<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>
<channel>
	<title>Saham &#8211; Blog SantuyNesia</title>
	<atom:link href="https://www.santuynesia.com/blog/tag/saham/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.santuynesia.com/blog</link>
	<description>Macul Ilmu</description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 Dec 2021 01:26:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
	<url>https://www.santuynesia.com/blog/santuyuploads/2021/09/santuynesia-favicon.png</url>
	<title>Saham &#8211; Blog SantuyNesia</title>
	<link>https://www.santuynesia.com/blog</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kesalahan dalam Berinvestasi yang Harus Dihindari</title>
		<link>https://www.santuynesia.com/blog/kesalahan-dalam-berinvestasi</link>
					<comments>https://www.santuynesia.com/blog/kesalahan-dalam-berinvestasi#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Nov 2021 04:01:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Risk Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yukuis.com/?p=248</guid>
					<description><![CDATA[Kesalahan dalam Berinvestasi &#8211; Otoritas Jasa Keuangan dalam materi edukasinya (20/11/2020) menyatakan bahwa salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan adalah dengan berinvestasi. Namun terkadang investor salah, sehingga investasinya tidak membawa hasil yang diharapkan. Menurut OJK, tujuh kesalahan yang sering dilakukan dalam berinvestasi harus dihindari, tetapi disini kita menambahkan beberapa kesalahan dalam berinvestasi, apa aja itu? [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Kesalahan dalam Berinvestasi</strong> &#8211; Otoritas Jasa Keuangan dalam materi edukasinya (20/11/2020) menyatakan bahwa salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan adalah dengan berinvestasi. Namun terkadang investor salah, sehingga investasinya tidak membawa hasil yang diharapkan.</p>
<p>Menurut OJK, tujuh kesalahan yang sering dilakukan dalam berinvestasi harus dihindari, tetapi disini kita menambahkan beberapa kesalahan dalam berinvestasi, apa aja itu? yuk simak penjelasannya berikut ini.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Kesalahan dalam Berinvestasi</h2>
<h3 class="wp-block-heading">1. Tidak Ada Tujuan Investasi yang Jelas</h3>
<p>Tujuan investasi berkaitan erat dengan jumlah uang yang diharapkan di masa depan, pengembalian investasi dan tingkat risiko investasi yang bersedia Anda tanggung.</p>
<p>Jika Anda memiliki tujuan berinvestasi dana kuliah yang akan memakan waktu 10-15 tahun dari sekarang, maka berinvestasi di saham atau reksa dana adalah pilihan yang sangat baik.</p>
<p>Sebagian besar investor, terutama pemula, tidak memiliki tujuan investasi yang jelas. “Kebanyakan hanya ikut-ikutan, tapi tidak mengerti alat yang digunakan untuk investasi. Karena investasi butuh tujuan yang jelas,” kata OJK.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Risiko yang Tidak Realistis</h3>
<p>Kesalahan dalam berinvestasi, risiko selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan hasil investasi. Semakin banyak uang yang diinvestasikan, semakin besar risikonya. Banyak investor yang tergiur dengan tingkat keuntungan yang tidak masuk akal, terutama ketika risiko yang ditawarkan kecil.</p>
<p>&#8220;Jangan sampai tergiur dengan janji keuntungan yang tidak wajar,&#8221; OJK menekankan.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Memiliki Harapan yang Terlalu Tinggi</h3>
<p>Aturan utama yang berlaku untuk berinvestasi adalah bahwa semakin tinggi risiko yang bersedia Anda ambil, semakin tinggi pengembaliannya.</p>
<p>Dengan demikian, tidak mungkin untuk mengandalkan pengembalian yang tinggi jika Anda ragu untuk berinvestasi pada instrumen berisiko tinggi.</p>
<h3 class="wp-block-heading">4. Analisis yang Tidak Memadai</h3>
<p>Sebelum memutuskan untuk berinvestasi, Anda harus membuat perhitungan yang jelas dan memadai. Silakan lakukan ini sebelum menginvestasikan dana yang cukup besar ke dalam kendaraan investasi.</p>
<p>“Perlu dianalisa secara cermat keuntungan yang mungkin diperoleh dalam jangka waktu tertentu dan risiko yang mungkin terjadi,” jelas OJK.</p>
<h3 class="wp-block-heading">5. Salah Menilai Kinerja</h3>
<p>Seperti yang telah kami jelaskan di atas, masing-masing instrumen investasi memberikan pengembalian jangka panjang yang optimal, misalnya saham, dan ada juga instrumen yang memberikan hasil investasi optimal dalam jangka pendek hingga 3 tahun.</p>
<p>Jika saat ini Anda sedang berinvestasi di pasar saham dan melihat bahwa setelah 1-2 tahun imbal hasil berfluktuasi dan cenderung menurun, jangan panik tentang hal ini.</p>
