{"id":2817,"date":"2021-09-10T00:02:11","date_gmt":"2021-09-09T17:02:11","guid":{"rendered":"https:\/\/santuynesia.com\/?p=2817"},"modified":"2021-09-10T00:02:13","modified_gmt":"2021-09-09T17:02:13","slug":"tumbuhan-paku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/tumbuhan-paku","title":{"rendered":"Tumbuhan Paku: Pengertian, Ciri-ciri, Jenis, Manfaat (Lengkap)"},"content":{"rendered":"\n<p>Tumbuhan paku atau yang disebut juga dengan tumbuhan pakis-pakisan merupakan sekelompok yang mempunyai sistem pembuluh sejati (<em>Tracheophyta).&nbsp;<\/em>Meskipun demikian tumbuhan ini tidak pernah menghasilkan biji untuk berkembang biak.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai gantinya dari biji, tumbuhan ini melepaskan spora sebagai alat perbanyakan tanaman, sehingga menyerupai kelompok organisme&nbsp;<em><a href=\"https:\/\/santuynesia.com\/ciri-ciri-jamur\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">fungi<\/a><\/em>&nbsp;dan&nbsp;<em>lumut<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Tumbuhan paku dapat hidup di seluruh dunia, kecuali di tempat bersalju. Secara umum tumbuhan ini paling banyak ditemukan hidup pada tumbuhan lain dengan cara menumpang (epifit), seperti halnya pada sawit.<ins><\/ins><\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi, meskipun hidup menumpang pada tanaman lain tumbuhan paku tidak bersifat parasit.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain bersifat&nbsp;<em>epifit<\/em>&nbsp;tumbuhan paku dapat hidup di tepi pantai, dataran rendah, lereng gunung, daerah lembab, bahkan mengapung di air.<\/p>\n\n\n\n<p>Spesies tumbuhan paku yang diketahui berjumlah sekitar 12.000, dan diperkirakan sekitar 3.000 lebih dari spesiesnya terdapat di Malaysia dan Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mengenal lebih jelas mengenai <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Tumbuhan_paku\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">tumbuhan paku<\/a>, maka perhatikan ciri-ciri dari tumbuhan paku berikut ini.<\/p>\n\n\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Ciri-ciri Tumbuhan Paku (Pteridophyta)<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Mempunyai akar, batang, dan juga daun.<\/li><li>Mempunyai pembuluh pengangkut xilem dan floem.<\/li><li>Mempunyai ukuran yang bervariasi mulai dari beberapa milimeter mencapai tinggi enam meter.<\/li><li>Mempunyai penampilan luar yang beraneka ragam. Ada yang berupa pohon (akan tetapi biasanya tidak bercabang), semak, tumbuhan merambat, epifit, mengapung di air, hingga hidrofit.<\/li><li>Mengalami pergiliran keturunan atau yang disebut metagenesis, yaitu tahap sporofit dan gametofit.<\/li><li>Tidak berbiji dan tidak berbunga.<\/li><li>Mempunyai klorofil.<\/li><li>Perakaran serabut.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Jenis-jenis Tumbuhan Paku<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Selain ciri-ciri terdapat juga jenis-jenis dari tumbuhan paku. Secara umum tumbuhan paku dibagi menjadi beberapa jenis. <\/p>\n\n\n\n<p>Diantaranya Psilopsida (Paku purba), Pteropsida (paku sejati), Lycopsida (paku kawat\/ rambut), Equisetum (paku ekor kuda). Berikut ini penjelasan mengenai jenis-jenis tumbuhan paku tersebut.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Paku Purba (Psilopsida)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Tumbuhan paku purba disebut juga&nbsp;<em>psilopsida<\/em>. Dalam bahasa Yunani arti kata \u201c<em>psilos<\/em>\u201d yaitu telanjang atau polos. Dengan demikian, tumbuhan tersebut terlihat polos tidak mempunyai akar dan daun layaknya tumbuhan umumnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"https:\/\/santuynesia.com\/tumbuhan-paku-purba\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">Paku purba<\/a><\/strong>&nbsp;termasuk jenis tumbuhan paku yang susunanya paling sederhana, akan tetapi sebagian besar spesiesnya sudah punah. Tumbuhan ini hanya dapat ditemukan di beberapa benua saja, yaitu Benua Amerika, Asia, dan Pasifik.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa contoh dari paku purba, antara lain Asteroxylon elberfeldence, Asteroxylon mackei, Lycopodium clavatum, Lycopodium cernuum, dan Psilotum sp.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Paku Sejati (Pteropsida)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><strong>Tumbuhan paku sejati<\/strong>&nbsp;atau yang disebut dengan&nbsp;<em>Filiciinae&nbsp;<\/em>tergolong tumbuhan paku yang mempunyai daun sempurna<em>.