<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>
<channel>
	<title>Belajar &#8211; Blog SantuyNesia</title>
	<atom:link href="https://www.santuynesia.com/blog/tag/belajar/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.santuynesia.com/blog</link>
	<description>Macul Ilmu</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Mar 2022 05:36:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<image>
	<url>https://www.santuynesia.com/blog/santuyuploads/2021/09/santuynesia-favicon.png</url>
	<title>Belajar &#8211; Blog SantuyNesia</title>
	<link>https://www.santuynesia.com/blog</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pengertian Hasil Belajar, Faktor, dan Macam-macam Hasil Belajar</title>
		<link>https://www.santuynesia.com/blog/pengertian-hasil-belajar-faktor-dan-macamnya</link>
					<comments>https://www.santuynesia.com/blog/pengertian-hasil-belajar-faktor-dan-macamnya#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Mar 2022 06:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://santuynesia.com/?p=4494</guid>
					<description><![CDATA[Pengertian hasil belajar menurut para ahli sangat luas dan bermacam-macam. Namun dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah adanya perubahan perilaku siswa. Terutama dari segi kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai  hasil dari interaksi, proses, dan evaluasi belajar yang merupakan bagian dari proses pembelajaran. Pengertian hasil belajar erat kaitannya dengan perubahan perilaku, yang mana Perubahan  tersebut seharusnya dapat diukur dengan berbagai [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Pengertian hasil belajar </strong>menurut para ahli sangat luas dan bermacam-macam. Namun dapat disimpulkan bahwa <strong>hasil belajar</strong> adalah adanya perubahan perilaku siswa. Terutama dari segi <a href="https://santuynesia.com/pendekatan-kognitif-dalam-pembelajaran-pada-anak" target="_blank" data-type="post" data-id="3762" rel="noreferrer noopener nofollow">kognitif</a>, afektif, dan psikomotor sebagai  hasil dari interaksi, proses, dan evaluasi belajar yang merupakan bagian dari proses pembelajaran.</p>
<p><strong>Pengertian hasil belajar </strong>erat kaitannya dengan perubahan perilaku, yang mana Perubahan  tersebut seharusnya dapat diukur dengan berbagai bentuk indikator, misalnya nilai hasil evaluasi. Hasil ini akan menjadi cerminan keberhasilan dari sebuah proses <a href="https://santuynesia.com/model-pembelajaran" target="_blank" data-type="post" data-id="3480" rel="noreferrer noopener nofollow">pembelajaran</a>. Pada setiap anak, hasil akan berbeda karena kemampuan dan karakter yang berbeda.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Faktor Internal yang Mempengaruhi Hasil Belajar</h2>
<p>Faktor internal adalah hal-hal yang berkaitan dengan diri peserta didik sendiri, atau berasal dari dalam dirinya. Faktor tersebut antara lain:</p>
<h3 class="wp-block-heading">Faktor Psikologis</h3>
<p>Faktor psikologis adalah hal yang terkait dengan watak dan perilaku dasar dari peserta didik. Hal ini meliputi kecerdasan, bakat, minat, serta motivasi. Faktor ini adalah hal paling kuat yang mendorong peserta didik agar memiliki kemauan untuk belajar.</p>
<p>Peserta didik yang memiliki kecerdasan dan motivasi tinggi biasanya akan lebih mudah mengikuti proses pembelajaran. Selain mudah memahami materi yang diberikan juga tanggap dalam pemecahan masalah. Sedangkan minat dan bakat akan mengarahkan peserta didik pada bidang yang dikuasai.</p>
<p>Segala perbedaan Inilah yang menjadi alasan seseorang mungkin lebih unggul di bidang matematika, sementara yang lain di bidang bahasa. Namun faktor psikologis juga dapat dikembangkan seiring proses pembelajaran yang dilakukan. Terutama jika guru dapat memotivasi peserta didik dalam belajar.</p>
