{"id":2375,"date":"2021-03-31T20:07:36","date_gmt":"2021-03-31T13:07:36","guid":{"rendered":"https:\/\/santuynesia.com\/?p=2375"},"modified":"2021-09-12T23:11:06","modified_gmt":"2021-09-12T16:11:06","slug":"akad-hawalah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/akad-hawalah","title":{"rendered":"Akad Hawalah: Pengertian, Rukun, Syarat, Konsep, dan Penyebab Berakhirnya"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><a href=\"https:\/\/santuynesia.com\/akad-hawalah\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">Santuynesia<\/a><\/strong> &#8211; Akad\u00a0<em>hawalah<\/em>\u00a0atau yang sering dikenal dengan akad pengalihan hutang menjadi suatu bagian yang paling penting dalam hal transaksi hutang-piutang.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini tentunya bertujuan untuk meminimalisir tingkat terjadinya perselisihan antara pihak yang berutang dengan pihak yang berpiutang.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengalihan hutang dengan menggunakan akad&nbsp;<em>hawalah<\/em>&nbsp;harus dilakukan secara hati-hati dan harus mengikuti rukun dan syaratnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Mau tau apa-apa saja yang menjadi rukun dan syarat, serta hal lain yang berhubungan dengan akad&nbsp;<em><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Hawalah\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">hawalah<\/a><\/em>?<\/p>\n\n\n\n<p>Simak penjelasan di bawah ini:<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pengertian Akad Hawalah<\/h2>\n\n\n\n<p><em>Hawalah<\/em>&nbsp;secara bahasa berarti memindahkan barang dari satu tempat ke tempat yang lain atau mengalihkan hutang dari satu perjanjian ke perjanjian yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara istilah,&nbsp;<em>hawalah<\/em>&nbsp;berarti pengalihan hutang dari satu perjanjian kepada perjanjian yang lain atau pengalihan hutang dari satu pihak kepada pihak lain dengan tidak menaikkan ataupun menurunkan jumlah hutang yang harus dibayarkan oleh pihak yang akan menanggungnya (Suprihatin, 2011).<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><em>Hawalah<\/em>&nbsp;dalam Fatwa DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia)<\/h3>\n\n\n\n<p>Berdasarkan Fatwa DSN-MUI No. 58\/DSN-MUI\/V\/2007 Mengenai&nbsp;<em>Hawalah Bil Ujrah,<\/em>&nbsp;maka penerapan akad&nbsp;<em>hawalah&nbsp;<\/em>yang dianggap sesuai dengan fatwa tersebut adalah&nbsp;<em>hawalah bil ujrah,<\/em>&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan&nbsp;<em>hawalah bil murabahah, hawalah bil mudharabah,&nbsp;<\/em>dan&nbsp;<em>hawalah bil musyarakah&nbsp;<\/em>dianggap tidak sesuai dengan syariah Islam, dikarenakan dalam akad tersebut digabungkan antara akad&nbsp;<em>tabarru&#8217;&nbsp;<\/em>(tolong-menolong) dengan akad&nbsp;<em>tijari<\/em>&nbsp;(jual-beli) (Falikhatun, 2017).<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Landasan Hukum Akad Hawalah<\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut landasan hukum akad&nbsp;<em>hawalah<\/em>&nbsp;yang bersumber dari Al-Qur&#8217;an dan Hadis (Suprihatin, 2011):<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Surah al-Maidah ayat 2<\/h3>\n\n\n\n<p>Ayat ini menjelaskan bahwa kita sesama manusia harus saling membantu atau tolong-menolong dalam melakukan sesuatu yang bermanfaat dan membawa keberkahan bagi kehidupan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan malah sebaliknya, bekerjasama untuk melakukan maksiat dan melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu contoh tolong-menolong dalam kebaikan yaitu dengan melakukan akad&nbsp;<em>hawalah<\/em>&nbsp;(pengalihan hutang), di mana salah satu pihak menolong pihak lainnya yang mengalami kesulitan dalam hal membayar hutang yang telah jatuh tempo.<\/p>\n\n\n\n<p>Walaupun pihak yang membantu membayar hutang tersebut juga memiliki hutang sama orang yang mengalihkan untuk membayar hutang, ini tetap menjadi hal yang baik, karena orang yang membantu orang yang lagi kesulitan lebih berharga daripada membantu orang yang senang dan hidup mewah.<\/p>\n\n\n\n<p>Kenapa demikian?<\/p>\n\n\n\n<p>Karena orang-orang yang hidup mewah itu tidak lagi bergantung kepada orang lain dalam hal keuangan, karena uang yang dimilikinya sudah terlalu banyak dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Hadis Riwayat Bukhari dan Ahmad<\/h3>\n\n\n\n<p>Hadis ini menegaskan bahwa para hartawan atau orang kaya yang menunda-nunda untuk membayar hutangnya itu merupakan suatu perbuatan yang dianggap&nbsp;<em>dhalim<\/em>&nbsp;dan menganiaya orang lain yang sedang membutuhkan uang.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian, apabila ada orang yang sedang mengalami kesulitan dalam membayar hutangnya kepada orang lain, lalu dia mengalihkan hutang tersebut kepada orang kaya, maka sudah sepatutnya orang kaya tersebut menerima pengalihan untuk membayar hutang dari pihak yang mengalihkannya. Karena ini merupakan suatu bentuk tolong-menolong yang diridhai oleh Allah SWT.