{"id":229,"date":"2021-11-18T06:55:17","date_gmt":"2021-11-17T23:55:17","guid":{"rendered":"https:\/\/yukuis.com\/?p=229"},"modified":"2021-12-14T08:24:39","modified_gmt":"2021-12-14T01:24:39","slug":"penyakit-tanaman-lada","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/penyakit-tanaman-lada","title":{"rendered":"Cara Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Lada"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Penyakit Tanaman Lada<\/strong> &#8211; Lada atau disebut juga dengan merica merupakan tanaman rempah yang biasa digunakan sebagai bumbu masak.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain digunakan sebagai bumbu, lada juga biasa dimanfaatkan sebagai minyak asiri dan minyak wangi (parfum). Dimana parfum dari lada memiliki aroma yang wangi dan khas.<\/p>\n\n\n\n<p>Berbeda dengan tanaman kebun lainya, lada memiliki bentuk pohon semak memanjat, dan saat ini banyak dibudidayakan sebagai tanaman perdu.<ins><\/ins><\/p>\n\n\n\n<p>Tanaman dengan nama latin&nbsp;<em>Piper nigrum L<\/em>. ini sudah dikenal lama oleh masyarakat Indonesia, sehingga memiliki sebutan yang berbeda-beda untuk setiap daerahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti halnya di (Ende) disebut mbako saah, (Mentawai) raro, (Batak, Aceh, Lampung, Buru, dan Nias) lada, dan (Sunda) merica.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mengenal lebih jelas tentang tanaman lada, maka berikut ini kami sajikan klasifikasi dari tanaman lada.<\/p>\n\n\n\n<h5 class=\"wp-block-heading\"><strong>Klasifiaksi tanaman lada :<\/strong><\/h5>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><tbody><tr><td>Divisi<\/td><td>Spermatophyta<\/td><\/tr><tr><td>Subdivisi<\/td><td>Angiospermae<\/td><\/tr><tr><td>Kelas<\/td><td>Dicotyledonae<\/td><\/tr><tr><td>Famili<\/td><td>Piperaceae<\/td><\/tr><tr><td>Genus<\/td><td>Piper<\/td><\/tr><tr><td>Spesies<\/td><td><em>Piper nigrum<\/em><\/td><\/tr><\/tbody><\/table><figcaption>Klasifikasi tanaman lada<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Ada beberapa varietas unggul dari tanaman lada yang sering dibudidayakan oleh petani. Berikut ini adalah beberapa verietas unggul tersebut.<ins><\/ins><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table><tbody><tr><td>Varietas<\/td><td>Daya Adaptasi<\/td><td>Kepekaan<\/td><td>Potensi Produksi<\/td><\/tr><tr><td>Kekurangan Air<\/td><td>Kelebihan Air<\/td><td>Penggerek Batang<\/td><td>Nematoda<\/td><td>Busuk Pangkal Batang<\/td><\/tr><tr><td>Petaling 1<\/td><td>Kurang<\/td><td>Sedang<\/td><td>Kurang peka<\/td><td>Peka<\/td><td>Sangat Peka<\/td><td>Tinggi<\/td><\/tr><tr><td>Petaling 2<\/td><td>Sedang<\/td><td>Sedang<\/td><td>Kurang peka<\/td><td>Kurang peka<\/td><td>Peka<\/td><td>Sedang<\/td><\/tr><tr><td>Natar 1<\/td><td>Sedang<\/td><td>Sedang<\/td><td>Kurang peka<\/td><td>Kurang Peka<\/td><td>Kurang Peka<\/td><td>Sedang<\/td><\/tr><tr><td>Natar 2<\/td><td>Sedang<\/td><td>Kurang<\/td><td>Peka<\/td><td>Peka<\/td><td>Peka<\/td><td>Sedang<\/td><\/tr><tr><td>LDK<\/td><td>Kurang<\/td><td>\u2013<\/td><td>Peka<\/td><td>Peka<\/td><td>Peka<\/td><td>Sedang<\/td><\/tr><tr><td>Cunuk<\/td><td>\u2013<\/td><td>\u2013<\/td><td>Peka<\/td><td>Peka<\/td><td>Peka<\/td><td>Sedang<\/td><\/tr><tr><td>Bengkayan<\/td><td>\u2013<\/td><td>\u2013<\/td><td>\u2013<\/td><td>Peka<\/td><td>Peka<\/td><td>Sedang<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p>Untuk mendapatkan produktivitas yang baik tidak hanya tergantung dari varietas unggul yang digunakan. Akan tetapi perlu pemahaman terkait teknik budidaya tanaman lada secara tepat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dimana ada beberapa tahapan penting yang perlu diperhatikan saat proses budidaya tanaman lada.<\/p>\n\n\n\n<p>Antara lain pemahaman syarat tumbuh tanaman lada, pembibitan, persiapan lahan, persiapan tiang panjatan, penanaman, dan <a href=\"https:\/\/santuynesia.com\/cara-pemeliharaan-tanaman-lada\" target=\"_blank\" data-type=\"post\" data-id=\"175\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">pemeliharaan tanaman lada<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat melakukan budidaya tanaman lada, sering kali petani dihadapkan dengan serangan hama dan penyakit.<\/p>\n\n\n\n<p>Hadirnya hama dan penyakit menjadi ancaman yang serius bagi petani. Pasalnya, serangan hama dan penyakit ini dapat menyebabkan kerugian bahkan kehilangan hasil dari budidaya tanaman lada.