<h3 class="wp-block-heading">Faktor Fisiologis</h3>
<p>Faktor ini meliputi kondisi fisik peserta didik. Agar dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik, peserta didik harus sehat secara jasmani. Badan yang sehat membuat peserta didik berkonsentrasi selama proses pembelajaran, dan mereka cenderung menjadi aktif.</p>
<p>Selain kondisi jasmani yang bugar, panca indera peserta didik juga perlu bekerja dengan baik. Karena selama proses pembelajaran peserta didik harus melakukan pengamatan, seperti melihat, mendengar, serta merasakan kondisi di sekitar mereka.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Faktor Eksternal Yang Mempengaruhi Hasil Belajar</h2>
<p>Faktor eksternal adalah hal-hal di luar diri peserta didik yang mempengaruhi&nbsp;<strong>hasil belajar</strong>, yaitu:</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Faktor Sosial</h3>
<p>Faktor Sosial melibatkan adanya interaksi sosial, seperti keluarga, teman, dan guru. Hubungan sosial yang dimiliki peserta didik dapat mempengaruhi hasil dari proses pembelajaran. Pengaruhnya berkaitan dengan motivasi dan minat belajar dari peserta didik melalui dukungan yang diberikan.</p>
<p>Misalnya interaksi dengan keluarga, peserta didik yang mendapat perhatian dan dukungan dari orang tua umumnya lebih termotivasi saat belajar di sekolah. Sebaliknya, peserta didik yang tumbuh di tengah keluarga penuh konflik, hasil penilaiannya bisa menjadi rendah karena adanya stress atau tekanan yang dirasakan.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Faktor Non Sosial</h3>
<p>Faktor ini lebih mengarah pada lingkungan dan fasilitas yang digunakan untuk proses pembelajaran.&nbsp; Fasilitas yang digunakan peserta didik saat belajar tidak berarti harus menggunakan yang Mahal dan paling bagus, namun dapat memberi rasa nyaman. Perasaan nyaman tersebut akan meningkatkan fokus peserta didik.</p>
<p>Selain itu, dibutuhkan lingkungan yang tenang. Semakin dekat lokasi belajar dengan tempat yang menimbulkan suara berisik, semakin turun Pula konsentrasi peserta didik. Guru juga tidak akan dapat menjelaskan dengan baik, karena suaranya mungkin terganggu oleh kebisingan. Peserta didik yang berprestasi juga akan semakin meningkat <strong>hasil belajar</strong> apabila belajar di lingkungan lembaga pendidikan unggulan.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Model Penyampaian Materi</h3>
<p>Model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan tentu akan menimbulkan minat peserta didik, dibandingkan yang membosankan dan monoton. Pemilihan cara menyampaikan materi akan menentukan hasil dari proses pembelajaran bagi peserta didik. Hal ini juga berkaitan dengan kompetensi guru dalam menyampaikan materi.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Macam-Macam Hasil Belajar</h2>
<p>Sebuah proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila menunjukkan kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan berdasarkan pengertian hasil belajar<strong> </strong>dapat diketahui dari pemahaman konsep, keterampilan proses dan sikap. Berikut ini adalah penjelasannya:</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Aspek Kognitif</h3>
<p>Aspek kognitif meliputi kemampuan berpikir peserta didik, baik dalam memahami serta menggunakan materi yang telah dipelajari untuk menyelesaikan masalah. Konsep pemahaman yang disajikan di sini bukan sebatas mengetahui dan mengingat saja.</p>
<p>Lebih luas lagi, peserta didik seharusnya mampu menginterpretasikan kembali materi yang baru saja dipelajarinya. Dengan demikian apabila peserta didik juga mampu memecahkan suatu masalah dengan menggunakan materi tersebut. Guna mengukur kemampuan pemahaman peserta didik, dapat digunakan berbagai alat evaluasi, seperti tes atau kuis.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Aspek Psikomotor</h3>
