<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>
<channel>
	<title>Metode Pembelajaran &#8211; Blog SantuyNesia</title>
	<atom:link href="https://www.santuynesia.com/blog/tag/metode-pembelajaran/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.santuynesia.com/blog</link>
	<description>Macul Ilmu</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Mar 2022 15:31:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
	<url>https://www.santuynesia.com/blog/santuyuploads/2021/09/santuynesia-favicon.png</url>
	<title>Metode Pembelajaran &#8211; Blog SantuyNesia</title>
	<link>https://www.santuynesia.com/blog</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pengertian Kinerja Guru &#038; Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Pendidikan</title>
		<link>https://www.santuynesia.com/blog/pengertian-kinerja-guru</link>
					<comments>https://www.santuynesia.com/blog/pengertian-kinerja-guru#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Mar 2022 00:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kinerja Guru]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://santuynesia.com/?p=4518</guid>
					<description><![CDATA[Kinerja guru&#160;menentukan tingkat keberhasilan sistem pembelajaran mulai perencanaan sampai evaluasi dalam mencapai tujuan pendidikan. Makna dari kinerja itu berhubungan dengan apa yang dilakukan dan pengaruhnya terhadap hasil kerja. Berdasarkan para ahli banyak yang menyatakan bahwa kinerja berasal dari kata performance yang artinya tingkat keberhasilan selama periode tertentu. Kinerja dapat dimaknai pula dengan prestasi kerja. Pengertian [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Kinerja guru&nbsp;</strong>menentukan tingkat keberhasilan sistem pembelajaran mulai perencanaan sampai evaluasi dalam mencapai tujuan pendidikan. Makna dari kinerja itu berhubungan dengan apa yang dilakukan dan pengaruhnya terhadap hasil kerja.</p>
<p>Berdasarkan para ahli banyak yang menyatakan bahwa kinerja berasal dari kata performance yang artinya tingkat keberhasilan selama periode tertentu. Kinerja dapat dimaknai pula dengan prestasi kerja.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Pengertian Kinerja Guru</h2>
<p>Sebelum membahas pengertian kinerja, akan diulas terlebih dahulu mengenai arti guru. Pengertian guru merupakan tenaga profesional yang bertugas mendidik, membimbing, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Dimulai dari pendidikan formal usia dini hingga pendidikan menengah dibimbing oleh guru.</p>
<p>Dalam <a href="https://santuynesia.com/fakta-dunia-perkuliahan" target="_blank" data-type="post" data-id="2295" rel="noreferrer noopener nofollow">dunia pendidikan</a> terdapat Standar Nasional Pendidikan yang salah satunya menegaskan tenaga pendidik harus memiliki standar kinerja. Saat guru bertugas, kinerjanya harus memenuhi standar agar menghasilkan tujuan pendidikan yang sesuai harapan. Kemajuan bangsa ditentukan oleh aspek pendidikan.</p>
<p>Oleh sebab itulah, guru bertanggungjawab atas masa depan bangsa. Standar kinerja tenaga pendidik dapat tercapai dengan mengembangkan profesional yang diperlukan diantaranya,&nbsp;<em>knowledge</em>,&nbsp;<em>ability</em>,&nbsp;<em>skill</em>,&nbsp;<em>attitude</em>, dan&nbsp;<em>habitat</em>.&nbsp;<em>Knowledge</em>&nbsp;disebut sebagai ranah pengetahuan yang artinya suatu hal yang diketahui yang diperoleh dengan cara membaca atau berdasarkan pengalaman.</p>
<p><em>Ability</em> disebut sebagai kemampuan. Perlu diketahui bahwa kemampuan itu terdiri dari 2 unsur yaitu kemampuan yang diperoleh dengan cara sengaja mempelajari dan kemampuan yang alamiah atau bakat.</p>
<p><em>Skill</em>&nbsp;disebut keterampilan yang artinya suatu unsur penerapan yang dipelajari. Sedangkan,&nbsp;<em>attitude</em>&nbsp;atau disebut sebagai sikap diri yang artinya hasil dari sebuah proses yang berkaitan dengan kepribadian dan bermanfaat untuk sepanjang hidup. Sikap diri tersebut dapat dimaknai bahwa pendidikan terbaik adalah dengan mengawali pendidikan memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu</p>
<h2 class="wp-block-heading">Kriteria Kinerja Guru</h2>
<p>Mulai dari penilaian kinerja karyawan perusahaan hingga standar kinerja tenaga pendidik terdapat kriterianya. Kompetensi guru ketika bekerja inilah yang dinamakan sebagai kinerjanya. Terdapat beberapa susunan Standar Kompetensi Guru (SKG) yang terdiri dari 4 poin yaitu penguasaan guru terhadap bidang studi yang diajarkan, pemahaman peserta didik, penguasaan pembelajaran, dan pengembangan kepribadian serta profesionalisme.</p>
<p>Penyusunan Standar Kompetensi Guru (SKG) ini berfungsi sebagai landasan penilaian kinerja tenaga pendidik. Apabila guru memenuhi SKG tersebut, maka penilaiannya dapat disimpulkan memenuhi standar. Pengukuran kinerja seseorang berdasarkan apa yang dikerjakan ketika menjalankan tugas sebagai guru. Perilaku yang seharusnya dilakukan guru disebut sebagai standar kinerja guru.</p>
<p>Guru harus memiliki kemampuan profesional dalam penguasaan materi. Selain itu, penting untuk bisa menyesuaikan diri dengan peserta didik atau pekerjaannya, serta memiliki kepribadian yang berkembang atau disebut dengan dinamis.</p>
<p>Adapun terdapat kewajiban tenaga pendidik yang sesuai dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional. Kewajiban yang harus dimiliki tenaga pendidik atau guru diantaranya, mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, dan bermakna. Memiliki komitmen mengembangkan mutu pendidikan dan dapat memberikan teladan juga termasuk kewajiban penting yang harus dilakukan seorang guru.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Kinerja Guru sebagai Harapan Pendidikan</h2>
<p>Harapan dari Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 adalah mengubah paradigma pola kinerja tenaga pendidik yang semulanya pembelajaran didominasi oleh guru menjadi berpusat pada peserta didik. Guru diposisikan sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran.</p>
<p>Bukan berarti guru hanya memberikan tugas semata pada peserta didik, melainkan juga berinteraksi dengan siswa. Membangun suasana interaksi antar siswa juga merupakan tugas guru dalam menciptakan suasana kelas yang ideal. Dalam hal ini guru dituntut untuk mengembangkan kreativitas kelas peserta didik pada proses pembelajarannya. Jadi dalam hal ini guru harus terus meningkatkan kemampuannya dan terus menjadi kepribadian yang berkembang.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Potensi Guru</h2>
<p>Sebenarnya guru mempunyai potensi yang tinggi dalam berkreasi untuk meningkatkan kinerjanya. Namun, potensi yang dimiliki tidak selalu menunjukkan perkembangan yang sebagaimana mestinya. Pengembangan kinerja guru harus terus dilakukan untuk memperbaiki mutu pendidikan.</p>
<p>Tidak berkembangnya kinerja pendidik disebabkan oleh adanya faktor tertentu. Seringkali ditemui di lapangan, guru tidak mencerminkan keadaan yang seharusnya baik karena faktor internal maupun faktor eksternal. Seperti halnya guru lebih menekuni usaha sampingannya daripada profesinya sebagai guru.</p>
<p>Bahkan, ada yang ditemukan secara totalitas menekuni usaha sampingannya tersebut. Kenyataan inilah yang wajib diperhatikan pemerintah dan perlu diperbincangkan faktor penyebabnya agar ditemukan solusinya.</p>
<p>Dengan mencari faktor penyebabnya, maka hambatan pengembangan kinerja bisa diminimalisir.  Alhasil, guru dapat melakukan pengembangan kinerja dari waktu ke waktu. Jadi pada intinya mencari akar permasalahan ini sangat penting untuk mencapai kelancaran pencapaian tujuan.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Pendidikan</h2>
<p>Kinerja itu bersifat multidimensi, sehingga mencakup banyak faktor yang mempengaruhi. Pada prinsipnya, faktor tersebut terdiri dari intrinsik (dari dalam/ personal individu) dan ekstrinsik (dari luar). Faktor intrinsik atau dari dalam itu diantaranya, faktor pengetahuan, keterampilan, motivasi, dan peran.</p>
<p>Sedangkan faktor ekstrinsik atau dari luar terdiri dari kinerja kelompok dan organisasi. Umumnya kinerja individu akan mempengaruhi kinerja kelompok dan organisasi. Tim kerja atau dalam organisasi akan memiliki kinerja yang&nbsp; bagus jika dilaksanakan oleh SDM yang kompeten, baik dalam segi pengetahuan, keterampilan, motivasi, hingga kepuasan kerja.</p>
<p>Kinerja organisasi ini dipengaruhi oleh pemimpin yang membawahinya dalam mengatur bawahannya. Memberikan dorongan atau motivasi berupa penghargaan itu sangat penting. Menciptakan tim kerja yang nyaman juga dapat mendorong motivasi guru. Tidak hanya itu, kinerja organisasi juga dipengaruhi oleh teknologi. Mekanisme kerja, dana, hingga peralatan yang mendukung.</p>
<p>Demi meningkatkan mutu pendidikan yang lebih baik harus ada kerjasama antar tenaga pendidik dalam suatu organisasi. Suatu tim bisa bekerja sama untuk mendiskusikan suatu permasalahan dan menemukan solusi demi meningkatkan mutu. Kinerja guru harus terus dikembangkan dengan dorongan motivasi baik dari atasan maupun sesama rekan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.santuynesia.com/blog/pengertian-kinerja-guru/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Metode Demonstrasi : Pengertian, Kelebihan &#038; Kekurangan</title>
		<link>https://www.santuynesia.com/blog/pengertian-metode-demonstrasi</link>
					<comments>https://www.santuynesia.com/blog/pengertian-metode-demonstrasi#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2022 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Demonstrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Demonstrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Pembelajaran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://santuynesia.com/?p=4514</guid>
					<description><![CDATA[Metode demonstrasi adalah salah satu teknik mengajar dengan memperagakan suatu benda atau alat yang menggambarkan suatu proses atau kejadian. Adapun peraga tersebut juga digunakan sebagai bagian dari materi pelajaran. Pengertian lain mengenai metode pembelajaran Demonstrasi adalah mengajar dengan menggunakan peragaan guna memperjelas sebuah Pengertian atau memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik. Kegiatan demonstrasi dapat dilakukan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Metode demonstrasi </strong>adalah salah satu teknik mengajar dengan memperagakan suatu benda atau alat yang menggambarkan suatu proses atau kejadian. Adapun peraga tersebut juga digunakan sebagai bagian dari materi pelajaran. </p>
<p>Pengertian lain mengenai metode pembelajaran Demonstrasi adalah mengajar dengan menggunakan peragaan guna memperjelas sebuah Pengertian atau memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik.</p>
<p>Kegiatan demonstrasi dapat dilakukan oleh guru dari mata pelajaran tersebut maupun orang lain yang memiliki keahlian di bidang Mata pelajaran itu. Umumnya metode ini digunakan dalam Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), namun tidak menutup kemungkinan pelajaran lain juga menggunakan Cara ini.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Elemen Dalam Memahami Metode Demonstrasi</h2>
<p>Agar pelaksanaan <a href="https://santuynesia.com/model-pembelajaran" target="_blank" data-type="post" data-id="3480" rel="noreferrer noopener nofollow">metode pembelajaran</a> ini dapat berhasil, maka setidaknya 4 elemen di bawah ini harus dipenuhi, yaitu:</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Media Peraga</h3>
<p>Media ini merupakan unsur penting yang harus Ada dalam Metode demonstrasi. Alat peraga juga harus dapat dilihat dengan jelas oleh peserta yang dalam proses demonstrasi. Alat yang digunakan bisa berupa gambar, benda, ilustrasi, miniatur, alat laboratorium dan benda lainnya. Pada beberapa materi, manusia juga dapat dijadikan sebagai peraga, misalnya cara salat yang benar pada Pendidikan Agama Islam.</p>