<p>Fluktuasi saham sangat wajar dalam jangka pendek, sehingga jenis investasi ini lebih cocok untuk tujuan keuangan jangka panjang di atas 10 tahun.</p>
<h3 class="wp-block-heading">6. Periode Investasi, Instrumen dan Tujuannya Tidak Sesuai</h3>
<p>Setiap alat investasi memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ada jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Pilih instrumen yang sesuai dengan kebutuhan kita. Sesuaikan jangka waktu investasi dan tujuan yang ingin kita capai.</p>
<h3 class="wp-block-heading">7. Tidak Mengevaluasi Investasi Secara Teratur</h3>
<p>Sementara investasi berorientasi pada masa depan, investasi perlu ditinjau atau dinilai secara teratur.</p>
<p>Kami menyarankan Anda secara teratur dan terus-menerus memeriksa investasi Anda setidaknya setiap 3 bulan sekali.</p>
<h3 class="wp-block-heading">8. Tidak Ada Diversifikasi Investasi</h3>
<p><a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Diversifikasi" target="_blank" rel="noreferrer noopener nofollow">Diversifikasi</a> berarti pendistribusian portofolio yang dimiliki oleh berbagai jenis risiko investasi yang ada guna mengurangi tingkat potensi kerugian.</p>
<p>Misalnya, Anda mendistribusikan investasi dalam obligasi, saham, real estat, pinjaman peer-to-peer, dan logam mulia.</p>
<p>Ketika satu instrumen investasi jatuh nilainya, jenis investasi lain dapat mengimbangi kerugian yang Anda terima.</p>
<p>Tentu saja, Anda tidak bisa mendapatkan hal seperti ini jika Anda menginvestasikan semua uang Anda hanya dalam satu jenis kendaraan investasi.</p>
<p>Jangan sampai kita menaruh semua uang kita pada satu alat investasi. Karena jika alat tersebut mengalami kerugian, maka resikonya akan lebih besar.</p>
<h3 class="wp-block-heading">9. Jangan Fokus Pada Rencana yang Sudah Kamu Buat</h3>
<p>Kesalahan dalam berinvestasi menurut OJK, kedisiplinan diperlukan untuk menghindari hal-hal yang mengaburkan tujuan investasi kita. Karena pemeliharaan lebih sulit daripada memperoleh kekayaan.</p>
<h3 class="wp-block-heading">10. Anda Salah dalam Memperhitungkan Risiko</h3>
<p>Tidak ada investasi yang tidak mengandung resiko sama sekali, semua jenis investasi pasti memiliki resiko dan yang membedakan hanyalah tingkat resiko yang dimiliki.</p>
<p>Jika Anda masih muda dan memiliki profil risiko yang agresif, tidak ada salahnya untuk mengambil risiko yang lebih tinggi untuk mendapatkan return yang lebih tinggi.</p>
<p>Jika Anda tidak yakin dengan jenis risiko yang akan Anda ambil, Anda harus mengetahui <a href="https://santuynesia.com/risiko-investasi" target="_blank" data-type="post" data-id="243" rel="noreferrer noopener nofollow">resiko investasi</a> dan tujuan investasi serta jangka waktu investasi Anda sebelumnya.</p>
<h3 class="wp-block-heading">11. Membuat keputusan terlalu cepat</h3>
<p>Ini adalah kesalahan umum yang sering dilakukan oleh investor pemula. Semangat yang terlalu mulia tanpa pertimbangan yang matang bisa membuat kita salah mengambil keputusan. “Pada akhirnya itu menghambat peluang Anda untuk mendapatkan pengembalian yang tinggi,” kata OJK.</p>
<h3 class="wp-block-heading">12. Anda Tidak Memperhitungkan Inflasi Tahunan</h3>
<p>Inflasi adalah kenaikan umum harga dalam perekonomian, yang menyebabkan penurunan daya beli penduduk. Ini adalah salah satu alasan mengapa nilai uang Anda menurun setiap tahun.</p>
<p>Jika Anda mengabaikan inflasi dan hanya menyimpan uang Anda di tabungan, jangan heran jika uang Anda jatuh nilainya.</p>
<p>Tingkat inflasi rata-rata di Indonesia adalah antara 3% dan 8% per tahun, dan sebagai investor yang cerdas, Anda harus dapat menemukan kendaraan investasi yang memiliki tingkat pengembalian lebih tinggi daripada tingkat inflasi.</p>
<p>Nahh, demikianlah ulasan kesalahan dalam berinvestasi yang harus dihindari, semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua.</p>
<hr class="wp-block-separator"/>
<p>Ref: koinworks, bareksa.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.santuynesia.com/blog/kesalahan-dalam-berinvestasi/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Risiko Investasi yang Perlu Diketahui Para Investor</title>
		<link>https://www.santuynesia.com/blog/risiko-investasi</link>
					<comments>https://www.santuynesia.com/blog/risiko-investasi#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Nov 2021 02:01:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Investor]]></category>
		<category><![CDATA[Risiko Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yukuis.com/?p=243</guid>