<\/em>&nbsp;Kata&nbsp;<em>Filiciinae<\/em>&nbsp;berasal dari kata \u201c<em>filix<\/em>\u201d yang berarti&nbsp;<strong><a href=\"https:\/\/santuynesia.com\/tumbuhan-paku-sejati\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">tumbuhan paku sejati<\/a><\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p>Tumbuhan paku sebagian besar hidup di daerah tropis dan sub tropis. Tanaman ini dapat dijumpai hidup di tanah, perairan, dan tumbuhan lain (<em>epifit<\/em>).<\/p>\n\n\n\n<p>Secara umum, tumbuhan ini banyak dikenal orang sebagai tanaman pakis.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Paku kawat (Lycopsida)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p><strong>Paku kawat<\/strong>&nbsp;(<em>Lycopsida<\/em>) sering disebut juga dengan&nbsp;<em>club moss&nbsp;<\/em>(lumut ganda) ataupun&nbsp;<em>pine<\/em>&nbsp;(pinus tanah).<\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi, paku kawat tidak termasuk kategori <a href=\"https:\/\/santuynesia.com\/tumbuhan-lumut\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">tumbuhan lumut<\/a> ataupun pinus.<\/p>\n\n\n\n<p>Tanaman paku kawat banyak tumbuh pada tanah dan epifit pada kulit pohon, tetapi tidak bersifat parasit.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Indonesia terdapat dua jenis spesies dari (<em>Lycopsida<\/em>) paku kawat, yaitu&nbsp;<em>Lycopodium cernuum<\/em>&nbsp;dan&nbsp;<em>Lycopodium clavatum<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. Paku ekor kuda (Equisetum)<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Paku ekor kuda merujuk pada golongan kecil tumbuhan berjumlah sekitar 20 spesies, umumnya terna kecil dan termasuk genus&nbsp;<em>Equisetum<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam bahasa latin Equisetum terdiri dari kata \u201cequus\u201d yang berarti kuda dan \u201csetum\u201d yang berarti&nbsp; rambut tebal.<\/p>\n\n\n\n<p>Umumnya <a href=\"https:\/\/santuynesia.com\/paku-ekor-kuda\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">tumbuhan paku ekor kuda<\/a> biasa hidup pada tanah yang basah baik di tempat berpasir maupun berlempung. Selain itu ada juga yang hidup di air, dimana batangnya yang berongga dapat membantu beradaptasi dengan lingkungan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam kehidupan sehari-hari tumbuhan paku memiliki berbagai manfaat. Berikut ini adalah beberapa manfaat dari tumbuhan paku.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Manfaat&nbsp;<\/strong>Tumbuhan Paku (Pteridophyta)<\/h2>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Sebagai bahan pembuatan obat, seperti halnya&nbsp;<em>Asipidium filixmas.<\/em><\/li><li>Sebagai tanaman hias, seperti halnya&nbsp;<em>asplenium nidus.<\/em><\/li><li>Sebagai sayuran, seperti halnya&nbsp;<em>Marsilea crenata<\/em>&nbsp;(semanggi).<\/li><li>Sebagai tanaman pelindung dalam persemaian, seperti halnya&nbsp;<em>Gleichenia linearis.<\/em><\/li><li>Sebagai pupuk, seperti halnya&nbsp;<em>azolla pinnata<\/em>&nbsp;yang bersimibosis dengan&nbsp;<em>anabaena azollae<\/em>.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Demikian artikel tentang,&nbsp;pengertian, ciri-ciri, jenis dan manfaat <strong>Tumbuhan Paku. <\/strong>Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi Anda.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tumbuhan paku atau yang disebut juga dengan tumbuhan pakis-pakisan merupakan sekelompok yang mempunyai sistem pembuluh sejati (Tracheophyta).&nbsp;Meskipun demikian tumbuhan ini tidak pernah menghasilkan biji untuk berkembang biak. Sebagai gantinya dari biji, tumbuhan ini melepaskan spora sebagai alat perbanyakan tanaman, sehingga menyerupai kelompok organisme&nbsp;fungi&nbsp;dan&nbsp;lumut. Tumbuhan paku dapat hidup di seluruh dunia, kecuali di tempat bersalju. Secara [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3011,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"rank_math_lock_modified_date":false,"footnotes":""},"categories":[111],"tags":[185,214],"class_list":["post-2817","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi","tag-flora","tag-tumbuhan-paku"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":6}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2817"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2817"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2817\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3019,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2817\/revisions\/3019"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3011"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2817"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2817"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2817"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}