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, maka juga diperlukan cara pengendalian hama dan penyakit utama yang biasa menyerang tanaman lada.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada kesempatan kali ini kami ingin berbagi informasi terkait cara pengendalian hama dan penyakit tanaman lada.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan ini, maka diharapkan petani dapat menangani hama dan penyakit secara tepat dan efektif agar kerugian dapat diminimalkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Berikut ini adalah pengenalan hama dan penyakit tanaman lada beserta cara pengendalianya.<\/p>\n\n\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Cara Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Lada<\/h2>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Hama<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Terdapat beberapa hama utama yang biasa menyerang pertanaman lada. Diantaranya Kumbang&nbsp;<em>Lophobaris piperis, Dasynus piperis,&nbsp;<\/em>dan<em>&nbsp;juga Disconocoris hewitti.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Berikut ini adalah uraian dari hama-hama tersebut beserta cara pengendalianya.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>a. Dasynus piperis<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Jenis serangga&nbsp;<em>Dasynus piperis<\/em>&nbsp;menyerang tanaman lada dengan cara menghisap buah lada yang masih berumur 4,5 bulan atau lebih.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, hal tersebut mengakibatkan buah lada akan berjatuhan sebelum masak. Serangan serangga ini menyebabkan penurunan kualitas buah lada, oleh karena itu perlu adanya pengendalian yang tepat.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara umum pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif carbaryl 85 %.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>b. Kumbang&nbsp;<em>Lophobaris piperis<\/em><\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Terdapat beberapa ciri gejala yang ditimbulkan akibat serangan dari hama kumbang laphobaris piperis. Dimana infeksi pertama ditandai dengan perubahan warna kulit dibawah buku-buku ranting.<\/p>\n\n\n\n<p>Apabila larva masuk ke dalam ranting, maka bubu-buku ranting akan mengalami kematian, baik itu ranting orthotropis maupun plagiotropis.<\/p>\n\n\n\n<p>Kerusakan pada ranting-ranting yang produktif akan menyebabkan penurunan hasil panen. Sementara itu, untuk ciri infeksi berat akibat serangan hama tersebut, yaitu tanaman akan terlihat berantakan dan produktivitasnya menurun secara keseluruhan.<\/p>\n\n\n\n<p>Cara pengendalian hama kumbang ini dapat dilakukan dengan cara melakukan pemangkasan dan pembakaran cabang atau ranting yang terinfeksi.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, lakukan pembasmian sarang kumbang- kumbang yang berada di kebun lada tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara untuk pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan mengaplikasikan insektisida sistemik. Dimana insektisida yang dapat digunakan adalah insektisida berbahan aktif&nbsp;<em>metomil<\/em>&nbsp;40 % dan&nbsp;<em>endosulfan<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong><em>c. Diconocoris hewetti<\/em><\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Diconocoris hewetti merupakan jenis hama yang merusak bunga tanaman lada. Karena bunga dirusak, maka akan mengakibatkan gagalnya pembuahan pada tanaman lada.<\/p>\n\n\n\n<p>Cara pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara memotong dan memusnahkan bagian yang terserang dengan cara dibakar. Setelah itu, lakukan pemusnahan pada serangga dewasa dan juga telurnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, pengendalian hama&nbsp;<em>diconocoris hewetti&nbsp;<\/em>dapat dilakukan menggunakan insektisida butiran sebanyak 30 g\/ pohon dewasa.<\/p>\n\n\n\n<p>Insektisida ini diberikan pada alur dangkal yang dibuat di luar tajuk tanaman. Sedangkan pemberian insektisida dilakukan pada saat musim hujan tiba.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Penyakit<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Beberapa penyakit utama pada <a href=\"https:\/\/santuynesia.com\/cara-budidaya-lada\" target=\"_blank\" data-type=\"post\" data-id=\"168\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">budidaya tanaman lada<\/a> yaitu busuk akar dan juga busuk batang.