<p>Aspek ini berhubungan dengan &nbsp;keterampilan yang dimiliki Setelah melalui proses pembelajaran. Lebih spesifik, aspek psikomotor lebih menitikberatkan pada kemampuan fisik atau gerakan koordinasi jasmani. Penilaian untuk aspek psikomotor mengalami perkembangan dari yang terendah hingga tertinggi melalui kemampuan dalam merespons gerakan.</p>
<p>Dimulai dengan respons dalam meniru, kesiapan, respons terpimpin, mekanisme, respons tampak kompleks, adaptasi hingga yang Paling tinggi adalah penciptaan. Karena berhubungan dengan gerakan jasmani, penilaian menggunakan ujian praktik sangat cocok untuk aspek ini.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Aspek afektif</h3>
<p>Aspek ini berkaitan dengan perilaku dan nilai peserta didik, seperti sikap dan minat. Sikap merupakan respons dari pemahaman yang baik. Peserta didik yang yang dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik umumnya mengalami perubahan sikap yang lebih baik. Hal ini berkaitan dengan bertambahnya pengetahuan yang dimiliki. Peserta didik akan memiliki kepekaan dan lebih tanggap pada nilai baik dan buruk dari suatu perilaku.</p>
<p>Metode yang digunakan untuk mengukur aspek ini juga berbeda dengan aspek sebelumnya. Sikap tidak dapat diukur melalui pemberian soal. Guru perlu melakukan observasi pada peserta didik, mengamati bagaimana perilaku peserta didik di dalam dan di luar kelas.</p>
<p>Syarat yang diperlukan adalah guru perlu mengetahui sikap peserta didik sebelumnya agar dapat menentukan adanya perubahan. Metode lain untuk mendukung observasi adalah pelaporan diri. Metode ini memerlukan instrumen yang nantinya bisa diisi oleh peserta didik.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Berbagai Hasil Belajar Dalam Penilaian</h2>
<p>Selain macam-macam hasil tersebut, jenis hasil penilaian juga terbagi menjadi 3, yaitu : tes formatif, tes subsumatif dan tes sumatif. Tes formatif adalah evaluasi yang diadakan secara berkala untuk menilai hasil pembelajaran dari pokok bahasan tertentu.</p>
<p>Tes subsumatif dilakukan untuk mengevaluasi beberapa bahasan pokok secara bersamaan sehingga dapat dilakukan perbaikan proses pembelajaran selanjutnya, misal Ujian Tengah Semester. Sedangkan tes sumatif diadakan di akhir periode pembelajaran, misal ujian di akhir semester. Hasil penilaian di tes sumatif akan mencerminkan keberhasilan peserta didik mengikuti proses pembelajaran secara keseluruhan.</p>
<p>Demikian ulasan mengenai pengertian hasil belajar<strong> </strong>serta faktor dan macamnya. Hasil yang baik tentu tidak bisa diperoleh tanpa adanya perencanaan dan proses yang baik. Oleh karena itu, saat melakukan evaluasi pada hasil pembelajaran, bukan sebatas melihat hasil perubahan pada peserta didik. Namun juga perlu diperhatikan penyebab munculnya hasil tersebut agar hasil proses pembelajaran selanjutnya bisa lebih memuaskan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.santuynesia.com/blog/pengertian-hasil-belajar-faktor-dan-macamnya/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gaya Belajar Siswa / Anak (Pengertian, Jenis dan Faktor yang Mempengaruhi)</title>
		<link>https://www.santuynesia.com/blog/gaya-belajar-siswa</link>
					<comments>https://www.santuynesia.com/blog/gaya-belajar-siswa#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Nov 2021 18:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yukuis.com/?p=134</guid>