					<description><![CDATA[Risiko Investasi &#8211; Setiap investasi tentu memiliki risikonya masing-masing, baik itu reksa dana, instrumen obligasi, saham atau lainnya. Risiko dapat diartikan sebagai suatu kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan sebelumnya. Dalam dunia investasi ada istilah “high risk – high return” yang artinya semakin tinggi risikonya maka semakin banyak keuntungan yang bisa didapatkan. Oleh [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Risiko Investasi</strong> &#8211; Setiap investasi tentu memiliki risikonya masing-masing, baik itu reksa dana, instrumen obligasi, saham atau lainnya.</p>
<p>Risiko dapat diartikan sebagai suatu kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan sebelumnya.</p>
<p>Dalam dunia investasi ada istilah “high risk – high return” yang artinya semakin tinggi risikonya maka semakin banyak keuntungan yang bisa didapatkan.</p>
<p>Oleh karena itu, ketika Anda memutuskan untuk mulai berinvestasi, Anda perlu memahami apa saja risikonya.</p>
<p>Dengan demikian, Anda akan dapat memilih instrumen yang tepat, dengan mempertimbangkan tujuan keuangan, kondisi keuangan, dan ketahanan Anda terhadap risiko yang ada.</p>
<p>Pasalnya, investasi bisa menjadi tidak efektif jika tidak disesuaikan dengan faktor-faktor di atas.</p>
<p>Sayang, bukan?</p>
<p>Oiya, sebelumnya kita sudah bahas juga tentang memilih <a href="https://santuynesia.com/investasi-saham-atau-reksa-dana" target="_blank" data-type="post" data-id="217" rel="noreferrer noopener nofollow">investasi saham atau reksa dana</a>. Kalau begitu, mari kita mulai membahas risiko yang ada di dunia investasi selanjutnya!</p>
<h2 class="wp-block-heading">Risiko Investasi yang Perlu Diketahui Para Investor</h2>
<h3 class="wp-block-heading">1. Risiko Suku Bunga</h3>
<p>Risiko suku bunga adalah risiko yang timbul dari penurunan nilai relatif aset berbunga (seperti pinjaman atau obligasi) yang disebabkan oleh kenaikan suku bunga.</p>
<p>Perubahan suku bunga pasar tentunya akan mempengaruhi pendapatan investasi atau imbal hasil yang diperoleh.</p>
<p>Biasanya, bahkan jika suku bunga naik, harga obligasi berbunga tetap akan turun, dan sebaliknya.</p>
<p>Metode tertua yang masih digunakan untuk mengukur risiko suku bunga adalah dengan menggunakan maturitas obligasi.</p>
<p>Misalnya, suku bunga obligasi pada umumnya adalah 8-10%, tetapi kemudian pemerintah menerbitkan sukuk untuk penjualan eceran dengan suku bunga hingga 12%.</p>
<p>Dengan demikian, investor pasti akan lebih memilih sukuk ini untuk ritel.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Risiko Pasar</h3>
<p>Berikutnya adalah risiko investasi berdasarkan fluktuasi pasar atau fluktuasi nilai aset bersih (NAB).</p>
<p>Fluktuasi ini disebabkan oleh perubahan emosional di pasar keuangan seperti saham dan obligasi.</p>
<p>Perubahan dapat terjadi karena beberapa faktor seperti krisis ekonomi, masalah, kerusuhan, spekulasi, dan perubahan politik.</p>
<p>Risiko investasi ini juga sering disebut sebagai risiko sistematis, artinya risiko ini tidak dapat dihindari dan investor pasti akan mengalaminya terlepas dari profil risikonya.</p>
<p>Padahal, adanya risiko ini bisa menyebabkan investor kehilangan modal.</p>
<p>Misalnya ada masalah dengan kesehatan presiden suatu negara, hal ini dapat menyebabkan fluktuasi nilai mata uang negara tersebut terhadap dolar, kemudian naik.</p>
<p>Saat Anda dihadapkan pada fluktuasi pasar, tidak perlu panik dan segera menarik dana investasi Anda.</p>
<p>Pasalnya, penurunan atau peningkatan aset seperti itu sebenarnya tidak terjadi setiap saat.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Risiko Likuiditas</h3>
<p>Risiko investasi semacam ini biasanya bersumber dari kesulitan dalam menyediakan dana dalam jangka waktu tertentu.</p>
<p>Misalnya, ada salah satu pihak yang tidak dapat membayar kewajibannya pada saat jatuh tempo secara tunai.</p>
<p>Sementara suatu pihak dapat dikatakan memiliki harta yang cukup berharga untuk melunasi utangnya, apabila harta tersebut tidak dapat diubah menjadi uang tunai, maka harta tersebut dapat dikatakan tidak likuid.</p>
<p>Adapun hal ini dapat terjadi jika pihak yang berhutang tidak dapat menjual hartanya karena tidak ada pihak lain yang berminat untuk membelinya.</p>
<p>Namun perlu dicatat bahwa risiko likuiditas berbeda dengan penurunan tajam harga aset.</p>
<p>Jika terjadi penurunan harga aset, pasar menganggap aset tersebut tidak berharga.</p>
<p>Sedangkan jika terjadi risiko likuiditas, hal ini dapat terjadi karena tidak ada pihak yang tertarik untuk menukar atau membeli aset karena sulitnya menggabungkan kedua belah pihak.</p>