<p>Peraga juga dapat berupa benda asli maupun tiruan. Asalkan peraga tiruan telah dibuat sedemikian rupa agar benar-benar menyerupai benda aslinya. Apabila menggunakan gambar atau ilustrasi, maka gambar yang detail akan sangat membantu penjelasan serta pemahaman.</p>
<p>Alat Peraga juga tidak terbatas jumlahnya, bisa satu atau beberapa tergantung jenis Demonstrasi. Misalnya saja untuk demonstrasi langkah-langkah dalam membuat suatu benda, maka alat Peraga yang dibutuhkan bisa banyak, mulai dari bahan, alat hingga produk akhir.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Materi Penjelasan Runtut</h3>
<p>Selain alat Peraga visual, dibutuhkan juga dukungan penjelasan berupa suara. Penjelasan diperlukan guna menyampaikan detail informasi yang tidak tertulis pada alat Peraga. Sebaiknya materi penjelasan telah dipersiapkan lebih dulu agar bisa runtut dan tidak melompat-lompat serta relevan. Alasannya, penjelasan yang tidak runtut berisiko menyebabkan misinformasi yang disampaikan.</p>
<p>Selain itu, mempersiapkan lebih dulu materi akan membantu dalam estimasi waktu agar Demonstrasi tidak berjalan melebih jam pelajaran. Metode demonstrasi untuk satu materi sebaiknya juga dilakukan dalam satu waktu yang sama, agar pemahaman anak didik terhadap materi lebih baik.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Demonstrator</h3>
<p>Tugas demonstrator adalah menyampaikan penjelasan terkait alat Peraga. Umumnya guru akan menjadi demonstrator dalam menjelaskan materi. Namun, dapat juga perannya digantikan oleh orang lain. Syarat utama seseorang menjadi demonstrator adalah menguasai materi serta memahami alat Peraga dengan baik. Selain itu, demonstrator juga harus menguasai cara penyampaian dalam bahasa yang baik dan jelas agar mudah dipahami oleh peserta.</p>
<p>Pada beberapa pembelajaran mandiri, anak didik sebagai peserta juga dapat menjadi demonstrator, tetapi di bawah pengawasan guru. Cara seperti ini memotivasi anak didik untuk mempelajari materi lebih dulu sebelum dibawakan di kelas. anak didik akan menjadi lebih paham dengan materi Demonstrasi. Namun risiko dari cara ini adalah timbulnya misinformasi karena pemahaman yang kurang.</p>
<h3 class="wp-block-heading">4. Evaluasi Metode Demonstrasi</h3>
<p>Evaluasi adalah elemen penting dari setiap metode pembelajaran. Fungsinya untuk mengetahui sejauh mana materi yang didemonstrasikan dapat dipahami anak didik. Evaluasi juga Ada beragam bentuknya, seperti Tanya jawab, pengulangan kegiatan demonstrasi, maupun kuis. Pilihan jenis evaluasi tergantung pada guru untuk menilai mana yang efektif.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Kelebihan Metode Demonstrasi</h2>
<p>Metode pembelajaran ini sering digunakan karena dapat memberi manfaat baik secara psikologis dan pedagogis bagi anak didik, serta bermanfaat bagi guru juga. Berikut ini adalah manfaat atau kelebihan dari metode demonstrasi.</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Perhatian Anak Didik Terpusat, Sehingga Lebih Mudah Memahami Materi</h3>
<p>Alat peraga yang digunakan dalam demonstrasi akan menjadi pusat perhatian dari anak didik, karena bentuk visual umumnya secara psikologis lebih mudah menjadi titik fokus. Dengan demikian, selama pembelajaran, konsentrasi anak didik akan meningkat, sehingga materi lebih mudah diserap.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Proses Belajar Yang Lebih Terarah</h3>
<p>Metode pembelajaran ini membutuhkan persiapan matang sebelum dapat dilaksanakan. Dengan demikian, seluruh isi materi telah dipersiapkan dan terarah. Selain itu, alat peraga tidak hanya berfungsi sebagai obyek pengamatan, tetapi juga mengarahkan materi secara fokus sehingga tidak melebar.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Materi Lebih Berkesan Atau Melekat Lebih Lama Di Ingatan Anak Didik</h3>
<p>Proses Pembelajaran dengan menggunakan alat peraga akan lebih menarik dan menyenangkan bagi anak didik. Terutama jika mereka turut dilibatkan secara aktif. Pengalaman dari demonstrasi akan lebih berkesan dan lebih mudah diingat anak didik.</p>
<h3 class="wp-block-heading">4. Memudahkan Guru Dalam Menjelaskan Materi Dan Meminimalkan Kesalahan</h3>
<p>Alat peraga akan membantu guru mengingat penjelasan dan materi secara runtut. Guru juga tidak perlu bingung menggambarkan obyek atau benda yang diamati sehingga tidak menimbulkan pemahaman berbeda bagi anak didik.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Kelemahan Metode Demonstrasi</h2>
<p>Sama seperti metode pembelajaran lainnya, metode ini juga memiliki keterbatasan, antara lain :</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Media Tidak Terlihat Jelas Oleh anak didik Atau Terjadi Kegagalan</h3>
<p>Ukuran alat peraga yang tidak sesuai dengan kapasitas anak didik keseluruhan dapat berpengaruh pada jumlah anak didik yang dapat melihat alat peraga. Pada kelas yang besar, anak didik di bangku bagian belakang akan kesulitan melihat alat peraga.</p>
<p>Dampaknya, pemahaman menjadi tidak merata. Apalagi jika alat peraga mengalami kegagalan selama proses demonstrasi. Inilah mengapa diperlukan persiapan matang untuk melakukan metode demonstrasi.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Tidak Semua Materi Dapat Diperagakan</h3>
<p>Keterbatasan lain dari metode ini adalah tidak semua materi dapat didemonstrasikan atau efektif menggunakan peraga, sehingga tidak dapat diterapkan di semua mata pelajaran. Misalnya saja pelajaran aljabar pada matematika. Metode lain akan lebih efektif digunakan untuk menyampaikan materi ini.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Kemampuan Demonstrator Sangat Menentukan Hasil Pembelajaran</h3>
<p>Metode demonstrasi perlu dilakukan oleh orang yang benar-benar menguasai materi. Meskipun alat peraga memenuhi syarat, apabila tidak dijelaskan dengan baik juga tidak dapat dipahami dengan baik oleh siswa. Penguasaan materi bukan hanya sebatas isi penjelasan namun juga cara penyampaian. Apabila demonstrator menggunakan bahasa yang tidak jelas atau terlalu sulit, maka anak didik akan menjadi bosan dan kehilangan fokus selama pelajaran.</p>
<h3 class="wp-block-heading">4. Waktu Persiapan dan Kendala Biaya Metode Demonstrasi</h3>
<p>Metode ini membutuhkan persiapan yang matang untuk menghindari adanya kegagalan selama proses Pembelajaran. Selain itu, penyediaan alat peraga juga membutuhkan biaya. Dengan demikian, guru perlu membuat perencanaan secara menyeluruh sebelum memutuskan menggunakan metode ini.</p>
<p>Metode pembelajaran berperan untuk mempermudah penyampaian materi oleh guru kepada anak didik. Guru perlu mempertimbangkan kesesuaian metode dengan materi, serta melakukan evaluasi atas efektivitas penerapannya berdasarkan pengalaman sebelumnya.</p>
<p>Keberhasilan penggunaan setiap metode pun bisa berbeda pada setiap kelas tergantung pada berbagai faktor. Sama halnya dengan metode demonstrasi, guru perlu melakukan persiapan serta tak lupa memotivasi siswa untuk ikut berperan aktif dalam proses pembelajaran.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.santuynesia.com/blog/pengertian-metode-demonstrasi/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengertian Hasil Belajar, Faktor, dan Macam-macam Hasil Belajar</title>
		<link>https://www.santuynesia.com/blog/pengertian-hasil-belajar-faktor-dan-macamnya</link>
					<comments>https://www.santuynesia.com/blog/pengertian-hasil-belajar-faktor-dan-macamnya#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Mar 2022 06:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://santuynesia.com/?p=4494</guid>
					<description><![CDATA[Pengertian hasil belajar menurut para ahli sangat luas dan bermacam-macam. Namun dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah adanya perubahan perilaku siswa. Terutama dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai  hasil dari interaksi, proses, dan evaluasi belajar yang merupakan bagian dari proses pembelajaran. Pengertian hasil belajar erat kaitannya dengan perubahan perilaku, yang mana Perubahan  tersebut seharusnya dapat diukur dengan berbagai [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Pengertian hasil belajar </strong>menurut para ahli sangat luas dan bermacam-macam. Namun dapat disimpulkan bahwa <strong>hasil belajar</strong> adalah adanya perubahan perilaku siswa. Terutama dari segi <a href="https://santuynesia.com/pendekatan-kognitif-dalam-pembelajaran-pada-anak" target="_blank" data-type="post" data-id="3762" rel="noreferrer noopener nofollow">kognitif</a>, afektif, dan psikomotor sebagai  hasil dari interaksi, proses, dan evaluasi belajar yang merupakan bagian dari proses pembelajaran.</p>
<p><strong>Pengertian hasil belajar </strong>erat kaitannya dengan perubahan perilaku, yang mana Perubahan  tersebut seharusnya dapat diukur dengan berbagai bentuk indikator, misalnya nilai hasil evaluasi. Hasil ini akan menjadi cerminan keberhasilan dari sebuah proses <a href="https://santuynesia.com/model-pembelajaran" target="_blank" data-type="post" data-id="3480" rel="noreferrer noopener nofollow">pembelajaran</a>. Pada setiap anak, hasil akan berbeda karena kemampuan dan karakter yang berbeda.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Faktor Internal yang Mempengaruhi Hasil Belajar</h2>
<p>Faktor internal adalah hal-hal yang berkaitan dengan diri peserta didik sendiri, atau berasal dari dalam dirinya. Faktor tersebut antara lain:</p>
<h3 class="wp-block-heading">Faktor Psikologis</h3>
<p>Faktor psikologis adalah hal yang terkait dengan watak dan perilaku dasar dari peserta didik. Hal ini meliputi kecerdasan, bakat, minat, serta motivasi. Faktor ini adalah hal paling kuat yang mendorong peserta didik agar memiliki kemauan untuk belajar.</p>
<p>Peserta didik yang memiliki kecerdasan dan motivasi tinggi biasanya akan lebih mudah mengikuti proses pembelajaran. Selain mudah memahami materi yang diberikan juga tanggap dalam pemecahan masalah. Sedangkan minat dan bakat akan mengarahkan peserta didik pada bidang yang dikuasai.</p>
<p>Segala perbedaan Inilah yang menjadi alasan seseorang mungkin lebih unggul di bidang matematika, sementara yang lain di bidang bahasa. Namun faktor psikologis juga dapat dikembangkan seiring proses pembelajaran yang dilakukan. Terutama jika guru dapat memotivasi peserta didik dalam belajar.</p>
<h3 class="wp-block-heading">Faktor Fisiologis</h3>
<p>Faktor ini meliputi kondisi fisik peserta didik. Agar dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik, peserta didik harus sehat secara jasmani. Badan yang sehat membuat peserta didik berkonsentrasi selama proses pembelajaran, dan mereka cenderung menjadi aktif.</p>
<p>Selain kondisi jasmani yang bugar, panca indera peserta didik juga perlu bekerja dengan baik. Karena selama proses pembelajaran peserta didik harus melakukan pengamatan, seperti melihat, mendengar, serta merasakan kondisi di sekitar mereka.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Faktor Eksternal Yang Mempengaruhi Hasil Belajar</h2>
<p>Faktor eksternal adalah hal-hal di luar diri peserta didik yang mempengaruhi&nbsp;<strong>hasil belajar</strong>, yaitu:</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Faktor Sosial</h3>
<p>Faktor Sosial melibatkan adanya interaksi sosial, seperti keluarga, teman, dan guru. Hubungan sosial yang dimiliki peserta didik dapat mempengaruhi hasil dari proses pembelajaran. Pengaruhnya berkaitan dengan motivasi dan minat belajar dari peserta didik melalui dukungan yang diberikan.</p>