					<description><![CDATA[Salah satu kunci dalam mengembangkan kinerja siswa adalah&#160;gaya belajar. Setiap siswa mempunyai style mendalami ilmunya masing-masing. Dengan mengetahui seperti apa&#160;gaya belajar&#160;masing-masing, maka dapat membantu&#160; guru dalam menyampaikan materi di kelas. Lebih lengkap mengenai&#160;gaya belajar&#160;siswa, simak penjelasannya berikut ini. Pengertian Gaya Belajar Peserta Didik Menurut psikolog Dunn dan Dunn dalam buku Psikologi Pendidikan,&#160;gaya belajar adalah kumpulan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Salah satu kunci dalam mengembangkan kinerja siswa adalah&nbsp;<strong>gaya belajar</strong>. Setiap siswa mempunyai style mendalami ilmunya masing-masing. Dengan mengetahui seperti apa&nbsp;gaya belajar<strong>&nbsp;</strong>masing-masing, maka dapat membantu&nbsp; guru dalam menyampaikan materi di kelas. Lebih lengkap mengenai&nbsp;gaya <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Belajar" target="_blank" rel="noreferrer noopener nofollow">belajar</a>&nbsp;siswa, simak penjelasannya berikut ini.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Pengertian Gaya Belajar Peserta Didik</h2>
<p>Menurut psikolog Dunn dan Dunn dalam buku Psikologi Pendidikan,&nbsp;<strong>gaya belajar</strong> adalah kumpulan karakteristik manusia yang membuat pembelajaran menjadi efektif. </p>
<p>Namun karakteristik ini hanya efektif bagi beberapa orang saja tapi tidak efektif untuk lainnya. berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan&nbsp;<strong>gaya belajar</strong>&nbsp;memiliki hubungan dengan cara siswa mempelajari ilmu dan cara mempelajari ilmu yang paling digemari.</p>
<p><strong>Gaya belajar&nbsp;</strong>&nbsp;juga dapat diartikan sebagai cara seseorang menerima hasil pendalaman ilmu dengan tingkat penerimaan yang paling optimal dibanding cara-cara lainnya. Pengenalan style mempelajari ilmu ini sangat penting agar tingkat keberhasilan pembelajaran tinggi.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Jenis atau Tipe Gaya Belajar Peserta Didik</h2>
<p>Terdapat beberapa jenis&nbsp;<strong>gaya belajar</strong>&nbsp;yang dimiliki oleh peserta didik, di antaranya:</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Visual</h3>
<p>Style visual atau disebut juga visual learner menitikberatkan penglihatan atau ketajaman mata. Umumnya, visual learner akan melihat atau menangkap informasi menggunakan visual sebelum memahaminya. Orang-orang yang masuk kategori visual learner lebih mudah mengingat hal-hal yang ditangkap mata, seperti bahasa tubuh, ekspresi, diagram, gambar, dan video.</p>
<p>Visual learner mudah memahami posisi atau lokasi, angka, bentuk, dan warna. Mereka cenderung rapi dan teratur serta tidak terganggu dengan kebisingan yang ada. Namun, mereka sedikit sulit menerima instruksi secara verbal. Visual learner memiliki kendala dalam berdialog langsung sehingga sukar mengikuti anjuran lisan. Selain itu, mereka seringkali salah dalam menginterpretasikan ucapan atau kata.</p>
<p>Beberapa ciri visual learner adalah bicara agak cepat, pembaca cepat, tekun, cenderung menyukai demonstrasi dibanding pidato. Selain itu mereka juga mudah mengingat apa yang mereka lihat daripada yang mereka dengar.</p>
<p>Mereka lebih suka membaca dibandingkan dibacakan oleh orang lain. Para visual learner mementingkan penampilan mereka dalam berpakaian atau ketika melakukan presentasi.</p>
<p>Untuk memudahkan visual learner dalam belajar, dapat menggunakan bantuan gambar, diagram, warna, buku berilustrasi, dan &nbsp;menuangkan ide dalam gambar. Anda juga dapat menggunakan multimedia seperti video untuk membantu siswa belajar.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Auditori</h3>
<p>Orang-orang dengan style auditori memiliki kemampuan menyerap informasi melalui indra pendengaran mereka. Siswa auditori dapat belajar lebih cepat dengan metode diskusi verbal serta menyimak penjelasan guru.</p>
<p>Mereka memiliki kepekaan tinggi terhadap musik dan unggul dalam aktivitas lisan. Mereka dapat berbicara menggunakan irama yang terpola, fasih, dan gemar menjelaskan sesuatu secara panjang lebar.</p>