<p>Akibatnya, risiko likuiditas biasanya paling mungkin terjadi di pasar negara berkembang atau pasar dengan volume rendah.</p>
<p>Risiko ini terkait dengan percepatan penerbitan surat berharga perusahaan yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder.</p>
<h3 class="wp-block-heading">4. Risiko Inflasi</h3>
<p>Risiko inflasi juga dikenal sebagai risiko daya beli, yang menunjukkan bahwa nilai moneter suatu investasi saat ini tidak akan setinggi di masa depan karena perubahan daya beli akibat inflasi.</p>
<p>Akibatnya, risiko investasi ini dapat merugikan daya beli masyarakat untuk berinvestasi akibat kenaikan harga rata-rata konsumen.</p>
<p>Risiko inflasi ini pada umumnya muncul pada saat investor memegang uang tunai atau berinvestasi pada instrumen yang berhubungan dengan inflasi.</p>
<p>Nilai uang atau aset mereka dapat dikurangi dengan inflasi.</p>
<p>Misalnya, jika seorang investor memiliki 40% dari portofolio tunai $100.000.000 dan inflasi 5%, nilai tunai portofolio akan kehilangan $20.000.000 per tahun ($100 juta x 0,4 x 0,05) karena inflasi.</p>
<h3 class="wp-block-heading">5. Risiko Negara</h3>
<p>Risiko ini juga bisa disebut risiko politik.</p>
<p>Alasannya didasarkan pada kondisi politik negara dan karena perubahan ketentuan peraturan perundang-undangan yang menyebabkan penurunan pendapatan.</p>
<p>Padahal, bukan tidak mungkin jika investasi yang dilakukan pada akhirnya hilang begitu saja atau merugi akibat perubahan ketentuan peraturan perundang-undangan.</p>
<p>Oleh karena itu, jika ada investor yang ingin menginvestasikan uangnya di luar negeri, ada baiknya melihat kondisi politik di dalam negeri.</p>
<p>Jika kondisi politik baik, juga akan berdampak positif pada jalur investasi di masa depan.</p>
<h3 class="wp-block-heading">6. Risiko Valas atau Nilai Tukar Mata Uang</h3>
<p>Risiko nilai tukar mata uang asing (Forex) adalah risiko yang disebabkan oleh perubahan nilai tukar di pasar.</p>
<p>Perubahan ini tidak lagi sesuai dengan harapan, terutama ketika nilainya dikonversi ke mata uang lokal.</p>
<p>Kesederhanaan risiko investasi ini bersumber dari fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain.</p>
<p>Biasanya, risiko nilai tukar mata uang asing disebut sebagai risiko nilai tukar atau risiko nilai tukar mata uang asing.</p>
<p>Misalnya, seorang investor ingin melakukan investasi yang mengharuskannya menggunakan dolar AS atau mata uang dolar AS.</p>
<p>Pada saat yang sama, nilai tukar rupee terhadap dolar AS melemah, sehingga investor harus membelanjakan rupee lebih banyak daripada saat rupee terapresiasi.</p>
<p>Sebab, penguatan dolar terhadap rupiah bisa membawa kerugian.</p>
<h3 class="wp-block-heading">7. Risiko Re-investment</h3>
<p>Risiko investasi terakhir yang harus diwaspadai investor adalah reinvestasi, atau risiko yang terkait dengan pengembalian aset keuangan, yang mengharuskan mereka melakukan tindakan reinvestasi.</p>
<p>Saat menginvestasikan kembali, ada kemungkinan lebih besar bahwa arus kas investasi akan membawa pengembalian yang lebih rendah ketika diinvestasikan kembali dalam sarana investasi lain.</p>
<p>Misalnya, seorang investor memiliki portofolio obligasi dengan kupon 3,45% untuk jangka waktu 5 tahun.</p>
<p>Jadi, lima tahun kemudian, imbal hasil obligasi turun menjadi 2,55%.</p>
<p>Namun kabar baiknya adalah karena pendapatan dari obligasi yang dimiliki investor termasuk dalam tingkat bunga tetap, investor menerima seluruh pembayaran bunga 5% dan jumlah pokok investasi sesuai kesepakatan.</p>
<p>Masalah akan muncul ketika seorang investor menginvestasikan kembali uangnya untuk membeli obligasi lain dari kelas yang sama (yang saat ini memiliki tingkat bunga 2,55%), jadi tentu saja dia tidak lagi menerima bunga kupon 5%, tetapi akan menerima tingkat bunga saat ini.</p>
<p>Jadi, ketika ingin berinvestasi kembali, investor perlu benar-benar memahami bagaimana mengelola atau <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_investasi" target="_blank" rel="noreferrer noopener nofollow">memanajemen risiko investasi</a> ini.</p>
<p>Nahh, demikianlah penjelasanan tentang risiko investasi yang harus diketahui sebelum memulai berinvestasinya. Semoga ulasan ini bermanfaat untuk kita semua.</p>
<hr class="wp-block-separator"/>
<p>Ref: koinworks.com/blog/risiko-investasi-yang-perlu-diketahui</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.santuynesia.com/blog/risiko-investasi/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pilih Investasi Saham atau Reksa Dana? Manakah yang Cocok Untukmu</title>
		<link>https://www.santuynesia.com/blog/investasi-saham-atau-reksa-dana</link>