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Rukun dan Syarat Akad Hawalah<\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut penjelasan mengenai rukun dan syarat akad&nbsp;<em>hawalah&nbsp;<\/em>(Suprihatin, 2011):<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Rukun-rukun Akad Hawalah<\/h3>\n\n\n\n<p>Imam Syafi&#8217;i menjelaskan bahwa rukun-rukun akad&nbsp;<em>hawalah<\/em>&nbsp;antara lain yaitu:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Adanya&nbsp;<em>Muhil<\/em><\/li><li>Adanya&nbsp;<em>Muhal<\/em><\/li><li>Adanya&nbsp;<em>Muhal Alaih<\/em><\/li><li>Adanya piutang&nbsp;<em>Muhal<\/em>&nbsp;kepada&nbsp;<em>Muhil<\/em><\/li><li>Adanya hutang&nbsp;<em>Muhil<\/em>&nbsp;kepada&nbsp;<em>Muhal<\/em>&nbsp;Alaih<\/li><li>Adanya&nbsp;<em>ijab qabul (sighat)<\/em><\/li><\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Syarat-syarat Akad Hawalah<\/h3>\n\n\n\n<p>Berikut syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam melaksanakan akad&nbsp;<em>hawalah:<\/em><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Adanya kerelaan para pihak yang melakukan akad.<\/li><li>Piutang&nbsp;<em>Muhal<\/em>&nbsp;harus diketahui dengan jelas, baik itu mengenai jumlah maupun jenisnya.<\/li><li>Hutang&nbsp;<em>Muhal Alaih<\/em>&nbsp;harus bersifat lazim.<\/li><li>Adanya kesamaan jumlah hutang&nbsp;<em>Muhil&nbsp;<\/em>kepada&nbsp;<em>Muhal<\/em>&nbsp;dan piutang&nbsp;<em>Muhil<\/em>&nbsp;kepada&nbsp;<em>Muhal Alaih.<\/em><\/li><\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Aturan Konsep Akad&nbsp;Hawalah&nbsp;dalam SEBI (Surat Edaran Bank Indonesia)<\/h2>\n\n\n\n<p>Berbagai konsep mengenai akad&nbsp;<em>hawalah<\/em>&nbsp;yang diimplementasikan dalam perbankan syariah telah diatur dalam SEBI No. 10\/14\/DPBS yang menjelaskan bahwa salah satu produk yang ada dalam perbankan syariah yaitu akad&nbsp;<em>hawalah.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam SEBI tersebut akad&nbsp;<em>hawalah<\/em>&nbsp;dikategorikan ke dalam dua bagian yaitu akad&nbsp;<em>hawalah muthlaqah<\/em>&nbsp;dan&nbsp;<em>hawalah muqayyadah.&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Hawalah muthlaqah<\/em>&nbsp;adalah sebuah akad yang digunakan dalam hal pengalihan hutang pihak yang mengakibatkan adanya uang keluar bank.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan&nbsp;<em>hawalah muqayyadah<\/em>&nbsp;adalah sebuah akad yang digunakan dalam hal penyelesaian hutang-piutang di antara tiga pihak yang bermuamalah dengan cara mengalihkan hutang dari satu pihak kepada pihak lain dengan tidak mengakibatkan adanya uang keluar bank (Octaviani, 2015).<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Penyebab Berakhirnya Akad&nbsp;Hawalah<\/h2>\n\n\n\n<p>Berikut beberapa hal yang menjadi penyebab berakhirnya akad&nbsp;<em>hawalah<\/em>&nbsp;(Suprihatin, 2011):<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Akad&nbsp;<em>hawalah<\/em>&nbsp;dapat berakhir apabila salah satu pihak membatalkannya atau memfasakh akad yang dijalankan tersebut.<\/li><li>Meninggal atau bangkrutnya pihak yang menanggung untuk membayar hutang.<\/li><li>Apabila pihak yang menanggung untuk membayar hutang telah membayar hutang tersebut kepada pihak yang bersangkutan, maka akad&nbsp;<em>hawalah<\/em>&nbsp;dianggap telah berakhir.<\/li><li>Apabila&nbsp;<em>Muhal&nbsp;<\/em>menghibahkan, menyedekahkan, atau pun menghapusbuku-kan kewajiban untuk membayar hutang kepada&nbsp;<em>Muhal Alaih,&nbsp;<\/em>maka akad&nbsp;<em>hawalah<\/em>&nbsp;telah berakhir.<\/li><\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Santuynesia &#8211; Akad\u00a0hawalah\u00a0atau yang sering dikenal dengan akad pengalihan hutang menjadi suatu bagian yang paling penting dalam hal transaksi hutang-piutang. Hal ini tentunya bertujuan untuk meminimalisir tingkat terjadinya perselisihan antara pihak yang berutang dengan pihak yang berpiutang. Pengalihan hutang dengan menggunakan akad&nbsp;hawalah&nbsp;harus dilakukan secara hati-hati dan harus mengikuti rukun dan syaratnya. Mau tau apa-apa saja [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2481,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"rank_math_lock_modified_date":false,"footnotes":""},"categories":[111],"tags":[126,113],"class_list":["post-2375","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi","tag-akad","tag-fikih"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":6}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2375"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2375"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2375\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3086,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2375\/revisions\/3086"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2481"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2375"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2375"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2375"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}