<p>Siswa dengan style auditori dalam mempelajari ilmu mudah merasa terganggu dengan keributan dan memiliki kelemahan dalam kegiatan visual. Pikiran mereka lebih kuat dalam menangkap dan menyimpan informasi berbentuk suara. Ketika mereka membuat suara sendiri dengan bicara, beberapa daerah penting di otak mereka dapat aktif.</p>
<p>Ciri siswa style auditori adalah gemar berbicara dengan dirinya sendiri, gemar membaca dengan keras, gemar mendengarkan, dan fasih dalam berbicara. Mereka memiliki kebiasaan menggerakkan bibir atau mengucapkan tulisan ketika mereka membaca. Mereka memiliki kemampuan mengulang kembali dan menirukan nada, irama, serta warna suara.</p>
<p>Beberapa strategi untuk mendukung siswa auditori dalam belajar adalah dengan melibatkan mereka dalam sesi diskusi baik di kelas maupun dalam keluarga. Selain itu, dapat juga dengan merekam materi pelajaran dan mendengarkannya sebelum tidur. Dapat pula menggunakan musik untuk membantu siswa memahami materi. Berikanlah dorongan pada siswa untuk membaca materi pelajaran secara keras.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Kinestetik</h3>
<p>Style belajar kinestetik adalah kegiatan mempelajari ilmu dengan cara bekerja, bergerak, dan menyentuh. Orang-orang dengan tipe kinestetik memiliki keunikan, karena mereka sulit duduk diam dan memiliki keinginan eksplorasi tinggi. Mereka merasa dapat lebih mudah memahami pelajaran disertai aktivitas fisik. Umumnya, siswa dengan style kinestetik kurang rapi dan lemah dalam aktivitas jenis verbal.</p>
<p>Beberapa karakteristik siswa dengan style kinestetik adalah mereka berbicara secara perlahan dan tidak mudah terusik dengan kondisi keributan. Mereka lebih senang mempelajari sesuatu dengan praktik. Karena lebih mudah menghafal materi dengan berjalan dan melihat, seringkali mereka menggunakan bantuan tangan untuk membaca tulisan.</p>
<p>Mereka menggemari permainan yang dapat membuat mereka sibuk. Biasanya mereka menyentuh orang untuk memperoleh perhatian mereka dan menggunakan kata-kata yang memiliki kandungan aksi.</p>
<p>Agar siswa dengan karakteristik kinestetik lebih mudah dalam memahami materi, dapat menggunakan beberapa strategi. Beberapa strategi tersebut di antaranya jangan memaksa siswa belajar hingga berjam-jam lamanya.</p>
<p>Ajaklah siswa untuk belajar sembari mengeksplorasi lingkungan sekitar. Perbolehkan anak untuk mengunyah permen karet ketika mereka belajar. Gunakan warna cerah untuk menandai hal-hal yang penting di dalam bacaan. Izinkan anak untuk mempelajari ilmu sambil mendengarkan musik yang disukai. </p>
<p>Jenis metode pembelajaran&nbsp;problem solving&nbsp;juga dinilai oleh peneliti dari berbagai negara bisa memberikan banyak pengalaman yang bermakna bagi mereka.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Cara Mengetahui dan Mengenali Lebih Jauh Gaya Belajar Peserta Didik</h2>
<p>Beberapa teknik untuk mengetahui dan mengenal lebih jauh tentang&nbsp;<strong>gaya belajar</strong>&nbsp;siswa yang dikemukakan Wijaya Kusumah adalah sebagai berikut:</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Menggunakan Observasi</h3>
<p>Observasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan beragam metode belajar di kelas. Hal ini dilakukan agar dapat mengenal lebih jauh gaya belajar para peserta didik. Misalnya, untuk gaya belajar auditori dapat menggunakan metode ceramah.</p>
<p>Kemudian, catatlah berapa banyak peserta didik yang mampu mendengarkan dengan tekun hingga akhir pelajaran. Berdasarkan teknik tersebut, dapat diklasifikasikan dengan sederhana tipe-tipe siswa yang memiliki style memahami materi yang lebih menonjol.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Menggunakan Tugas</h3>