<p>Misalnya interaksi dengan keluarga, peserta didik yang mendapat perhatian dan dukungan dari orang tua umumnya lebih termotivasi saat belajar di sekolah. Sebaliknya, peserta didik yang tumbuh di tengah keluarga penuh konflik, hasil penilaiannya bisa menjadi rendah karena adanya stress atau tekanan yang dirasakan.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Faktor Non Sosial</h3>
<p>Faktor ini lebih mengarah pada lingkungan dan fasilitas yang digunakan untuk proses pembelajaran.&nbsp; Fasilitas yang digunakan peserta didik saat belajar tidak berarti harus menggunakan yang Mahal dan paling bagus, namun dapat memberi rasa nyaman. Perasaan nyaman tersebut akan meningkatkan fokus peserta didik.</p>
<p>Selain itu, dibutuhkan lingkungan yang tenang. Semakin dekat lokasi belajar dengan tempat yang menimbulkan suara berisik, semakin turun Pula konsentrasi peserta didik. Guru juga tidak akan dapat menjelaskan dengan baik, karena suaranya mungkin terganggu oleh kebisingan. Peserta didik yang berprestasi juga akan semakin meningkat <strong>hasil belajar</strong> apabila belajar di lingkungan lembaga pendidikan unggulan.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Model Penyampaian Materi</h3>
<p>Model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan tentu akan menimbulkan minat peserta didik, dibandingkan yang membosankan dan monoton. Pemilihan cara menyampaikan materi akan menentukan hasil dari proses pembelajaran bagi peserta didik. Hal ini juga berkaitan dengan kompetensi guru dalam menyampaikan materi.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Macam-Macam Hasil Belajar</h2>
<p>Sebuah proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila menunjukkan kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan berdasarkan pengertian hasil belajar<strong> </strong>dapat diketahui dari pemahaman konsep, keterampilan proses dan sikap. Berikut ini adalah penjelasannya:</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Aspek Kognitif</h3>
<p>Aspek kognitif meliputi kemampuan berpikir peserta didik, baik dalam memahami serta menggunakan materi yang telah dipelajari untuk menyelesaikan masalah. Konsep pemahaman yang disajikan di sini bukan sebatas mengetahui dan mengingat saja.</p>
<p>Lebih luas lagi, peserta didik seharusnya mampu menginterpretasikan kembali materi yang baru saja dipelajarinya. Dengan demikian apabila peserta didik juga mampu memecahkan suatu masalah dengan menggunakan materi tersebut. Guna mengukur kemampuan pemahaman peserta didik, dapat digunakan berbagai alat evaluasi, seperti tes atau kuis.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Aspek Psikomotor</h3>
<p>Aspek ini berhubungan dengan &nbsp;keterampilan yang dimiliki Setelah melalui proses pembelajaran. Lebih spesifik, aspek psikomotor lebih menitikberatkan pada kemampuan fisik atau gerakan koordinasi jasmani. Penilaian untuk aspek psikomotor mengalami perkembangan dari yang terendah hingga tertinggi melalui kemampuan dalam merespons gerakan.</p>
<p>Dimulai dengan respons dalam meniru, kesiapan, respons terpimpin, mekanisme, respons tampak kompleks, adaptasi hingga yang Paling tinggi adalah penciptaan. Karena berhubungan dengan gerakan jasmani, penilaian menggunakan ujian praktik sangat cocok untuk aspek ini.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Aspek afektif</h3>
<p>Aspek ini berkaitan dengan perilaku dan nilai peserta didik, seperti sikap dan minat. Sikap merupakan respons dari pemahaman yang baik. Peserta didik yang yang dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik umumnya mengalami perubahan sikap yang lebih baik. Hal ini berkaitan dengan bertambahnya pengetahuan yang dimiliki. Peserta didik akan memiliki kepekaan dan lebih tanggap pada nilai baik dan buruk dari suatu perilaku.</p>
<p>Metode yang digunakan untuk mengukur aspek ini juga berbeda dengan aspek sebelumnya. Sikap tidak dapat diukur melalui pemberian soal. Guru perlu melakukan observasi pada peserta didik, mengamati bagaimana perilaku peserta didik di dalam dan di luar kelas.</p>
<p>Syarat yang diperlukan adalah guru perlu mengetahui sikap peserta didik sebelumnya agar dapat menentukan adanya perubahan. Metode lain untuk mendukung observasi adalah pelaporan diri. Metode ini memerlukan instrumen yang nantinya bisa diisi oleh peserta didik.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Berbagai Hasil Belajar Dalam Penilaian</h2>
<p>Selain macam-macam hasil tersebut, jenis hasil penilaian juga terbagi menjadi 3, yaitu : tes formatif, tes subsumatif dan tes sumatif. Tes formatif adalah evaluasi yang diadakan secara berkala untuk menilai hasil pembelajaran dari pokok bahasan tertentu.</p>
<p>Tes subsumatif dilakukan untuk mengevaluasi beberapa bahasan pokok secara bersamaan sehingga dapat dilakukan perbaikan proses pembelajaran selanjutnya, misal Ujian Tengah Semester. Sedangkan tes sumatif diadakan di akhir periode pembelajaran, misal ujian di akhir semester. Hasil penilaian di tes sumatif akan mencerminkan keberhasilan peserta didik mengikuti proses pembelajaran secara keseluruhan.</p>
<p>Demikian ulasan mengenai pengertian hasil belajar<strong> </strong>serta faktor dan macamnya. Hasil yang baik tentu tidak bisa diperoleh tanpa adanya perencanaan dan proses yang baik. Oleh karena itu, saat melakukan evaluasi pada hasil pembelajaran, bukan sebatas melihat hasil perubahan pada peserta didik. Namun juga perlu diperhatikan penyebab munculnya hasil tersebut agar hasil proses pembelajaran selanjutnya bisa lebih memuaskan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.santuynesia.com/blog/pengertian-hasil-belajar-faktor-dan-macamnya/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengertian dan Tahapan Model Pembelajaran Inkuiri</title>
		<link>https://www.santuynesia.com/blog/model-pembelajaran-inkuiri</link>
					<comments>https://www.santuynesia.com/blog/model-pembelajaran-inkuiri#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2022 11:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Inkuiri]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Model Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://santuynesia.com/?p=4350</guid>
					<description><![CDATA[Pembelajaran&#160;inkuiri&#160;memfokuskan perhatian pada kegiatan mencari dan menemukan oleh siswa sebagai subjek dan bukan objek dalam kegiatan ini. Secara singkatnya, pembelajaran model ini mendorong siswa untuk aktif. Pendidik tidak memberikan materi dalam setiap pokok bahasan secara langsung, melainkan menuntun peserta didik untuk mencari hingga menemukan jawabannya. Boleh dikatakan, siswa menjadi pihak yang mendominasi dalam pembelajaran inkuiri. Hal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Pembelajaran&nbsp;<strong>inkuiri</strong>&nbsp;memfokuskan perhatian pada kegiatan mencari dan menemukan oleh siswa sebagai subjek dan bukan objek dalam kegiatan ini. Secara singkatnya, pembelajaran model ini mendorong siswa untuk aktif. Pendidik tidak memberikan materi dalam setiap pokok bahasan secara langsung, melainkan menuntun peserta didik untuk mencari hingga menemukan jawabannya.</p>
<p>Boleh dikatakan, siswa menjadi pihak yang mendominasi dalam pembelajaran <strong>inkuiri</strong>. Hal ini selaras sebagaimana mekanisme yang ditekankan pada kurikulum terbaru, kurikulum 2013.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Pengertian Model Pembelajaran Inkuiri</h2>
<p>Dalam istilah lain, <strong>inkuiri</strong> sering pula disebut sebagai pembelajaran heuristic. Heuristic artinya ‘saya menemukan’, yang mana berasal dari bahasa Yunani. Hal ini sejalan dengan dasar utama mekanisme pembelajaran ini. Disini, guru tetap berperan, sebagai fasilitator yang menjadi jembatan untuk menghubungkan siswa dengan solusi.</p>
<p>Pendidik memancing siswa untuk terus berpikir logis dan kritis. Misal, dengan memberikan sebuah kasus nyata yang pernah terjadi. Pendidik hanya perlu menyampaikan rumusan masalah terkait kasus yang dipaparkan, kemudian terkait penjelasan serta solusi pemecahannya diserahkan kepada siswa.</p>
<p>Siswa pun diajak untuk mampu menyampaikan pendapatnya secara percaya diri. Sebagaimana pepatah bijak mengatakan, ketika benar, maka tidak perlu gentar. Kerangka berpikir mereka pun menjadi sistematis.</p>
<p>Model pembelajaran <strong>inkuiri </strong>dianggap lebih efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa. Apabila digambarkan, orang yang hanya menonton pasti memiliki pemahaman yang kurang dibandingkan dengan yang terjun langsung. Karenanya, melalui teknik ini, diharapkan siswa mampu mencerna materi dengan seksama, sehingga pemahaman tercipta dengan baik.</p>
<p>Hal tersebut sangat baik untuk mereka di masa mendatang. Mereka menjadi mampu memecahkan masalah dengan benar secara mandiri. Tidak hanya itu, solusi yang dibangun pun terbentuk dari pola pikir kritis dan logis, sehingga rasional ketika diimplementasikan. Maka dari itu, sejalan dengan sistem yang dipakai dalam kurikulum 2013, para pendidik sudah seharusnya menerapkan model pembelajaran ini.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Karakteristik Pembelajaran Inkuiri</h2>
<p><a href="https://santuynesia.com/model-pembelajaran" target="_blank" data-type="post" data-id="3480" rel="noreferrer noopener nofollow">Model pembelajaran</a> ini berniat untuk mengoptimalkan peran siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Jika biasanya guru menjadi center, lain halnya dengan teknik pembelajaran yang satu ini. Guru tetap berperan, tetapi siswa diarahkan untuk lebih aktif.</p>
<p>Pembelajaran ini mempunyai karakteristik tersendiri, yang membedakannya dengan metode lain. Adapun karakteristik dari pembelajaran heuristic ini, antara lain:</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Siswa Sebagai Center</h3>
<p>Dasar yang menjadi acuan dari pembelajaran heuristic adalah menempatkan siswa sebagai center. Sebagai fasilitator, pendidik diharuskan untuk mendorong peserta didik agar senantiasa aktif mencari sampai berhasil menemukan solusi yang paling tepat.</p>
<p>Siswa disini bukan bertindak sebagai objek, tetapi subjek. Karenanya, mereka akan menjadi pemeran utama dalam kegiatan pembelajaran. Jadi, mereka tidak hanya diam untuk menerima materi, tetapi aktif untuk menemukan intisari dari setiap pokok bahasan yang diberikan guru.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Menumbuhkan Sikap Percaya Diri</h3>
<p>Setelah menemukan substansi dari kompetensi yang dicari, guru harus mengajak siswanya untuk berani tampil di depan menyampaikan gagasannya. Dengan demikian, rasa percaya diri mereka pun meningkat.</p>
<p>Siswa menjadi percaya diri untuk mengungkapkan argumen yang benar dan sistematis. Selain itu, ketika gagasan yang disampaikan itu belum sepenuhnya benar, teman-temannya bisa memberikan tanggapan. Hal ini membuat para siswa untuk terus mengevaluasi apa yang harus diluruskan.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis</h3>
<p>Tujuan dari metode pembelajaran heuristic adalah untuk menumbuhkan pola pikir kritis logis, analitis, serta sistematis pada siswa. Dalam proses menemukan pemecahan masalah, peserta didik akan terus melakukan analisis terhadap kasus yang ditemui. Dengan begitu,mereka bisa mengembangkan kemampuan berpikir ke arah yang lebih tinggi. Dilandasi oleh kebiasaan berpikir kritis, mereka menjadi mampu mengambil keputusan yang tepat serta solutif, tepat untuk diterapkan. Materi dalam kompetensi dasar pun bisa dipahami sepenuhnya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Acuan Dalam Pembelajaran Inkuiri</h2>