					<comments>https://www.santuynesia.com/blog/investasi-saham-atau-reksa-dana#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Nov 2021 18:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Reksadana]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yukuis.com/?p=217</guid>
					<description><![CDATA[Saat berinvestasi saham atau reksa dana, ada 3 faktor utama yang perlu diperhatikan. Faktor-faktor tersebut adalah risiko yang bersedia Anda terima, tingkat pengembalian yang diinginkan, dan biaya yang bersedia Anda tanggung saat berinvestasi. Hal terpenting yang harus Anda ketahui adalah cara kerja kedua produk investasi yang berbeda ini. Pada reksa dana, investasi atau aset Anda [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Saat berinvestasi saham atau reksa dana, ada 3 faktor utama yang perlu diperhatikan.</p>
<p>Faktor-faktor tersebut adalah risiko yang bersedia Anda terima, tingkat pengembalian yang diinginkan, dan biaya yang bersedia Anda tanggung saat berinvestasi.</p>
<p>Hal terpenting yang harus Anda ketahui adalah cara kerja kedua produk <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Investasi" target="_blank" rel="noreferrer noopener nofollow">investasi</a> yang berbeda ini.</p>
<p>Pada reksa dana, investasi atau aset Anda akan didiversifikasi atau dipecah menjadi sejumlah instrumen dan ditempatkan pada lebih dari satu perusahaan.</p>
<p>Dengan demikian, ketika nilai saham suatu perusahaan menurun, nilai investasi tidak serta merta turun.</p>
<p>Investasi Anda akan tetap aman karena Anda masih memiliki investasi pada instrumen atau perusahaan lain oleh manajer investasi.</p>
<p>Tidak demikian halnya dengan saham. Ketika Anda membeli saham di perusahaan, investasi atau aset Anda hanya akan ditempatkan di satu perusahaan.</p>
<p>Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa hal yang perlu Anda ketahui dan perhatikan pada saat memilih antara berinvestasi saham atau reksa dana. Pilih investasi saham atau reksa dana? Berikut pertimbangannya!</p>
<h2 class="wp-block-heading">Perbedaan Dasar antara Saham dan Reksa Dana</h2>
<p>Saat berinvestasi di saham, ini berarti Anda memiliki kepentingan kepemilikan di salah satu perusahaan. Saham tersebut akan dibagikan dividen secara triwulanan atau tahunan.</p>
<p>Tidak hanya itu, Anda juga bisa mendapatkan keuntungan dengan menjual kembali saham di pasar. Ketika harga beli lebih rendah dari harga jual, margin keuntungan akan dihasilkan.</p>
<p>Di sisi lain, reksa dana adalah kumpulan produk investasi yang dikelola oleh manajer investasi, yang dapat berupa saham, obligasi, obligasi, dan deposito berjangka.</p>
<p>Saat berinvestasi saham, Anda dapat memilih jenis perusahaan berdasarkan kategori tertentu.</p>
<p>Anda juga dapat menentukan strategi investasi yang Anda inginkan, apakah Anda ingin mempertahankannya dalam jangka panjang atau mengambil perdagangan jangka pendek.</p>
<p>Namun pada umumnya, investasi saham dirancang untuk jangka panjang, yakni melebihi 10 tahun.</p>
<p>Sedangkan untuk reksa dana investasi, jangka waktu investasi sangat bergantung pada jenis reksa dana yang diperoleh.</p>
<p>Jika Anda membeli reksa dana pasar uang, maka investasi tersebut dirancang untuk jangka waktu pendek, yaitu kurang dari 2 tahun. Reksa dana investasi ditujukan untuk investasi jangka panjang mulai dari 7 tahun.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Tingkat Pengembalian yang diterima</h2>
<p>Penting untuk dicatat bahwa berinvestasi di saham jauh lebih berisiko daripada berinvestasi di reksa dana. Dengan risiko yang sangat tinggi ini, wajar saja jika Anda bisa mendapatkan pengembalian investasi yang lebih tinggi.</p>
<p>Berinvestasi di reksa dana jauh lebih aman karena dana yang dimiliki investor akan dikelola oleh manajer investasi.</p>
<p>Setiap keputusan tentang produk investasi mana yang akan dibeli atau berapa persentase untuk jenis investasi tertentu, manajer investasi akan membuat untuk investor.</p>
<p>Selain itu, reksa dana juga terdiversifikasi di dalamnya, yang juga mengurangi risiko.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Waktu yang dibutuhkan untuk Memahami Investasi</h2>
<p>Anda juga perlu mempertimbangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari cara berinvestasi. Ketika datang untuk berinvestasi di saham, Anda perlu memahami setiap perusahaan dan membaca laporan keuangan mereka.</p>
<p>Anda juga perlu memahami situasi ekonomi saat ini dan bagaimana hal itu akan mempengaruhi perusahaan dan industri.</p>
<p>Di sisi lain, berinvestasi di reksa dana tidak membutuhkan waktu lama untuk memahami semua seluk-beluk perusahaan.</p>