<p>Tugas yang diberikan dapat berupa menyatukan bagian-bagian terpisah, misalnya seperti model rumah. melalui metode yang digunakan untuk merangkai model rumah tersebut, dapat diketahui seperti apa&nbsp;<strong>gaya belajar</strong>&nbsp;yang dimiliki oleh para siswa.</p>
<h3 class="wp-block-heading">3. Melakukan survey</h3>
<p>Untuk dapat mengetahui style siswa dalam mempelajari ilmu, guru dapat melakukan survey atau tes. Dalam hal ini, dapat meminta bantuan dari jasa konsultan maupun psikolog tertentu. Tes yang dilakukan oleh pihak profesional memiliki tingkat akurasi yang tinggi sehingga memudahkan guru untuk mengenali&nbsp;<strong>gaya belajar</strong>&nbsp;siswanya.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Faktor yang Mempengaruhi Gaya Belajar Peserta Didik</h2>
<p>Terdapat beberapa variabel yang mempengaruhi cara peserta didik dalam mempelajari ilmu. Beberapa variabel tersebut di antaranya fisik, sosiologis, emosional, dan lingkungan. Beberapa orang mampu mempelajari ilmu dengan baik dalam kondisi pencahayaan terang.</p>
<p>Namun sebaliknya, ada pula tipe orang yang lebih mudah belajar dalam kondisi pencahayaan redup. Ada golongan orang yang merasa paling baik menyelesaikan pekerjaan secara berkelompok. Ada pula yang cenderung memilih belajar secara mandiri karena lebih efektif.</p>
<p>Beberapa orang memilih mendalami ilmu dengan iringan musik, tapi ada juga yang lebih menyukai suasana sunyi. Terdapat golongan orang yang memilih lingkungan kerja rapi dan teratur. Di samping itu, ada golongan orang yang memilih bekerja dengan menggelar segala perlengkapannya agar lebih mudah terlihat.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Hal-hal yang Mempengaruhi Gaya Belajar</h2>
<p>Style mempelajari ilmu dipengaruhi oleh tipe kepribadian dan kebiasaan yang dimiliki peserta didik serta dapat berkembang seiring waktu dan pengalaman. Terdapat beberapa faktor yang menjadi pengaruh dalam&nbsp;<strong>gaya belajar&nbsp;</strong>peserta didik, di antaranya:</p>
<h3 class="wp-block-heading">1. Faktor Internal</h3>
<p>Faktor internal dibagi lagi menjadi beberapa klasifikasi, yaitu:</p>
<h4 class="wp-block-heading">Faktor Jasmaniah</h4>
<p>Terdapat dua bagian yang mencakup faktor jasmaniah, yaitu kesehatan dan cacat tubuh. Proses mempelajari ilmu dapat terganggu jika kesehatan peserta didik tidak dalam kondisi baik.</p>
<p>Kesehatan tubuh yang buruk juga berdampak pada tubuh cepat lelah, mudah pusing, kurang bersemangat, mudah mengantuk, dan gangguan alat indera serta tubuh. Sementara cacat tubuh merupakan hal yang mengakibatkan tubuh peserta didik kurang sempurna.</p>
<p>Cacat tubuh dapat berupa tuli, setengah tuli, buta, setengah buta, lumpuh, patah kaki, dan sebagainya. Cacat tubuh ini dapat mempengaruhi kegiatan mempelajari ilmu peserta didik.</p>
<h4 class="wp-block-heading">Faktor Psikologis</h4>
<p>Terdapat 7 faktor yang masuk dalam golongan faktor psikologis. Beberapa di antaranya adalah perhatian, intelegensi, bakat, minat, kematangan, motif, dan kesiapan.</p>
<h4 class="wp-block-heading">Faktor Kelelahan</h4>
<p>Kelelahan yang dialami manusia meski sukar dipisahkan, tapi dapat dikategorikan menjadi dua jenis, yakni kelelahan jasmani dan kelelahan psikis. Kelelahan jasmani dicirikan dengan daya tahan tubuh yang menurun. Sementara kelelahan psikis ditandai dengan berkurangnya semangat belajar, merasa lesu, dan bosan dalam mempelajari ilmu. Kelelahan ini membuat style mempelajari ilmu tiap orang berbeda.</p>
<h3 class="wp-block-heading">2. Faktor Eksternal</h3>
<p>Pengaruh eksternal dibagi lagi menjadi beberapa kategori berikut.</p>
<h4 class="wp-block-heading">Faktor Keluarga</h4>
<p>Seorang peserta didik yang mempelajari ilmu akan mendapatkan pengaruh dari cara didik orang tua di rumah. selain itu, relasi antara peserta didik dengan anggota keluarga, suasana tempat tinggal, serta kondisi ekonomi juga berpengaruh dalam style mempelajari ilmu.</p>