<p>Biasanya, pembelajaran heuristic ini diimplementasikan melalui pembentukan kelompok-kelompok di dalam kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung. Pembelajaran yang demikian ini dinilai sangat efektif untuk diterapkan, sejalan dengan perkembangan psikologi pendidikan.</p>
<p>Metode pembelajaran heuristic menggunakan prinsip-prinsip tertentu dalam implementasinya. Berbagai prinsip tersebut yang kemudian melandasi berjalannya pembelajaran ini<strong>.</strong>&nbsp;Adapun prinsip yang menjadi acuan, sebagai berikut:</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Guru Bertanya Kepada Siswa</h3>
<p>Pertanyaan yang diberikan oleh guru membuat peserta didik berpikir kritis untuk menemukan penyelesaiannya. Proses ini pun termasuk dalam kegiatan belajar, yang mana mereka berpikir untuk mencari solusi. Sekaligus bisa menambah wawasan terkait topik yang ditanyakan.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Keterbukaan</h3>
<p>Dalam hal ini, guru memberikan ruang kepada peserta didik untuk mengembangkan hipotesis awal sebagai gagasannya. Nantinya, guru akan menuntun mereka supaya bisa membuktikan argumennya, apakah benar terbukti atau justru tidak. Guru tidak boleh membatasi pendapat yang diutarakan oleh siswa. Dengan syarat, pendapat tersebut tidak menyimpang dan dapat dipertanggungjawabkan.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Belajar Untuk Berpikir</h3>
<p>Artinya, rangkain pembelajaran heuristic difungsikan untuk mengoptimalkan kinerja otak. Siswa menjadi terbiasa berpikir kritis, logis, serta sistematis. Perlu ditekankan, jangan sampai mekanisme yang demikian justru membuat siswa berada di bawah tekanan. Guru berkewajiban untuk menjadikan para peserta didik menikmati seluruh proses belajar.</p>
<h3 class="wp-block-heading">4. Orientasi Terletak Pada Pengembangan Intelektual</h3>
<p>Tujuan utama yang ingin dicapai dalam model pembelajaran ini adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Maka dari itu, pembelajaran ini berorientasi pada proses, di samping hasilnya. Guru tidak menjadi sumber segala materi, tetapi fasilitator yang membantu siswa menemukan pemecahan masalah.</p>
<h3 class="wp-block-heading">5. Aktif Berinteraksi</h3>
<p>Pembelajaran heuristic mendorong siswa untuk aktif berinteraksi. Baik interaksi yang terjalin itu antar siswa, maupun siswa dengan guru. Mereka menjadi dapat mengasah kemampuan berkomunikasi. Yang mana skill ini merupakan kemampuan krusial yang harus dimiliki untuk kedepannya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Tahapan Menerapkan Pembelajaran Inkuiri</h2>
<p>Adapun langkah-langkah untuk mengimplementasikan metode pembelajaran ini, yaitu:</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Perumusan Masalah</h3>
<p>Langkah pertama yakni dengan merumuskan masalah. Siswa dituntut untuk mampu melihat seberapa pentingnya masalah yang muncul, hingga mampu merumuskannya dalam bentuk konkret.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Pengembangan Hipotesis</h3>
<p>Peserta didik diarahkan untuk bisa menyusun&nbsp; hipotesis menggunakan data-data yang akurat. Dengan begitu, mereka bisa menilai secara logis mengenai hipotesis yang dipaparkan.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Pengujian Jawaban</h3>
<p>Setelah hipotesis dibuat, peserta didik kemudian dituntun untuk menguji kebenaran dari hipotesis yang telah disampaikan. Pengujian ini dilakukan melalui penggunaan informasi sesuai keadaan di lapangan.</p>
<h3 class="wp-block-heading">4. Penarikan Kesimpulan</h3>
<p>Apabila proses pengujian telah selesai, mereka akan mendapati fakta terkait hipotesis sebelumnya. Rangkaian proses selanjutnya, guru akan membimbing peserta didik agar mampu membuat kesimpulan yang tepat.</p>
<h3 class="wp-block-heading">5. Pengimplementasian Kesimpulan</h3>
<p>Usai didapatkan kesimpulan yang tepat, tahapan selanjutnya adalah menerapkannya dalam kehidupan nyata.</p>
<p>Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, bisa disimpulkan bahwa dasar dalam pembelajaran&nbsp;<strong>inkuiri</strong>&nbsp;adalah menekankan agar siswa aktif selama kegiatan belajar. Hal ini tentu berdampak positif, yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa menjadi selaras. Karena itu, pembelajaran menjadi lebih bermakna, yang mana membuat siswa memiliki pemahaman mendalam terkait materi yang diajarkan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.santuynesia.com/blog/model-pembelajaran-inkuiri/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengertian dan Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kontekstual</title>
		<link>https://www.santuynesia.com/blog/model-pembelajaran-kontekstual</link>
					<comments>https://www.santuynesia.com/blog/model-pembelajaran-kontekstual#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Feb 2022 08:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kontekstual]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Model Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://santuynesia.com/?p=4347</guid>
					<description><![CDATA[Model pembelajaran kontekstual mempermudah siswa memahami makna dari materi berdasarkan pendekatan kehidupan nyata. Pelaksanaan kegiatan belajar pada Kurikulum 2013 seringkali menerapkan pembelajaran kontekstual. Tujuan pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar. Model ini dapat memperjelaskan kerangka konseptual materi. Pengertian Model Pembelajaran Kontekstual Pengertian&#160;model pembelajaran kontekstual&#160;merupakan suatu konsep materi yang dikaitkan dengan kehidupan nyata. Model ini [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Model pembelajaran kontekstual</strong> mempermudah siswa memahami makna dari materi berdasarkan pendekatan kehidupan nyata. Pelaksanaan kegiatan belajar pada Kurikulum 2013 seringkali menerapkan pembelajaran kontekstual. </p>
<p>Tujuan pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar. Model ini dapat memperjelaskan kerangka konseptual materi.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Pengertian Model Pembelajaran Kontekstual</h2>
<p>Pengertian&nbsp;<strong>model pembelajaran kontekstual</strong>&nbsp;merupakan suatu konsep materi yang dikaitkan dengan kehidupan nyata. Model ini sangat bermanfaat bagi siswa untuk lebih mendekatkan dengan kehidupan nyatanya. Sehingga, siswa lebih bisa memahami dan menerapkan ilmu pengetahuan yang dipelajari terhadap kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Dimungkinkan minat siswa juga akan meningkat akibat mengetahui kebermanfaatan ilmu yang dipelajarinya terhadap kehidupan nyata. Seorang siswa terkadang belum mampu memaknai suatu ilmu pengetahuan dikarenakan masih awam dengan apa yang sedang dibahas.</p>
<p>Oleh sebab itulah, siswa membutuhkan pendekatan dengan kehidupan nyata yakni melalui pembelajaran kontekstual untuk membentuk konsep, memaknai, dan generalisasikan materi.  Jadi ilmu pengetahuan tidak ditransfer dari guru ke siswa, melainkan siswa sendirilah yang membangunnya melalui berbagai pengalaman belajar.</p>
<p>Pembelajaran kontekstual mendorong siswa menghubungkan antar materi satu dengan lainnya. Sehingga, suatu topic tertentu tak terselesaikan sekali saja. Melainkan&nbsp; bisa ditindak lanjuti dengan belajar secara berkesinambungan.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kontekstual</h2>
<p>Dalam proses menggunakan metode pembelajaran kontekstual, guru lebih berperan pada segi penyiapan fasilitas daripada memberikan informasi. Pada prinsipnya guru berperan sebagai pengelola kelas dalam sebuah tim belajar bersama.</p>
<p>Gurulah yang memfasilitasi dan mengkondisikan berjalannya pembelajaran. Terdapat&nbsp; beberapa komponen yang terdapat dalam model ini diantaranya, konstruktivisme<em>, inquiry, modeling, learning community, refleksi</em>, dan&nbsp;<em>questioning</em>. Terdapat beberapa langkah pembelajaran kontekstual diantaranya sebagai berikut.</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Materi Pelajaran Dikaitkan dengan Contoh Nyata</h3>
<p>Tidak semua konsep dan istilah bahan materi pembelajaran sudah dipahami seluruh siswa. Setiap siswa akan menciptakan suatu gambar dalam bayangan pikirannya ketika mempelajari sesuatu. Apabila belum pernah menemui sesuatu yang sedang dipelajarinya, siswa tersebut akan kesulitan dalam mempelajari materi karena tidak bisa membayangkan konsep dalam pikirannya. Oleh sebab itulah, hal pertama dalam pembelajaran kontekstual ini adalah mengaitkan materi dengan kehidupan nyata.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Tunjukkan Manfaat Materi yang Sedang Dipelajari</h3>
<p>Siswa wajib mengetahui manfaat dari materi yang sedang dipelajari. Guru meyakinkan bahwa materi yang dibahas memberikan manfaat bagi kehidupan sehari-harinya. Manfaat yang jelas dan spesifik harus dirumuskan. Dengan memahami manfaat secara nyata, akan bisa mendorong semangat siswa untuk belajar.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Materi Terus Diulang dan Dikaitkan pada Kehidupan Sehari-hari Siswa</h3>
<p>Materi yang sudah dipelajari tak langsung berhenti begitu saja. Akan tetapi, adanya keberlanjutan pembelajaran yakni dengan evaluasi pembelajaran misalnya. Belajar tak hanya di kelas saja, melainkan adanya kesinambungan secara terus menerus, misalnya diberikan motivasi atau tugas yang mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari di sekitar siswa.</p>
<h3 class="wp-block-heading">4. Beri Kebebasan Setiap Siswa untuk Membangun Pengetahuannya</h3>
<p>Pengetahuan alangkah lebih baik dibangun oleh siswa sendiri, bukan ditransfer dari guru. Belajar melalui pengalaman akan lebih berkesan dan bermakna karena segala inderanya ikut terlibat dalam prosesnya. Sebaiknya, siswa tak dibatasi pengetahuan apa yang mau dipelajari. Semakin dalam siswa mempelajari materi,&nbsp; maka konstruksi pengetahuannya semakin bagus. Guru hanya memfasilitasi dan mengarahkan proses pembelajaran.</p>
<h3 class="wp-block-heading">5. Beri Kesempatan Siswa untuk Mengekspresikan Diri</h3>
<p>Hal ini dimaksudkan siswa bisa mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki. Setiap siswa memiliki cara tersendiri dalam mengekspresikan pikirannya. Sebagai tenaga pendidik, sebaiknya memberikan kebebasan dalam hal tersebut. Hargai&nbsp; setiap karya siswa dan arahkan jika apa yang dilakukan tidaklah benar.</p>
<h3 class="wp-block-heading">6. Tenaga Pendidik Memberikan Semangat</h3>
<p>Agar pembelajaran tidak sia-sia, maka harus ditekuni tanpa adanya paksaan. Pembelajaran yang didorong dengan kemauan yang kuat untuk memperdalam materi akan memberikan arti dan makna.</p>
<p><strong><a href="https://santuynesia.com/model-pembelajaran" target="_blank" data-type="post" data-id="3480" rel="noreferrer noopener nofollow">Model pembelajaran</a> kontekstual</strong> ini cocok diterapkan pada Kurikulum 2013. Pasalnya mendorong siswa membangun pengetahuannya sendiri. Pembelajaran memang dituntut berpusat pada siswa, namun juga terdapat kiat-kiat tertentu agar siswa bisa memahami materi walaupun harus membangun pengetahuan sendiri. Salah satu caranya, dengan pembelajaran kontekstual. Alhasil, mempermudah siswa mempelajari materi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.santuynesia.com/blog/model-pembelajaran-kontekstual/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Model Pembelajaran Inovatif</title>
		<link>https://www.santuynesia.com/blog/model-pembelajaran-inovatif</link>
					<comments>https://www.santuynesia.com/blog/model-pembelajaran-inovatif#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2022 13:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Model Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://santuynesia.com/?p=4325</guid>