<p>Yang perlu Anda lakukan adalah memilih produk investasi yang sesuai dengan jangka waktu investasi dan profil risiko Anda.</p>
<p>Dikombinasikan dengan reksa dana pilihan yang dikelola oleh manajer investasi terpercaya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Berinvestasi Saham atau Reksa Dana, mana yang tepat untuk Anda?</h2>
<p>Jadi investasi mana yang tepat untuk Anda? Jika Anda seorang investor yang agresif, mau mengambil risiko tinggi, berinvestasi dalam jangka panjang dan meluangkan waktu untuk memahami seluk beluk perusahaan, maka saham mungkin menjadi pilihan yang tepat untuk Anda.</p>
<p>Namun, jika Anda seorang investor yang memiliki sedikit pengalaman investasi, takut akan risiko investasi, dan tidak memiliki banyak dana untuk memulai pendanaan, maka reksa dana bisa menjadi pilihan.</p>
<p>Pada umumnya, <a href="https://santuynesia.com/investasi-saham-atau-reksa-dana" data-type="post" data-id="217" rel="nofollow noopener" target="_blank">investasi saham atau reksa dana</a> dikenal dengan high risk dan high return, artinya return dan risikonya sama besar.</p>
<p>Demikianlah penjelasan tentang investasi saham atau reksa dana, semoga Anda bisa menentukan pilihan yang tepat. </p>
<hr class="wp-block-separator"/>
<p>Ref: koinworks.com/blog/investasi-saham-atau-reksa-dana</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.santuynesia.com/blog/investasi-saham-atau-reksa-dana/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apa Itu Aset Digital? Yuk Cari Tahu Pentingnya Memiliki Aset Digital</title>
		<link>https://www.santuynesia.com/blog/aset-digital</link>
					<comments>https://www.santuynesia.com/blog/aset-digital#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Oct 2021 14:32:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Aset Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Crypto]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Reksadana]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://santuynesia.com/?p=3367</guid>
					<description><![CDATA[Apa itu Aset Digital &#8211; Apakah Anda sudah memiliki aset digital? Sekedar infromasi bahwa selain aset fisik, aset digital juga penting untuk dimiliki. Jika Anda belum mengetahui apa sebenarnya aset digital itu dan Anda tidak tahu apakah selama ini Anda sudah memilikinya atau tidak, maka Anda berada di tempat yang benar untuk memenuhi rasa ingin [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Apa itu Aset Digital </strong>&#8211; Apakah Anda sudah memiliki aset digital? Sekedar infromasi bahwa selain aset fisik, aset digital juga penting untuk dimiliki. </p>
<p>Jika Anda belum mengetahui apa sebenarnya aset digital itu dan Anda tidak tahu apakah selama ini Anda sudah memilikinya atau tidak, maka Anda berada di tempat yang benar untuk memenuhi rasa ingin tahu Anda.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Apa Itu Aset Digital?</h2>
<p>Aset Digital adalah terlintas di pikiran Anda bahwa aset digital itu adalah sebuah aset yang hanya bisa dimiliki melalui perantara teknologi. Misalnya saham, reksa dana, Bitcoin atau apapun yang bisa dibeli secara online. Betul?</p>
<p>Daripada bingung, saya akan jelaskan. Aset digital adalah segala macam tulisan maupun media yang dikemas menjadi sumber binary, termasuk hak menggunakannya. File digital yang tidak menyertakan hak di atas tersebut, tidak dipertimbangkan untuk disebut sebagai aset digital.</p>
<p>Aset digital biasanya dikategorikan menjadi sebuah gambar dan multimedia, disebut aset media dan aset tulisan.</p>
<p>Aset digital merupakan data-data yang akan selalu hadir seiring dengan kemajuan teknologi, terlepas dari device tempat aset digital itu sendiri disimpan atau dibuat. Pemahaman mengenai aset digital ini penting untuk Anda ketahui, karena manajemen aset digital belakangan ini sedang naik daun.</p>
<p>Siaran konvensional secara perlahan-lahan berubah menjadi sebuah bentuk digital yang canggih. Atas dasar itulah pertumbuhan industri manajemen aset digital melonjak. </p>
<p>Sebut saja perusahaan besar dan ternama seperti Microsoft, Apple, Samsung dan masih banyak lainnya yang secara konsisten mengembangkan perusahaan mereka untuk menyediakan manajemen aset digital pihak ketiga melalui repositori berbasis web.</p>
<p>Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa aset digital ini adalah gambar maupun tulisan yang berada dalam sebuah perangkat teknologi, di mana aset ini bisa dikemas dalam bentuk binary.</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah apa saja yang termasuk aset digital itu? Yuk kita simak jenis aset digital yang mungkin selama ini sudah Anda miliki.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Jenis Aset Digital</h2>