<h4 class="wp-block-heading">Faktor Sekolah</h4>
<p>Beberapa hal yang mempengaruhi adalah metode guru dalam mengajar, kurikulum di sekolah, hubungan guru dengan siswa. Di samping itu, hubungan antar siswa, tata tertib di sekolah, suasana belajar, kondisi gedung, dan beberapa faktor lain juga dapat mempengaruhi. Dari sisi guru, kepribadian dan kemampuan guru juga turut mempengaruhi style mempelajari ilmu siswa.</p>
<h4 class="wp-block-heading">Faktor Masyarakat</h4>
<p>Faktor-faktor masyarakat yang juga memberikan pengaruh terhadap style siswa mempelajari ilmu. Faktor-faktor tersebut meliputi mass media, kegiatan siswa dalam masyarakat, bentuk kehidupan di masyarakat, dan teman bergaul peserta didik.</p>
<p>Demikian pembahasan tentang style siswa dalam mempelajari materi. Dengan mengetahui style tersebut, guru dapat memilih metode mengajar seperti apa yang cocok diterapkan di kelas. Dalam hal ini guru dituntut memiliki kreativitas dalam memvariasikan metode belajar dan memilih media pembelajaran, contohnya <a href="https://santuynesia.com/teori-belajar-sibernetik" target="_blank" data-type="post" data-id="130" rel="noreferrer noopener nofollow">teori belajar sibernetik</a>.</p>
<p>Dengan demikian, diharapkan perbedaan style siswa dalam mencerna materi dapat diakomodir dengan baik. Namun, dalam praktiknya tidak ada satu metode guru dalam mengajar yang lebih unggul dibandingkan metode lainnya.</p>
<p>DePorter dan Hernacki mengemukakan bahwa memahami gaya belajar yang berbeda dapat membantu guru mendekati hampir atau semua murid. Hal ini terjadi karena informasi disampaikan melalui style yang berbeda-beda.</p>
<p>Dari sisi orang tua, dengan memahami style belajar anak, maka akan lebih mudah dalam memfasilitasi mereka sesuai style masing-masing. Dari sisi peserta didik, mereka dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Hal ini dapat membuat motivasi belajar dan prestasi menjadi meningkat.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.santuynesia.com/blog/gaya-belajar-siswa/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Teori Belajar Sibernetik: Pengertian, Prinsip, Kelebihan &#038; Kekurangan</title>
		<link>https://www.santuynesia.com/blog/teori-belajar-sibernetik</link>
					<comments>https://www.santuynesia.com/blog/teori-belajar-sibernetik#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 Oct 2021 18:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Sibernetik]]></category>
		<category><![CDATA[Teori]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yukuis.com/?p=130</guid>
					<description><![CDATA[Teori Belajar Sibernetik &#8211; Komunikasi dapat menjangkau setiap sudut kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam proses belajar. Proses belajar tentu tidak akan terjadi tanpa adanya komunikasi. Para ahli teori komunikasi memang belum terlalu memberi penjelasan untuk merumuskan teori pelajaran. Tapi ada beberapa teori belajar yang mengandung teori komunikasi secara implisit, dan beberapa teori komunikasi juga sangat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Teori Belajar Sibernetik</strong> &#8211; Komunikasi dapat menjangkau setiap sudut kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam proses belajar. Proses belajar tentu tidak akan terjadi tanpa adanya komunikasi. Para ahli teori komunikasi memang belum terlalu memberi penjelasan untuk merumuskan teori pelajaran. </p>
<p>Tapi ada beberapa teori belajar yang mengandung teori komunikasi secara implisit, dan beberapa teori komunikasi juga sangat relevan dengan belajar. Sekarang ini kita mengenal beberapa teori pembelajaran yang lebih memusatkan pada pendidikan, psikologi dan bidang kajian lainnya. </p>
