikeluarkan dari tubuh induknya, melainkan akan tetap berada di dalam tubuh induknya sampai telur tersebut menetas.<\/p>\n\n\n\n<p>Apabila telur sudah menetas, baru anak tersebut dilahirkan dari tubuh induknya. Contoh hewan yang berkembangbiak dengan ovovivipar, seperti halnya platypus, kuda laut, beberapa spesies ikan hiu, dan iguana.<\/p>\n\n\n\n<p>Berikut ini adalah ciri-ciri&nbsp;hewan yang berkembangbiak dengan cara ovovivipar,<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Telur menetas di dalam tubuh induknya<\/li><li>Anak hewan dikeluarkan dengan cara melahirkan<\/li><li>Cadangan makanan embrio berasal dari dalam telur<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Perkembangbiakan Vegetatif<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Tunas<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Pertunasan merupakan&nbsp;cara perkembangbiakan hewan yang dilakukan dengan membentuk tunas baru pada tubuhnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika tunas dalam tubuhnya induknya sudah dewasa, maka tunas tersebut akan berpisah dengan induknya dan membentuk individu baru.<\/p>\n\n\n\n<p>Organisme baru yang terbentuk merupakan hasil kloning dari induknya sendiri dan secara genetik memiliki susunan gen yang sama dengan organisme induk.<\/p>\n\n\n\n<p>Contoh hewan yang berkembangbiak dengan&nbsp;pertunasan&nbsp;adalah&nbsp;<strong>hydra<\/strong>,&nbsp;<strong>porifera<\/strong>, dan&nbsp;<strong>coelenterata<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Fragmentasi<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><em>Fragmentasi<\/em>&nbsp;merupakan cara berkembang biak pada hewan dengan teknik memutuskan bagian tubuhnya atau memotong tubuhnya menjadi dua bagian untuk membentuk organisme baru. Setelah itu kedua potongan tubuh tersebut akan membentuk dua individu yang baru.<\/p>\n\n\n\n<p>Adapun contoh dari hewan yang berkembangbiak dengan fragmentasi, yaitu caing pipih dan cacing pita.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Membelah Diri<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Membelah diri merupakan perkembangbiakan pada hewan yang dilakukan dengan cara &nbsp;membagi tubuhnya menjadi dua bagian yang sama. Perkembangbiakan dengan membelah diri dilakukan oleh hewan bersel satu.<\/p>\n\n\n\n<p>Perkembangbiakan dengan cara&nbsp;membelah diri&nbsp; ini diawali inti sel hewan bersel satu akan membelah diri menjadi dua bagian.<\/p>\n\n\n\n<p>Pembelahan diri menjadi dua bagian ini diikuti dengan pembelahan cairan dan dinding sel yang akan menghasilkan organisme baru.<\/p>\n\n\n\n<p>Contoh hewan yang berkembangbiak dengan cara membelah diri adalah&nbsp;<strong>amoeba<\/strong>,&nbsp;<strong>protozoa<\/strong>, dan<strong>&nbsp;paramecium<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Demikian artikel tentang,\u00a0Cara Perkembangbiakan Generatif dan Vegetatif pada hewan<strong>\u00a0<\/strong>. Terima kasih telah berkunjung di <a href=\"https:\/\/santuynesia.com\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">santuynesia<\/a>. dan semoga artikel ini bermanfaat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perkembangbiakan pada hewan terbagi menjadi dua macam, yaitu secara generatif dan vegetatif. Perkembangbiakan generatif\u00a0atau disebut juga\u00a0perkembangbiakan seksual\u00a0terjadi jika sel kelamin jantan (spermatozoid) bertemu dengan sel kelamin betina (sel telur).\u00a0 Perkembangbiakan generatif\u00a0terbagi menjadi tiga jenis, yaitu\u00a0ovipar, vivipar, dan ovovivipar. Sementara itu,\u00a0perkembangbiakan vegetatif disebut juga sebagai\u00a0perkembangbiakan aseksual (tidak melalui perkawinan). Terdapat tiga cara\u00a0perkembangbiakan vegetatif pada hewan, antara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2821,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"rank_math_lock_modified_date":false,"footnotes":""},"categories":[111],"tags":[185,200,201],"class_list":["post-2820","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi","tag-flora","tag-generatif","tag-vegetatif"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":6}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2820"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2820"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2820\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2844,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2820\/revisions\/2844"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2821"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2820"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2820"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2820"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}