<p>Sekarang waktunya Anda mengecek apakah Anda telah memiliki aset digital yang selama ini tidak Anda sadari.</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Investasi Cryptocurrency</h3>
<p>Jenis aset digital ini masih jadi kontroversi di Indonesia sendiri, karena masih belum ada aturan yang jelas mengenai aset digital dalam bentuk cryptocurrencyini sendiri.</p>
<p>Apa itu cryptocurrency? Cryptocurrency adalah sebuah mata uang dalam bentuk digital yang pertama kali diperkenalkan oleh Satoshi Nakamoto, penemu produk mata uang kripto yang dikenal dengan nama Bitcoin.</p>
<p>Mengapa Bitcoin diciptakan? Bitcoin ini dibuat dengan harapan bahwa setiap orang di dunia bebas untuk melakukan bertransaksi tanpa harus melibatkan lembaga keuangan negara, supaya lebih efektif dan efisien.</p>
<p>Dikarenakan para pengembang Bitcoin melihat adanya selisih dari kurs mata uang yang tidak tentu setiap saat. Untuk mengoptimalkan transaksi secara internasional, akhirnya mata uang digital berupa Bitcoin dibuat.</p>
<p>Bitcoin sekarang menjadi sebuah mata uang dengan nilai tertinggi di dunia, bahkan Bitcoin masih unggul bila disandingkan dengan Poundsterling ataupun Dollar Amerika. Apakah Anda telah mempunyai Bitcoin? Jika belum, jangan khawatir masih banyak jenis aset digital lainnya yang mungkin sudah Anda miliki dari dulu.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Investasi Reksa Dana dan Saham</h3>
<p>Investasi jenis reksa dana dan saham ini merupakan sebuah jenis investasi yang mungkin sudah sering Anda dengar. Lalu, bagaimana membuat investasi reksa dana dan saham ini bisa menjadi bentuk aset digital?</p>
<p>Pada zaman yang sudah serba digital ini, pasti Anda sudah familiar dengan pembelian reksa dana maupun saham secara online. Kini sudah banyak marketplace yang menyediakan transaksi reksa dana secara online. Salah satunya adalah Bareksa.com, sebuah marketplace untuk reksa dana.</p>
<p>Kemudian, bagaimana dengan saham? Anda juga dapat membeli saham secara online. Kini, sudah banyak firma di Indonesia yang melayani transaksi secara online. </p>
<p>Anda dapat mengajukan pembuatan akun saham ke suatu firma, lalu Anda bisa memantau, top up, atau bahkan menjual saham melalui aplikasi firma tersebut berbasis online.</p>
<p>Apakah Anda telah mempunyai reksa dana dan saham dalam bentuk online? Saya yakin, ada banyak pembaca yang telah mempunyainya.</p>
<p>Namun, bagaimana jika Anda belum mempunya reksa dana dan saham? Masih adakah investasi berupa aset digital lainnya? Tentu saja masih ada, tetapi jangan sampai ketipu dengan <a href="https://santuynesia.com/ciri-ciri-investasi-bodong" target="_blank" rel="noreferrer noopener nofollow">investasi bodong</a> yaa.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Kerja Sama dengan E-Commerce atau Online Shop</h3>
<p>Anda pasti sudah sering mendengar bagaimana influencer di-endorse oleh sebuah perusahaan e-commerce maupun oleh online shop. Para influencer ini membuat sebuah review produk dengan menyertakan link untuk menuju akun toko maupun e-commerce tersebut. </p>
<p>Dari situ, para influencer ini mendapatkan pemasukan. Tidak tanggung-tanggung, ketika sang influencer ini meng-upload satu foto berisi produk endorsement, ia bisa dibayar hingga ratusan bahkan jutaan rupiah.</p>
<p>Anda bukan seorang influncer? Tenang saja, jika Anda sudah memiliki akun Facebook, Instagram, Twitter, Linkedin dan lain sebagainya, berarti Anda sudah memiliki sebuah aset digital.</p>
<p>Melalui media sosial yang Anda miliki, Anda sudah bisa membangun sebuah image yang menarik untuk disimak oleh followers Anda. Usahakan sesuai dengan hobi atau passion Anda, misalkan Anda hobi dengan make up, Anda bisa membuat sebuah review produk kosmetik.</p>
<p>Jika Anda senang menggunakan motor, Anda bisa membangun image pecinta motor dan perabotannya dan melakukan review produk-produk yang berkaitan dengan motor tersebut. Pasti ada saja orang yang tertarik dengan review Anda, dan ini akan menambah jumlah angka followers Anda.</p>
<p>Bagaimana akun itu menjadi sebuah aset digital? Seperti yang Anda tahu, jika Anda telah memiliki banyak followers tentu Anda akan mempunyai pasar yang sangat besar saat Anda <a href="https://santuynesia.com/cara-promosi" target="_blank" rel="noreferrer noopener nofollow">mempromosikan produk</a>.</p>
<p>Tidak hanya online shop kecil yang akan tertarik dengan Anda, perusahaan-perusahaan e-commerce pun tidak tanggung-tanggung akan meminta Anda untuk mereview produk mereka dan tentunya dibayar.</p>