					<description><![CDATA[Model pembelajaran inovatif&#160;merupakan sistem pembelajaran baru, yang mana pusat dari kegiatan ini adalah siswa atau peserta didik. Biasanya, pengajar seringkali mendominasi kegiatan belajar mengajar. Namun, dengan berbasis pembelajaran inovatif, hal tersebut tidak berlaku.&#160; Model pembelajaran inovatif&#160;mendorong siswa untuk senantiasa aktif mencari informasi hingga mampu menyampaikannya. Disini juga mereka diajarkan untuk saling bertukar pikiran dengan baik [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Model pembelajaran inovatif</strong>&nbsp;merupakan sistem pembelajaran baru, yang mana pusat dari kegiatan ini adalah siswa atau peserta didik. Biasanya, pengajar seringkali mendominasi kegiatan belajar mengajar. Namun, dengan berbasis pembelajaran inovatif, hal tersebut tidak berlaku.&nbsp;</p>
<p><a href="https://santuynesia.com/model-pembelajaran" target="_blank" data-type="post" data-id="3480" rel="noreferrer noopener nofollow">Model pembelajaran</a> inovatif&nbsp;mendorong siswa untuk senantiasa aktif mencari informasi hingga mampu menyampaikannya. Disini juga mereka diajarkan untuk saling bertukar pikiran dengan baik bersama teman sebaya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Mekanisme Model Pembelajaran Inovatif</h2>
<p>Sejalan dengan tujuannya untuk membangun keaktifan siswa,&nbsp;model pembelajaran inovatif&nbsp;diimplementasikan sesuai dengan pola pikir yang membantu peserta didik untuk memahami, melakukan pembentukan konsep kembali, sampai menyalurkan informasi baru yang didapatkannya melalui cara penyampaian yang benar. Dengan demikian, mereka dinilai akan lebih mendalami materi dalam proses belajar mengajar.</p>
<p>Jika semula peserta didik hanya menjadi objek dalam pembelajaran, tidak berlaku pada&nbsp;model pembelajaran inovatif<strong>.</strong>&nbsp;Mereka dituntut untuk berperan sebagai subjek dalam pembelajaran. Nilai-nilai positif pun diharapkan dapat terserap sempurna, sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Misal, sikap percaya diri untuk menyampaikan pendapat yang benar, kemandirian menuntaskan masalah, serta keberanian menjelaskan suatu hal kepada orang lain dengan tepat.</p>
<p>Dalam&nbsp;model pembelajaran inovatif, perubahan pada siswa terjadi melalui kemunculan struktur kognitif baru. Ditandai dengan hadirnya pemahaman mendalam dan utuh ketika mereka menerima informasi yang belum didapatkan sebelumnya. Hal yang demikian ini akan mendorong kenaikan komponen kognitif mereka, sehingga memungkinkan mereka untuk memikirkan kembali berbagai ide yang didapatkan sebelumnya.</p>
<p>Para peserta didik menjadi memiliki tanggung jawab atas pembelajaran yang dijalaninya. Mereka pun akan menjadi seorang pemikir yang mandiri serta pengembang konsep dengan terintegrasi. Pertanyaan yang diberikan kepada mereka mampu dikembangkan hingga mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan menantang secara berdikari.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Ciri-Ciri Model Pembelajaran Inovatif</h2>
<p>Pengaturan model pembelajaran yang mendukung peningkatan level kognitif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:</p>
<ul class="wp-block-list"><li>Memberikan peluang pada siswa untuk belajar berdasarkan tujuan yang telah ditentukan dan mengembangkan berbagai ide menjadi lebih luas.</li><li>Mendorong siswa menjadi pribadi yang otonom ketika belajar serta berdiskusi, sehingga mereka mampu menyusun kembali ide-ide yang telah dikembangkan, lalu mengambil kesimpulan dari permasalahan yang ada.</li><li>Adanya pengembangan paradigma siswa terkait pentingnya pesan apabila dunia bukanlah ruang yang sempit. Di dalamnya banyak pandangan yang berbeda-beda.</li><li>Memposisikan siswa sebagai pusat dalam pembelajaran. Kemudian penilaian yang dilakukan harus mampu mencitrakan konsep berpikir divergen siswa.</li></ul>
<p>Setiap tahapan dalam&nbsp;model pembelajaran inovatif&nbsp;mengikutsertakan periode yang mana pengetahuan mula para peserta didik didiskusikan secara eksplisit. Melalui diskusi kelas yang sekilas sama dengan negosiasi, guru memberikan sebuah gambaran untuk dikembangkan.</p>
<p>Saat pengetahuan awal para murid dihadapkan dengan gambaran yang dipaparkan oleh pendidik, strategi konflik kognitif berpeluang untuk berperan sebagai komponen utama. Mengenai hal tersebut, pemberdayaan pengetahuan siswa sejak awal merupakan cara yang paling tepat dalam pembelajaran inovatif.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Peran Guru Dalam Model Pembelajaran Inovatif</h2>
<p>Secara lebih khusus, guru berperan sebagai seorang pengajar yang ahli di bidangnya, manajer, serta mediator dalam model pembelajaran ini. Mengenai penjelasan dari masing-masing peran guru tersebut akan dijelaskan di bawah ini.</p>
<p>Dalam perannya sebagai pengajar ahli, seorang guru diharapkan mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang mendalam mengenai materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Kemudian, guru pun seharusnya memberikan waktu yang cukup kepada peserta didik ketika mereka membutuhkan figur guru.</p>
<p>Dengan begitu, semua yang menjadi pertanyaan, sekaligus apa yang ingin diutarakan oleh murid bisa terlaksana. Saat siswa menemui sebuah masalah, guru harus mampu memberikan jawaban sebagai solusi yang membangun atas problem yang muncul. Bisa pula memancing siswa dengan memberikan kunci pemecahan masalah, sehingga mereka akan berpikir kritis untuk mengembangkannya.</p>
<p>Yang tidak kalah pentingnya, guru juga diwajibkan mengarahkan siswa ketika mereka menemui keadaan sulit untuk meraih tujuan. Seorang guru harus mampu membuat kesulitan itu menjadi mudah.</p>
<p>Kemudian, terkait peran guru sebagai manajer. Hal ini menunjukkan bahwa adanya kewajiban bagi guru untuk melakukan monitoring terhadap masalah yang ditemui siswa. Selain itu, juga mengawasi sikap siswa terkait penggunaan waktu. Dengan begitu, siswa akan menjadi pribadi yang pintar juga berkarakter.</p>
<p>Selanjutnya, yaitu guru sebagai mediator. Layaknya mediator, seorang guru yang menjalankan&nbsp;program sekolah&nbsp;harus mampu menjadi perantara yang menghubungkan siswanya dalam proses transfer nilai-nilai positif. Guru pun akan menjadi penengah ketika muncul sebuah problem antar siswa. Selain itu, juga mengantarkan siswa untuk mampu memvisualisasikan yang ada di pikirannya. Dengan begitu, mereka akan berpikir kritis dan percaya diri menyampaikan argumen yang benar.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Jenis-Jenis Model Pembelajaran Inovatif</h2>
<p><strong>Model pembelajaran inovatif</strong>&nbsp; terdiri dari beberapa macam, yang mana sangat bermanfaat ketika diterapkan. Sebagai referensi, berikut akan diuraikan mengenai jenis dari&nbsp;model pembelajaran inovatif<strong>&nbsp;</strong>lengkap dengan penjelasannya. Dari semua model yang akan disampaikan, seluruhnya tepat untuk diimplementasikan. Yang tentunya semakin membuat siswa antusias mengikuti pembelajaran.</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Kooperatif<em>&nbsp;Numberd Heads Together</em></h3>
<p>Model jenis ini memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk saling bertukar ide serta mengolah jawaban yang paling benar. Tidak hanya itu, teknik pembelajaran yang dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992) ini pun mengantarkan para murid untuk bekerja sama dalam menyelesaikan permasalahan tertentu. Perlu diketahui bahwa model ini tepat untuk digunakan dalam semua mata pelajaran pada semua tingkatan peserta didik.</p>
<p>Tahapan dari model pembelajaran berbasis&nbsp;<em>Kooperatif Numberd Heads Together</em>, yaitu:</p>
<ul class="wp-block-list"><li>Peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok, yang mana setiap siswa yang tergabung dalam kelompok diberikan nomor urut. Pemberian nomor urut bisa secara acak maupun undian.</li><li>Pengajar memberikan tugas yang harus diselesaikan oleh masing-masing kelompok.</li><li>Dalam setiap kelompok, harus dipastikan bahwa semua anggota memahami jawaban yang telah disusun.</li><li>Guru memanggil salah satu siswa dari kelompok tertentu menggunakan nomor urut. Siswa yang dipanggil tersebut harus menjelaskan hasil diskusi kelompoknya.</li><li>Selanjutnya, kelompok lain diberikan kesempatan untuk menanggapi paparan yang telah disampaikan.</li></ul>
<h3 class="wp-block-heading">2. Kooperatif&nbsp;<em>Group to Group Exchange</em></h3>
<p>Gambaran umum dari metode pembelajaran ini yaitu antar kelompok saling bertukar informasi. Artinya, setiap kelompok akan menjelaskan topik yang dibahasnya kepada kelompok lain. dengan demikian, mereka akan saling bertukar pikiran dan menambah wawasan. Yang semula satu kelompok hanya membahas satu pokok bahasan menjadi memahami seluruh topik yang ada.</p>
<p>Berikut langkah-langkah untuk mengimplementasikan model pembelajaran jenis ini:</p>
<ul class="wp-block-list"><li>Guru harus memilih topic yang berbeda sesuai dengan jumlah kelompok yang akan dibentuk.</li><li>Kemudian, siswa diminta untuk membuat kelompok berdasarkan instruksi yang disampaikan oleh guru.</li><li>Lalu, berikan topic untuk setiap kelompok dan waktu agar mereka bisa saling berdiskusi untuk menyajikan topik yang telah diterima.</li><li>Guru memberikan petunjuk agar masing-masing kelompok memilih satu orang atau lebih untuk dijadikan sebagai juru bicara. Tugasnya adalah untuk memaparkan penjelasan terkait topic yang telah dibahas kelompoknya kepada kelompok lain.</li><li>Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk saling menanggapi dan bertukar pendapat.</li></ul>
<h3 class="wp-block-heading">3. Kooperatif&nbsp;<em>Decision Making</em></h3>
<p>Dalam metode jenis ini, siswa dituntun untuk berpikir kritis dalam memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Dengan kata lain, mereka didorong untuk menyelesaikan masalah secara logis hingga menemui solusi yang membangun, juga tepat untuk diterapkan. Yang mana sikap yang demikian ini sangat bermanfaat sebagai modal dalam kehidupan di masyarakat.</p>
<p>Cara untuk menerapkan Kooperatif Decision Making sebagai berikut:</p>
<ul class="wp-block-list"><li>Guru menayangkan sebuah permasalahan berupa wacana atau kasus yang sejalan dengan materi pembelajaran.</li><li>Selanjutnya, berikan pertanyaan supaya siswa dapat menyusun permasalahan sesuai dengan yang ditampilkan.</li><li>Instruksikan siswa untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul lengkap dengan solusi yang tepat. Hal ini bisa dilakukan secara berkelompok maupun individu.</li><li>Kemudian, ajak siswa agar bisa menemukan penyebab munculnya masalah.</li><li>Terakhir, mintalah siswa untuk mengemukakan alternatif solusi yang tepat selaras dengan yang telah dikerjakan.</li></ul>
<h3 class="wp-block-heading">4. Kooperatif&nbsp;<em>Jigsaw</em></h3>
<p>Dalam metode ini, siswa akan tergabung dalam dua kelompok berbeda. Mulanya, mereka akan berada pada kelompok cooperative, lalu beralih ke kelompok ahli, dan selanjutnya kembali ke kelompok awal. Di bawah ini akan diuraikan mengenai tahapan yang harus dilakukan dalam model pembelajaran Kooperatif&nbsp;<em>Jigsaw</em>:</p>
<h4 class="wp-block-heading">1. Kelompok&nbsp;<em>Cooperative</em></h4>