<\/p>\n\n\n\n<p>Dimana serangan penyakit tersebut dapat mengakibatkan penurunan secara drastis terhadap produktivitas tanaman lada yang dibudidayakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Berikut ini adalah uraian dari kedua penyakit tersebut beserta cara pengendalianya.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>a. Busuk Pangkal Batang<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Busuk pangkal batang merupakan penyakit yang disebabkan oleh cendawan&nbsp;<em><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Phytophthora_palmivora\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener nofollow\">Phytophthora palmivora<\/a><\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Tanaman lada yang terserang penyakit ini tampak terkulai, dimana kulit batang juga tampak berubah warna. Terdapat lingkaran berwarna coklat kelam dengan warna abu-abu pada bagian tengah.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, daun bagian bawah akan terjatuh dengan ditandai dengan gejala layu dan daun menguning.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengendalian hama busuk pangkal batang pada tanaman lada dapat dilakukan dengan cara melakukan isolasi pada tanaman yang sudah terserang.<\/p>\n\n\n\n<p>Isolasi dapat dilakukan dengan membentuk parit untuk memisahkan tanaman yang terserang penyakit tersebut dgn tanaman yang sehat.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan fungisida berbahan aktif mankozeb dengan dosis 0,18- 0,24 %.<\/p>\n\n\n\n<p>Penyemprotan insektisida ini dilakukan seminggu sekali dengan cara menyemprotkan ke batang pokok tanaman.<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\"><strong>b. Busuk Akar<\/strong><\/h4>\n\n\n\n<p>Penyakit busuk akar disebabkan oleh beberapa cendawan parasit, seperti halnya&nbsp;<em>Fomes lignoses, Rhizoctonia solani,&nbsp;<\/em>dan<em>&nbsp;Ganoderma lucidum.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa gejala yang dialami berbeda-beda tergantung dari jenis patogen yang menyerangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi, secara umum gejala yang ditimbulkan oleh cendawan&nbsp;<em>Fomes lignosus<\/em>&nbsp;dan&nbsp;<em>Ganoderma lucidum<\/em>&nbsp;yaitu akar tampak berwarna putih.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah tanaman tua, akar tersebut berubah menjadi merah tua atau merah tembaga.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, untuk ciri gejala yang ditimbulkan oleh cendawan Rhizoctonia solani yaitu berupa infeksi berwarna putih keabu-abuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi, lama-lama warna tersebut akan berubah menjadi coklat tua. Untuk cara pengendalian penyakit busuk akar ini sama dengan pengendalian penyakit busuk pangkal batang.<\/p>\n\n\n\n<p>Demikian artikel tentang, cara pengendalian hama dan penyakit tanaman lada secara tepat. Semoga dapat menjadi referensi bagi Anda.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penyakit Tanaman Lada &#8211; Lada atau disebut juga dengan merica merupakan tanaman rempah yang biasa digunakan sebagai bumbu masak. Selain digunakan sebagai bumbu, lada juga biasa dimanfaatkan sebagai minyak asiri dan minyak wangi (parfum). Dimana parfum dari lada memiliki aroma yang wangi dan khas. Berbeda dengan tanaman kebun lainya, lada memiliki bentuk pohon semak memanjat, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":231,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"rank_math_lock_modified_date":false,"footnotes":""},"categories":[111],"tags":[357,343],"class_list":["post-229","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi","tag-hama","tag-lada"],"blocksy_meta":{"styles_descriptor":{"styles":{"desktop":"","tablet":"","mobile":""},"google_fonts":[],"version":6}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=229"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3701,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229\/revisions\/3701"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/231"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=229"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=229"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.santuynesia.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=229"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}