<p>Apakah Anda sudah mempunyai akun media sosial yang telah saya sebutkan tadi? Jika belum, sekarang tugas Anda adalah membuat akun Anda semenarik mungkin untuk para pengguna akun di media sosial.</p>
<h3 class="wp-block-heading">4. Banner Iklan</h3>
<p>Apakah Anda memiliki sebuah blog maupun akun YouTube yang Anda isi dengan konten original yang Anda buat sendiri? Tentunya Anda sudah tahu ‘kan kalau Anda dapat meraih keuntungan dari memiliki blog atau akun YouTube?</p>
<p>Saat Anda sedang membaca blog orang atau menonton video di YouTube, Anda akan menemukan banyak sekali banner iklan di dalamnya. Setiap penayangan iklan tersebut, para blogger maupun youtuber tersebut akan mendapatkan bayaran. </p>
<p>Apalagi jika orang-orang tersebut atau penonton mengklik iklan yang Ada di konten mereka tersebut. Jika Anda ingin membantu para blogger dan youtuber favorit Anda, Anda cukup mengklik iklan yang tersedia di setiap kontennya.</p>
<p>Jika Anda sudah memiliki blog atau akun YouTube, kini waktunya Anda cari cara bagaimana menambahkan iklan di web Anda. Uang akan menghampiri tiap kali ada orang yang membaca page atau menonton video Anda.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Pentingnya Memiliki Aset Digital</h2>
<p>Sekarang Anda tahu bahwa Anda telah mempunyai aset digital tersebut. Lalu apakah Anda masih bingung mengapa penting memiliki aset digital?</p>
<p>Silahkan simak ulasan pentingnya memiliki aset digital di bawah ini.</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Membangun Personal Branding</h3>
<p>Salah satu aset digital yang sudah pasti dimiliki oleh banyak orang adalah akun media sosial. Sadar atau tidak, media sosial memegang peran yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat.</p>
<p>Tidak dapat dipungkiri, bahwa media sosial memiliki pengaruh besar dalam menentukan personal branding kita di mata masyarakat, khususnya followers atau teman di akun-akun media sosial tersebut.</p>
<p>Contoh saja, dalam proses perekrutan karyawan, sudah banyak perusahaan yang melakukan tahap penilaian kualitas lewat akun media sosial para pelamarnya. Jika Anda adalah pemilik toko online, pelanggan Anda juga bisa mengetahui bagaimana Anda mengelola pelanggan dengan melihat interaksi Anda dengan followers Anda.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Alternatif Income Tambahan</h3>
<p>Bayangkan jika Anda memiliki banyak followers di akun media sosial Anda diikuti dan sering dilihat oleh banyak orang. Anda pasti banyak ditawari untuk mereview sebuah barang. Tidak hanya online shop yang akan menghubungi Anda untuk melakukan kerja sama, tetapi perusahaan besar pun bisa saja meminta bantuan Anda untuk mereview produk mereka.</p>
<p>Anda cukup mengunggah foto produk atau jasa yang ditawarkan oleh mereka yang membayar Anda, dan Anda dapat menambah income untuk kehidupan Anda.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Tidak Mengganggu Pekerjaan Utama</h3>
<p>Dengan memiliki sebuah aset digital, Anda tidak perlu khawatir apakah dengan mengurus aset digital membuat pekerjaan utama kalian terganggu. Tenang saja, itu semua tidak akan terjadi. Bahkan malah banyak yang resign dari kantor dan lebih memilih fokus membangun aset digital mereka.</p>
<p>Jika Anda ingin memutuskan untuk mengiklankan produk di akun media sosial, Anda bisa melakukannya di waktu luang di luar pekerjaan utama kalian. Jika aset digital anda sudah besar, Anda hanya tinggal menikmati hasilnya saja. Anda tidak perlu menambah pekerjaan Anda lagi.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Buatlah Aset Digital Anda Sekarang Juga!</h2>
<p>Dengan zaman yang semakin serba digital, sudah saatnya Anda membangun aset digital Anda untuk menambah penghasilan Anda tanpa membuang waktu dan tentunya Anda pun bisa untung dengan memiliki aset digital tersebut.</p>
<p>Apabila aset digital Anda belum memberikan imbal hasil dalam bentuk uang, tetapi jika Anda memiliki aset digital maka Anda dapat membangun personal branding untuk diri Anda yang akan berguna di kemudian hari.</p>
<p>Setelah membaca artikel ini, saya yakin Anda telah mengetahui bahwa <a href="https://santuynesia.com/aset-digital" rel="nofollow noopener" target="_blank">aset digital</a> sangat penting untuk di zaman sekarang. Bagikan informasi ini kepada teman atau saudara Anda yang belum mengetahui tentang apa itu aset digital dan pentingnya memiliki aset digital untuk masa depan Anda. Semoga bermanfaat!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.santuynesia.com/blog/aset-digital/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