<ul class="wp-block-list"><li>Pembentukan kelompok&nbsp;<em>cooperative</em>&nbsp;diserahkan kepada guru. Guru akan membentuk siswanya ke dalam kelompok-kelompok dengan anggota 3-5 orang atau menyesuaikan dengan jumlah siswa.</li><li>Kemudian, bagian materi yang berbeda kepada setiap anggota kelompok terkait pokok bahasan yang akan diajarkan. Dengan catatan, materi yang diberikan antar kelompok adalah sama. Misal, A, B, C tergabung menjadi satu kelompok. Materi untuk mereka itu berbeda. Namun, materi yang diperuntukkan kepada A, B,C harus sama dengan yang diberikan D, E, F dalam kelompok berbeda. Bisa jadi A memperoleh materi yang serupa dengan F, B dengan E, maupun C dengan D.</li><li>Setelah mendapatkan materi, mereka diajak untuk memahami bahasan yang diperoleh.</li><li>Selanjutnya, siswa yang mendapat materi sama diinstruksikan untuk beralih ke dalam kelompok baru, yang disebut kelompok ahli.</li></ul>
<h4 class="wp-block-heading">2. Kelompok Ahli</h4>
<ul class="wp-block-list"><li>Sebagaimana yang telah disebutkan, kelompok ahli terdiri dari peserta didik yang memperoleh materi sama.</li><li>Mereka akan berdiskusi terkait materi tersebut, saling bertukar pikiran, hingga mendapatkan pemecahan masalah yang tepat.</li><li>Setiap anggota kelompok ahli diwajibkan untuk memahami topik yang didiskusikan.</li><li>Setelah itu, masing-masing anggota akan kembali pada kelompok awal (kelompok cooperative). Mereka akan menjelaskan hasil diskusi terkait materi yang didapatkan kepada kelompok semula.</li><li>Dengan demikian, semua siswa akan memahami seluruh materi yang diberikan oleh guru selaras pada pokok bahasan.</li></ul>
<h2 class="wp-block-heading">Keefektifan Model Pembelajaran Inovatif</h2>
<p>Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, setiap metode dalam model pembelajaran ini menekankan pada kerja sama kelompok dan tutor sebaya. Siswa bisa saling bertukar pendapat untuk menyelesaikan sebuah permasalahan yang dihadapi. Dengan demikian, mereka bisa memperluas cakupan berpikir melalui hal baru.</p>
<p>Model pembelajaran inovatif dinilai efektif untuk diterapkan. Dari sisi waktu pun cenderung lebih efektif. Sebab, melalui kelompok-kelompok yang terbentuk, siswa dapat saling bertukar informasi. Yang akhirnya, pokok bahasan bisa tersampaikan tanpa waktu yang lama. Pemahaman siswa juga semakin meningkat, karena informasi yang diperoleh semakin luas. Selain itu, mereka juga menjadi lebih aktif dalam menggali suatu topik dan percaya diri untuk mengutarakan gagasan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.santuynesia.com/blog/model-pembelajaran-inovatif/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Metode Tanya Jawab untuk Pembelajaran Siswa</title>
		<link>https://www.santuynesia.com/blog/pembelajaran-metode-tanya-jawab</link>
					<comments>https://www.santuynesia.com/blog/pembelajaran-metode-tanya-jawab#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2022 06:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Akuntansi Pengantar]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Model Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://santuynesia.com/?p=4319</guid>
					<description><![CDATA[Pembelajaran Tanya Jawab &#8211; Salah satu cara menyajikan bahan pelajaran di dalam kelas adalah dengan menggunakan&#160;metode tanya jawab&#160;antar siswa dan guru yang kolaboratif. Teknik ini memungkinkan terjadi komunikasi langsung antara guru dan siswa yang bersifat two way traffic melalui dialog-dialog. Pertanyaan yang diberikan dapat mengenai isi materi yang tengah diajarkan guru maupun pertanyaan yang bersifat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Pembelajaran Tanya Jawab</strong> &#8211; Salah satu cara menyajikan bahan pelajaran di dalam kelas adalah dengan menggunakan&nbsp;metode tanya jawab<strong>&nbsp;</strong>antar siswa dan guru yang kolaboratif. Teknik ini memungkinkan terjadi komunikasi langsung antara guru dan siswa yang bersifat two way traffic melalui dialog-dialog.</p>
<p>Pertanyaan yang diberikan dapat mengenai isi materi yang tengah diajarkan guru maupun pertanyaan yang bersifat lebih luas. Namun, perlu diingat bahwa pertanyaan harus memiliki kaitan dengan materi atau pengalaman yang dihayati.</p>
<p>Teknik pembelajaran ini banyak diterapkan di sekolah karena dapat membantu siswa untuk memperluas dan memperdalam materi. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang teknik yang dipengarugi&nbsp;<a href="https://santuynesia.com/gaya-belajar-siswa" data-type="post" data-id="134" target="_blank" rel="noreferrer noopener nofollow">gaya belajar</a>&nbsp;ini, simak penjelasannya berikut.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Pengertian Metode Tanya Jawab untuk Pembelajaran Siswa</h2>
<p><strong>Metode tanya jawab</strong>&nbsp;merupakan teknik penyajian materi dalam wujud pertanyaan dari guru yang harus dijawab oleh para siswa. Namun, cara ini juga dapat berjalan sebaliknya, yakni pertanyaan dari murid dan dijawab oleh guru.</p>
<p><a href="https://santuynesia.com/model-pembelajaran" target="_blank" data-type="post" data-id="3480" rel="noreferrer noopener nofollow">Teknik pembelajaran</a> ini diyakini dapat menjadi pendorong sekaligus pembuka jalan siswa untuk menelusuri materi lebih lanjut. Untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan, siswa dapat menemukannya dari buku, surat kabar, majalah, kamus, video, laboratorium, dan sumber-sumber lainnya. Menurut Petunjuk Teknis Kurikulum tahun 1994, pertanyaan pada teknik ini bertujuan mengarahkan siswa untuk memahami materi yang diajarkan.</p>
<p>Pemanfaatan teknik mengajar ini secara baik dan tepat dapat merangsang minat dan motivasi belajar siswa. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan ketika menerapkan teknik mengajar ini, yaitu pertama, pastikan materi menarik. Selain itu pastikan materi memberikan tantangan tersendiri bagi siswa dan mempunyai nilai aplikasi yang tinggi.</p>
<p>Kedua, ajukanlah pertanyaan yang bervariasi. Pertanyaan ini dapat berupa pertanyaan tertutup yang hanya memiliki satu kemungkinan. Pertanyaan juga dapat berupa pertanyaan terbuka dengan banyak kemungkinan jawaban. Ketiga, jawaban dari pertanyaan tersebut didapatkan dari penyempurnaan jawaban-jawaban yang dikemukakan oleh siswa. Keempat, pastikan untuk menggunakan teknik bertanya yang baik.</p>
<p>Berdasarkan penjabaran tersebut, disimpulkan&nbsp;metode tanya jawab&nbsp;merupakan teknik pembelajaran dengan pertanyaan untuk mengarahkan pemahaman siswa dan mencapai tujuan pembelajaran.</p>
<p>Dalam praktiknya, terdapat beberapa bentuk pertanyaan dalam&nbsp;metode tanya jawab. Ditinjau dari sudut pandang taksonomi Bloom, bentuk pertanyaannya yakni pertanyaan ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Langkah-Langkah Penerapan Metode Tanya Jawab Pada Proses Pembelajaran</h2>
<p>Agar tidak timbul penyimpangan pokok persoalan ketika menerapkan&nbsp;metode tanya jawab, maka perlu memperhatikan langkah-langkah berikut.</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Merumuskan Tujuan Metode Tanya Jawab</h3>
<p>Sebelum memulai sesi, pastikan guru telah memiliki tujuan dari&nbsp;metode tanya jawab<strong>&nbsp;</strong>secara jelas. Bentuknya dapat berupa tujuan khusus dan berpusat pada tingkah laku peserta didik.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Alasan Pemilihan Teknik Metode Tanya Jawab</h3>
<p>Dengan memahami alasan pemilihan teknik pembelajaran, akan lebih memudahkan tercapainya tujuan pembelajaran tersebut.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Menetapkan Kemungkinan di Metode Tanya Jawab</h3>
<p>Khususnya jika pertanyaan diajukan oleh siswa, pastikan guru menetapkan kemungkinan pertanyaan apa yang akan muncul. Hal ini akan sangat membantu ketika menjawab pertanyaan dari siswa.</p>
<p>Selain itu, diharapkan jawaban yang diberikan dapat diterima dengan jelas dan tidak menyimpang dari topik bahasan. Namun, jika terdapat jawaban siswa yang dirasa tidak tepat, usahakan guru untuk meredamnya.</p>
<h3 class="wp-block-heading">4. Kesempatan Bertanya Pada Metode Tanya Jawab</h3>
<p>Jika pembelajaran menggunakan teknik ini, pastikan siswa mendapat kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Namun, apabila waktu yang dimiliki batas, guru dapat membatasi hanya beberapa pertanyaan saja. Sementara bagi siswa yang masih ingin bertanya, dapat mengajukan pertanyaannya di luar jam pelajaran.</p>
<p>Dari langkah-langkah di atas, guru dapat menentukan tindakan dalam menggunakan&nbsp;metode tanya jawab&nbsp;secermat mungkin. Penerapannya di kelas dapat mengikuti detail sebagai berikut: pertama, sebutkan alasan guru menggunakan teknik pembelajaran tersebut.</p>
<p>Kedua, siapkan beberapa pertanyaan yang sesuai tujuan pembelajaran. Ketiga, simpulkan jawaban yang dikemukakan peserta didik sesuai tujuan pembelajaran. Keempat, berikan kesempatan pada peserta didik untuk menanyakan hal-hal yang belum mereka pahami.</p>
<p>Kelima, berikan pertanyaan atau kesempatan bertanya pada peserta didik untuk hal-hal yang bersifat pengembangan maupun pengayaan. Keenam, berikan kesempatan peserta didik untuk menjawab pertanyaan yang dirasa relevan dan bersifat pengembangan atau pengayaan.</p>
<p>Ketujuh, simpulkan jawaban dengan memperhatikan relevansi terhadap tujuan pembelajaran. Terakhir, berikan tugas pada peserta didik untuk mempelajari materi selanjutnya dan menuliskan daftar pertanyaan untuk pertemuan berikutnya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Prinsip Penggunaan Metode Tanya Jawab untuk Pembelajaran di Kelas</h2>
<p>Hal yang tak kalah penting untuk diketahui seorang guru ketika menerapkan&nbsp;metode tanya jawab&nbsp;adalah prinsip penggunaan teknik tersebut. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan di antaranya:</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Penyebaran (distribution)</h3>
<p>Agar peserta didik banyak berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar, ada baiknya guru memberikan urutan menjawab pertanyaan secara acak dan merata.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Pemberian Waktu Berpikir untuk Siswa (pausing)</h3>
<p>Setelah guru memberikan pertanyaan di depan kelas, berikanlah jeda waktu agar siswa dapat mempersiapkan jawabannya. Tunggu hingga ada siswa yang berusaha menjawab, atau guru juga dapat menunjuk salah satu siswa di kelas.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Penggunaan Pertanyaan Jenis Pelacak (probing)</h3>
<p>Jika guru ingin meningkatkan jawaban peserta didiknya, guru dapat menggunakan teknik pelacak (probing). Hal ini bertujuan agar jawaban peserta didik menjadi lebih sempurna. Beberapa teknik pelacak yang bisa digunakan adalah:</p>
<ul class="wp-block-list"><li><strong>Klasifikasi</strong></li></ul>
<p>Yakni dengan memberikan pertanyaan jenis pelacak yang meminta peserta didik menjelaskan/menjabarkan jawaban.</p>
<ul class="wp-block-list"><li><strong>Meminta Peserta Didik Memberikan Alasan</strong></li></ul>
<p>Guru dapat meminta peserta didik untuk mengemukakan alasan/pendapat dari pertanyaan yang diajukan.</p>
<ul class="wp-block-list"><li><strong>Meminta Kesepakatan Pandangan</strong></li></ul>
<p>Teknik ini memungkinkan guru meminta siswa memberikan pandangan atas jawaban yang telah disampaikan oleh teman mereka. Sementara siswa lain bisa menerima atau menyanggah pandangan tersebut. Selain itu, siswa juga dapat menambahkan pandangan mereka hingga didapatkan jawaban yang disepakati bersama.</p>
<ul class="wp-block-list"><li><strong>Meminta Ketepatan Jawaban</strong></li></ul>
<p>Dalam hal ini, guru dapat meminta peserta didik untuk melakukan tinjauan ulang jika jawaban yang diutarakan kurang tepat. guru dapat menggunakan pertanyaan pelacak. Pastikan pertanyaan yang guru ajukan tidak membuat siswa merasa tertekan, malu, maupun rendah diri.</p>
<ul class="wp-block-list"><li><strong>Meminta Jawaban yang Lebih Relevan</strong></li></ul>
<p>Guru dapat memberikan pertanyaan yang memungkinkan peserta didik menilai kembali jawabannya. Selain itu, guru juga dapat meminta peserta didik mengemukakan kembali jawaban menggunakan kata-kata lain agar jawabannya menjadi tepat dan benar.</p>
<ul class="wp-block-list"><li><strong>Meminta Contoh</strong></li></ul>
<p>Guru dapat meminta peserta didik untuk memberikan contoh atau ilustrasi yang konkret mengenai maksud dari jawabannya.</p>
<ul class="wp-block-list"><li><strong>Meminta Jawaban Kompleks</strong></li></ul>
<p>Guru dapat meminta peserta didik untuk memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai jawaban sebelumnya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Keunggulan dan Kelemahan Metode Tanya Jawab</h2>
<p>Metode tanya jawab&nbsp;yang digunakan guru dalam menjalankan proses belajar mengajar tentu memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Menurut Sudirman (1991) terdapat beberapa keunggulan dari&nbsp;metode tanya jawab, di antaranya:</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Mampu Memusatkan Perhatian Peserta Didik</h3>
<p>Pertanyaan yang diberikan guru secara langsung dapat membuat siswa merasa tertarik dan perhatiannya terpusat. Cara ini sangat efektif bahkan ketika kelas dalam kondisi ribut sekalipun. Jika guru melontarkan pertanyaan, umumnya keributan dalam kelas akan berubah menjadi kondusif kembali. Siswa yang pada jam pelajaran merasa mengantuk biasanya segera segar dan hilang rasa kantuknya.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Mengembangkan Daya Pikir</h3>
<p>Pertanyaan mampu merangsang peserta didik untuk melatih dan mengembangkan daya pikir serta daya ingatnya.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Mengembangkan Keberanian dan Keterampilan</h3>
<p>Ketika peserta didik mencoba menjawab pertanyaan, secara tidak langsung membantunya untuk lebih berani dan terampil mengolah kata-kata.</p>
<h3 class="wp-block-heading">4. Mengetahui Kemampuan Berpikir Siswa</h3>
<p>Melalui jawaban yang diutarakan, guru dapat mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam berpikir. Selain itu, dapat diketahui pula kesistematisan siswa dalam mengemukakan pokok pikiran dalam jawaban yang diutarakan.</p>
<h3 class="wp-block-heading">5. Mengetahui Penguasaan Materi Siswa</h3>
<p>Melalui pertanyaan-pertanyaan, guru dapat menilai seberapa jauh siswa menguasai materi yang sedang atau telah dipelajari. Dengan demikian, guru dapat menjadikannya sebagai bahan introspeksi cara mengajar di kelas.</p>
<h3 class="wp-block-heading">6. Menjadi Pendorong dan Pembuka Jalan</h3>
<p>Melalui sesi tanya-jawab, guru dapat menuntun siswa untuk melakukan penelusuran lebih lanjut mengenai materi tersebut. Penelusuran dapat bersumber dari buku, video, laboratorium, kamus, alam, dan sumber lainnya.</p>
<h3 class="wp-block-heading">7. Membuat Suasana Belajar Lebih Hidup</h3>
<p>Melalui proses bertanya dan menjawab pertanyaan, suasana belajar di kelas menjadi lebih hidup. Hal ini tentu berdampak pada bangkitnya minat belajar para peserta didik. Asalkan dalam penerapannya dilakukan dengan baik dan cermat untuk meminimalisir penyimpangan.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Kelemahan Metode Tanya Jawab</h2>
<p>Selain keunggulan-keunggulan di atas, terdapat pula beberapa kelemahan dari&nbsp;metode tanya jawab, di antaranya:</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Membuat Siswa Merasa Takut</h3>
<p>Hal ini dapat terjadi khususnya jika guru kurang bisa mendorong peserta didik lebih berani dan menciptakan suasana yang santai dan akrab.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Pertanyaan Terlalu Sulit Bagi Siswa</h3>
<p>Terkadang, memang tidak mudah dalam membuat pertanyaan yang sesuai tingkat berpikir sekaligus mudah dipahami oleh peserta didik.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Banyak Waktu Terbuang</h3>
<p>Jika peserta didik tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua atau tiga kali giliran, hal ini dapat membuat banyak waktu menjadi terbuang.</p>
<h3 class="wp-block-heading">4. Guru Mendominasi Proses Pembelajaran</h3>
<p>Kondisi yang umum terjadi adalah guru menjadi seseorang yang mendominasi pada proses belajar mengajar. Hal ini terjadi karena biasanya guru kurang terbuka dan selalu ingin jawaban siswa sesuai dengan keinginan guru.</p>
<h3 class="wp-block-heading">5. Peserta Didik Tidak Bisa atau Salah Menjawab Pertanyaan</h3>
<p>Sebenarnya hal ini dapat terjadi bukan karena peserta didik tersebut bodoh, melainkan bisa jadi karena siswa terburu-buru dalam menjawab. Hal ini dapat disebabkan kurangnya waktu untuk memikirkan jawaban maupun kurang mendalami materi.</p>
<h3 class="wp-block-heading">6. Tidak Cukup Waktu</h3>
<p>Jika jumlah murid dalam kelas cukup banyak, maka tidak mungkin terdapat cukup waktu untuk memberikan pertanyaan pada setiap peserta didik. Biasanya jawaban sering diborong oleh sejumlah kecil peserta didik yang menguasai materi dan gemar berbicara. Sementara banyak peserta didik lainnya yang tidak memikirkan jawabannya.</p>
<h3 class="wp-block-heading">7. Pokok Pembicaraan Menyimpang</h3>
<p>Terkadang, dari sesi tanya jawab pokok pembicaraan dapat menyimpang dan tidak terkendali. Hal ini dapat memicu munculnya persoalan baru.</p>
<p>Demikian beberapa pembahasan mengenai&nbsp;<strong>metode tanya jawab</strong>. Teknik pembelajaran ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangan yang ditinjau dari sudut pandang tertentu. Seiring berkembangnya pembahasan teknik pembelajaran ini, diharapkan teknik ini dapat berkembang. Diharapkan pula mampu meminimalisir kelemahan ketika diaplikasikan pada peserta didik. Hal ini bertujuan agar peserta didik semakin mudah memahami materi yang disampaikan dan dapat mencapai tujuan pembelajaran.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.santuynesia.com/blog/pembelajaran-metode-tanya-jawab/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Metode Efektif Pembelajaran Diskusi Kelompok</title>
		<link>https://www.santuynesia.com/blog/metode-efektif-pembelajaran-diskusi-kelompok</link>
					<comments>https://www.santuynesia.com/blog/metode-efektif-pembelajaran-diskusi-kelompok#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2022 03:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi Kelompok]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://santuynesia.com/?p=4316</guid>
					<description><![CDATA[Pembelajaran Diskusi Kelompok &#8211; Diskusi kelompok&#160;menjadi salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan tingkat partisipasi peserta didik di kelas. Umumnya, di kelas guru bertindak untuk menerangkan materi sedangkan peserta didik mendengarkan serta menyimak, sehingga peran peserta didik menjadi pasif bahkan bisa mengalami&#160;under achiever. Saat diskusi dilibatkan dalam pembelajaran, maka peserta didik akan memiliki [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Pembelajaran Diskusi Kelompok</strong> &#8211; Diskusi kelompok&nbsp;menjadi salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan tingkat partisipasi peserta didik di kelas. Umumnya, di kelas guru bertindak untuk menerangkan materi sedangkan peserta didik mendengarkan serta menyimak, sehingga peran peserta didik menjadi pasif bahkan bisa mengalami&nbsp;<em>under achiever</em>.</p>
<p>Saat diskusi dilibatkan dalam pembelajaran, maka peserta didik akan memiliki peran aktif di dalam kelas. Diharapkan dengan partisipasi peserta didik, proses pembelajaran akan memiliki hasil belajar yang lebih baik.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Pengertian Metode Pembelajaran Diskusi Kelompok</h2>
<p><a href="https://santuynesia.com/model-pembelajaran" target="_blank" data-type="post" data-id="3480" rel="noreferrer noopener nofollow">Metode pembelajaran</a> merupakan cara, model atau strategi yang digunakan oleh guru dalam rangka menyampaikan materi atau pengetahuan kepada peserta didik agar tercapai tujuan pembelajaran. Terdapat banyak metode pembelajaran salah satunya dengan memberi ruang diskusi di antara peserta didik.</p>
<p>Untuk pengertian&nbsp;<strong>diskusi kelompok</strong>&nbsp;sendiri adalah pembahasan topik yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dalam sebuah kelompok dengan cara bertukar pikiran guna mencapai hasil tertentu. Apabila dalam satu kelas terdiri dari banyak peserta didik, kelompok dapat dibagi menjadi lebih dari satu, terdiri dari beberapa orang.</p>
<p>Dalam&nbsp;diskusi kelompok, dibutuhkan pemahaman dan keberanian mengutarakan pendapat. Karena metode pembelajaran ini dilakukan secara tatap muka antar peserta didik yang melakukan diskusi. Agar diskusi dapat berimbang dan merata, tiap peserta didik perlu diberi kesempatan yang sama dalam menyampaikan pendapat atau menyanggah. Oleh karena itu, guru perlu mengawasi jalannya diskusi.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Kelebihan Diskusi Kelompok</h2>
<p>Peran guru dalam metode diskusi tidak terbatas pada pengawasan. Guru perlu menjadi stimulator yang mendorong diskusi, baik dengan memberikan pertanyaan maupun melemparkan sebuah permasalahan yang dapat dibahas sehingga menemukan&nbsp;metode pemecahan masalah.</p>
<p>Namun guru juga perlu membatasi diri agar perannya tidak mendominasi diskusi, hanya perlu mengarahkan. Pada akhir diskusi, guru dapat membantu penarikan simpulan. Besarnya peran guru di sini mengisyaratkan bahwa diperlukan kecakapan dan pemahaman yang cukup atas materi yang sedang dipelajari. Metode ini memiliki banyak manfaat bagi siswa, yaitu sebagai berikut.</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Memberi Sumbangan Berharga Bagi Belajar Peserta Didik</h3>
<p>Karena diskusi berbeda dengan pembelajaran secara konvensional, peserta didik diharapkan dapat mendapatkan hasil belajar yang lebih baik. Keaktifan peserta didik dapat membantu meningkatkan pengetahuan, karena percakapan yang terjadi biasanya memberi informasi baru yang tidak dibicarakan saat penjelasan guru atau membaca buku. Selain itu, peserta didik akan menjadi lebih termotivasi untuk memahami materi yang diberikan.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Membantu Pengambilan Keputusan yang Lebih Baik Oleh Peserta Didik</h3>
<p>Kelemahan peserta didik dalam membuat keputusan sendiri adalah kurangnya informasi. Berbagai pendapat yang disatukan, biasanya dapat menambah informasi yang kurang. Hasilnya keputusan bisa menjadi lebih baik, karena saling melengkapi.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Mengajarkan Peserta Didik Untuk Tidak Terjebak Dalam Pemikiran Yang Salah</h3>
<p>Sudut pandang antar peserta didik berbeda, dan hal itu membuat mereka menjadi unik. Dengan satu informasi yang sama, hasil yang didapatkan bisa berbeda, atau seringkali salah. Dengan menerima pendapat orang lain, Peserta didik dapat belajar menerima sudut pandang baru. Wawasan baru ini akan membantu mereka untuk keluar dari jebakan pemikiran yang salah.</p>
<h3 class="wp-block-heading">4. Mendekatkan Hubungan Antar Peserta Didik</h3>
<p>Secara tidak langsung, perdebatan atau diskusi akan memberi ruang bagi peserta didik untuk bercakap satu sama lain. Hal ini dapat mempererat hubungan di antara mereka. Selain mempelajari sudut pandang baru, juga membuat peserta didik mengenal karakter dari lawan bicara lebih baik.</p>
<h3 class="wp-block-heading">5. Meningkatkan motivasi peserta didik</h3>
<p>Perbedaan pendapat dapat meningkatkan rasa penasaran dan keingintahuan peserta didik terhadap suatu topik. Untuk membuktikan pendapat yang lebih benar, peserta didik akan memiliki keinginan menggali lebih dalam topik tersebut.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Bentuk Diskusi Kelompok</h2>
<p>Ada beragam bentuk&nbsp;diskusi kelompok&nbsp;yang dapat dilaksanakan di dalam kelas, antara lain :</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Grup Diskusi Berdasarkan Pembagian Kelompok</h3>
<p>Peserta didik akan terbagi dalam kelompok, di mana jumlah peserta tiap kelompok diputuskan oleh guru, serta menyesuaikan dengan jumlah kelas. Bisa jadi satu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, satu kelompok besar, atau Dua kelompok besar. Contoh diskusi seperti ini adalah buzz group, whole group dan syndicate group.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Diskusi Berdasarkan Cara Pembahasan Topik</h3>
<p>Pembahasan topik dapat dilakukan secara ilmiah, formal maupun informal. Pembahasan juga dapat menghadirkan narasumber, orang yang dianggap lebih cakap atau dengan cara debat melibatkan seluruh anggota. Dalam hal ini, guru dapat mempersiapkan peraturan &nbsp;dan tata cara dalam Menjalankan diskusi. Contoh diskusi adalah seminar, panel, dan simposium.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Diskusi Berdasarkan Cara Penyampaian Pendapat.</h3>
<p>Sebuah topik yang dibawakan dalam diskusi biasanya sudah ditentukan. Guru bisa menjelaskan lebih dulu materi sebelum memberikan masalah atau pertanyaan untuk didiskusikan. Namun penyampaian pendapat bisa beragam cara. Dalam brainstorming, Peserta menyampaikan pendapat secara bebas yang kemudian diklasifikasikan. Sedangkan pada Colloqinin, narasumber dan peserta dapat sama-sama menyampaikan pendapatnya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.santuynesia.com/blog/metode-efektif-pembelajaran-diskusi-kelompok/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pendekatan Kognitif Dalam Pembelajaran Pada Anak Usia Dini Hingga Pra-Remaja</title>
		<link>https://www.santuynesia.com/blog/pendekatan-kognitif-dalam-pembelajaran-pada-anak</link>
					<comments>https://www.santuynesia.com/blog/pendekatan-kognitif-dalam-pembelajaran-pada-anak#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2021 03:46:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pendekatan Kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Belajar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://santuynesia.com/?p=3762</guid>
					<description><![CDATA[Kali ini kita akan membahas pendekatan kognitif dalam pembelajaran pada anak usia dini hingga pra-remaja,yuk simak penjelasannya. Secara perkembangan fisiologi dan tingkat emosi,anak memang belum memiliki kemampuan yang utuh untuk mengabstrasikan sebuah perkara secara rasional. Namun, anak kecil memiliki potensi yang lebih murni untuk mengembangkan fikiran rasional melebihi kita, orang dewasa. Kemampuan abstraksi yang mulai [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Kali ini kita akan membahas pendekatan kognitif dalam pembelajaran pada anak usia dini hingga pra-remaja,yuk simak penjelasannya. </p>
<p>Secara perkembangan fisiologi dan tingkat emosi,anak memang belum memiliki kemampuan yang utuh untuk mengabstrasikan sebuah perkara secara rasional. Namun, anak kecil memiliki potensi yang lebih murni untuk mengembangkan fikiran rasional melebihi kita, orang dewasa. Kemampuan abstraksi yang mulai berkembang pada usia remaja hingga usia dewasa, pada kenyataan malah berekses negatif rupa-rupa.</p>
<p>Banyak para pemikir yang terinspirasi dari anak kecil. Jostein Gaardner dalam novelnya yang berjudul Dunia Shopie, mengkreasikan tokoh utamanya seorang anak perempuan kecil. Novel ini menceritakan tentang kisah gadis kecil Norwegia, bernama Shopie Amundsen yang tengah mempelajari sejarah filsafat dari kejutan-kejutan misterius Albert Knox.</p>
<p>Jauh sebelum itu, ada novel Hayy Ibn Yadzan karangan Ibn Thufail. Hayy merupakan anak yang dibuang oleh orang tuanya ke pulau terpencil. Hayy kemudian dirawat oleh kawanan rusa. Saat si rusa yang merawat Hayy mati, usia Hayy masih tergolong anak-anak. Kejadian ini memicu curiosity Hayy untuk membedakan benda yang bernyawa dan tidak bernyawa.<ins></ins></p>
<p>Anak-anak memiliki potensi luar biasa untuk berfikir rasional. Tinggal bagaimana lingkungan sekitar membentuknya.</p>
<p>Pikiran irasional bukanlah tabiat bawaan dari lahir. Secara alamiah, manusia itu terlahir rasional. Pikiran irasional cenderung dibentuk oleh lingkungan sekitar. Bagaimana pola asuh dalam keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan pertemanan dan sosial masyarakat: merupakan pembentuk bagaimana cara berfikir dan cara mengambil kesimpulan dari seorang individu.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Balita: Role Model Rasionalitas</h2>
<p>Balita merupakan role model rasionalitas. Kemampuan abstraksi balita yang masih sederhana, menjadikan kesimpulan yang diambilnya tidak diselipi oleh kepentingan tertentu. Apa adanya.</p>
<p>Misal, saat seorang balita lapar, ia akan menunjukkan respon menangis. Ini tidak membuat si balita menganggap bahwa sang orang tuanya tidak menyayanginya. Dan si balita akan berhenti menangis seusai disusui.</p>
<p>Masih dalam situasi yang sama. Saat si balita menangis, ada kemungkinan si orang tua berfikiran bahwa si balita rewel. Kesimpulan yang diambil oleh orang dewasa tidak cukup dengan “<em>oh dia lapar</em>”. Dan, anggapan bahwa si balita rewel, belum tentu hilang walaupun si balita telah berhenti menangis. Toh, andaikan esok harinya si balita tertawa riang dan bertingkah lucu, tetap belum menjamin hilangnya anggapan bahwa balita itu rewel.</p>
<p>Lalu apakah yang bisa diambil dari sini? Apakah kita perlu kembali seperti balita ?</p>
<p>Tidak. Saya yakin kita tidak bisa kembali seperti balita. Dan kita tidak perlu melakukannya. Karena kerumitan pikiran manusia itu, disatu sisi mengakibatkan berbagai kerusakan, disisi lain kerumitan pikiran ini berperan besar dalam membawa kemajuan pada peradaban.</p>
<p>Kemampuan abstraksi balita yang masih sederhana dan pengambilan kesimpulan mereka yang tidak diselipi dengan unsur lainnya, bisa kita jadikan role model untuk mengatasi berbagai kesalahan berfikir yang kita alami. Dan sebagai contoh untuk menetralisir unsur-unsur yang tidak mempunyai kaitan dengan kesimpulan yang kita buat.<ins></ins></p>
<p>Selain itu, hal ini juga bisa kita jadikan sebagai bahan reflektif. Ke arah manakah kita, sebagai orang tua, sebagai saudara, sebagai guru, dan sebagai anggota masyaraka membawa pengaruh pada generasi penerus? Ke arah yang lebih positif ataukah ke arah yang lebih buruk?</p>
<h2 class="wp-block-heading">Pendekatan Kognitif Pada Anak Usia Dini Hingga Usia Pra-Remaja: Apakah Bisa?</h2>
<h3 class="wp-block-heading">1. Gestalt (Pola-pola)</h3>
<p>Kohler, salah satu dari tiga (Wertheimer, Wolfgang Kohler, dan Kurt Koffka) teoritisi Gestalt, melakukan studi intensif mengenai pemecahan masalah dengan wawasan pada simpanse. Simpanse diberi masalah berupa pisang yang dipajang diluar jangkauannya. Pisang ditaruh di atap kandang simpanse. Di dalam kandang itu, berserakan balok-balok yang bisa digunakan oleh simpanse untuk meraih pisang apabila ditumpuk.</p>
<p>Pisang dan balok ialah pola-pola (gestalt) yang menjadi sarana penumbuhan wawasan (insight).</p>
<p>Apakah si simpanse berhasil menemukan insight? Setelah berapa lama si simpanse menemukannya?</p>
<p>Dalam studinya, Kohler menemukan sesuatu yang menarik. Si simpanse gagal meraih pisang dengan cara lama yang dikenalnya. Setelah tidak kunjung berhasil meraih pisang, si simpanse nampak berhenti berupaya. Ia duduk-duduk saja. Namun, dalam periode tertentu ternyata si simpanse menemukan hubungan antara balok dengan pisang. Ia tiba-tiba menggunakan balok tersebut sebagai tumpuan untuk meraih pisang di atap kandang. Inilah yang disebut insight (wawasan).</p>
<p>Kontribusi Gestaltian bagi pembelajaran ialah penekanan pada penumbuhan wawasan (insight). Dari Gestalt inilah kemudian muncul teori belajar konstruktivisme.</p>
<p>Bagaimana cara menumbuhkan insight pada anak usia dini hingga usia pra-remaja?</p>
<p>Anda bisa melatih insight pada anak dengan cara-cara sederhana. Berikan masalah (jangan mengkonotasikan bahwa masalah itu perkara negatif, masalah ialah perkara yang membutuhkan jawaban) yang memancing anak untuk mencari tahu jawabannya. Bangun dialog secara horizontal. Sertakan pula sarana yang bisa membantu anak untuk menemukan pemecahan masalah.</p>
<p>Misalkan anda ingin membiasakan anak merapikan baju yang tidak dipakai. Coba taruh beberapa gantungan baju di tumpukan bajunya. Atau misal, anda ingin membiasakan anak cuci tangan sebelum makan. Coba taruh wadah air di meja makan, tapi letakkan di sisi yang berjauhan dari tempat duduk anak.</p>
<p>Bagaimana cara menangani problem perilaku anak menggunakan Gestalt?</p>
<p>Misalkan seorang anak baru bertengkar dengan temannya. Ajak dia berbincang. Buat si anak menceritakan kronologi pertengkaran. Upayakan si anak merasa nyaman bercerita kepada anda. Jangan memberikan kesimpulan apapun. Biar si anak yang menemukannya sendiri. Seusai si anak bercerita dan emosinya nampak reda, tunjukkan empati bahwa anda memahaminya. Lalu tanyakan padanya: Apa yang perlu kamu lakukan agar kamu tidak bertengkar lagi dengannya?</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Kogntif-Behavior</h3>
<p>Albert Ellis, saat usia remaja pernah berfikir bahwa ”<em>Saya lebih berani berjoget di depan umum, dibandingkan berbicara di hadapan mereka</em>” Di kemudian hari dia pun sepertinya berfikir begini, kenapa sih saya mengharuskan orang-orang buat menerima saya? Kenapa saya takut pada penolakan mereka? Bukankah menunjukkan diri pada mereka akan apa yang saya miliki sudah mencukupi?</p>
<p>Kognitif-behavior merupakan pendekatan pembelajaran yang menggabungkan teori belajar kognitif dan teori belajar behavior.</p>
<p>Dalam pandangan kognitif-behavior, tidak hanya aspek eksternal semata yang menimbulkan perilaku manusia, sebagaimana pandangan <a href="https://santuynesia.com/teori-belajar-sibernetik" data-type="post" data-id="130" rel="nofollow noopener" target="_blank">teori belajar</a> behavior awal. Namun, aspek internal berupa bangunan kognisi juga turut serta dalam membentuk perilaku manusia.</p>
<p>Albert Ellis sendiri, si anak yang berpikiran jorok diatas, di kemudian hari menjadi seorang tokoh kognitif-behavior, tapi selanjutnya ia menggagas unsur lain yang turut serta membentuk perilaku, yaitu emosi.</p>
<p>Bagaimana cara mengaplikasikan kognitif-behavior pada anak-anak?</p>
<p>Misalkan, saat anda melarang anak melakukan sesuatu ataupun membiasakan anak melakukan sesuatu, berikan alasan-alasan yang logis kenapa anda melarang ataupun menyukai perbuatan tersebut. Jangan sampai anda membiasakannya dengan alasan-alasan irasional, ataupun tanpa memberitahunya akan alasannya. Karena hal ini bisa menimbulkan sikap menentang dari si anak.</p>
<p>Misalkan, si anak enggan mengerjakan tugas yang anda berikan. Analisa terlebih dahulu apa stimulan negatif yang menyebabkan anak enggan mengerjakan tugas. Upayakan hilangkan stimulan negatif ini, dan ganti dengan stimulan positif.</p>
<p>Apabila ternyata penyebab anak enggan mengerjakan tugas ialah karena ia merasa tidak bisa, anda perlu memberikannya reinforcement (penguatan) berupa dorongan. Ini dari sisi behaviorisme.</p>
<p>Sedangkan dari sisi kognitif, anda perlu menjernihkan pikiran anak bahwa belajar itu tidak dituntut untuk bisa. Ajak dia buat memahami kelebihan yang dimiliki dibandingkan teman-temannya. Berikan dia alasan-alasan logis kenapa dia perlu memiliki kepercayaan diri. Sesekali panggil dia ke depan kelas untuk menceritakan kelebihan yang dimilikinya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.santuynesia.com/blog/pendekatan-kognitif-dalam-pembelajaran-pada-anak/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