<p>Nah, teori <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Sibernetika" target="_blank" rel="noreferrer noopener nofollow">sibernetik</a> merupakan suatu teori belajar yang berakar dari psikologi dan pada akhirnya diaplikasikan dalam pendidikan. Memang teori ini masih terbilang baru dan bertumpu pada pembelajaran sistem informasi.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Pengertian Teori Belajar Sibernetik</h2>
<p>Teori belajar sibernetik sebenarnya berasal dari bahasa Yunani yaitu<em>&nbsp;“kybernetes”</em>&nbsp;yang memiliki arti pilot atau supir. Sedangkan untuk kata dengan makna yang sama memiliki arti perintah dan pemerintah. </p>
<p>Dengan memiliki latar belakang ilmu yang berbeda, ada beberapa para ahli yang memiliki definisi sendiri mengenai pengertian dari sibernetika, mari kita lihat penjelasannya di bawah ini:</p>
<ul class="wp-block-list"><li><strong>Norbert Wiener:&nbsp;</strong>Merupakan orang pertama yang menggunakan istilah sibernetika dalam bahasa Inggris yaitu “<em>cybernetics”</em>. Norbet Wiener memiliki pengertian mengenai sibernetika yaitu sebuah ilmu kontrol dan komunikasi dalam dunia hewan dan mesin. Ia menyadari bahwa potensi revolusioner dari sibernetika bagi perkembangan teknologi dan ilmu-ilmu biologi serta ilmu sosial tingkat lanjut. Dalam perkembangannya sendiri, sibernetika menawarkan berbagai kosa kata yang unik bagi bidang studi ilmu komunikasi.</li><li><strong>Stafford Beer:&nbsp;</strong>Menurutnya sibernetika bertindak sebagai ilmu organisasi yang efektif.</li><li><strong>Stephen W. Littlejohn:&nbsp;</strong>Memiliki pengertian sendiri mengenai sibernetika, yaitu salah satu studi mengenai kontrol dan aturan diri pada suatu sistem tertentu. Karena sangat penting, sibernetika menjadi sinonim dengan teori sistem.</li><li><strong>Robert Craig:</strong>&nbsp;Merupakan sistem berpikir sebagai tradisi dalam teori komunikasi.</li><li><strong>Para ahli teori organisasi:&nbsp;</strong>Sedangkan menurut mereka, sibernetika adalah sebuah ilmu untuk dapat memproses informasi, mengambil keputusan, pembelajaran, pengadaptasian dan organisasi yang terjadi dalam kelompok, individu, organisasi, bangka ataupun mesin.</li><li><strong>Gregory Bateson:&nbsp;</strong>Memiliki pendapat bahwa sibernetika adalah sebuah bentuk yang lebih dari substansi.</li><li><strong>Gordon Pask:</strong>&nbsp;Dan menurutnya sibernetika adalah seni memanipulasi berbagai macam metafora yang dapat dipertahankan. Ia menggunakan sebuah pendekatan teori sibernetika untuk konsep jaringan dan interaksi dengan sebuah komputer dalam menciptakan sebuah kerangka kerja dimana berbagai sudut pandang yang berlawanan lalu dikirim ulang dan didiskusikan terlebih dahulu sebelum memutuskan kesimpulan. Kerangka kerja dapat menjelaskan proses dimana pengetahuan itu dapat dibentuk. Sistem sibernetika pertama-tama akan mempengaruhi lingkungan, dan setelah itu mereka akan merasakan apa saja perubahan yang terjadi. Secara inisial, teori sibernetika dapat digunakan untuk memperlihatkan bagaimana suatu sistem bisa mendapatkan pengetahuan secara berkelanjutan melalui interaksi baik dengan pengguna ataupun mesin dan lalu diaplikasikan oleh Gordon Pask untuk menjelaskan peran percakapan dalam bidang pembelajaran.</li></ul>
<h2 class="wp-block-heading">Prinsip-Prinsip Teori Sibernetik</h2>
<p>Ada berbagai prinsip dari teori sibernetik dan Joy Murray (2006) telah meringkasnya, seperti yang berikut ini:</p>
<ul class="wp-block-list"><li>Kita semua bertindak sebagai pengamat.</li><li>Sebagai pengamat kita akan selalu tertanam pada sistem tertentu dan tidak bisa mengklaim pandangan apapun dari luar</li><li>Kita hanya mempunyai satu pikiran atau satu tubuh, dan berbagai sejarah hidup yang ada hanyalah untuk diamati. Maka dari itu pengamatan kita tidak bisa dilakukan oleh orang lain.</li><li>Kita dapat memperhatikan perbedaan apa saja yang ada dan membuat perbedaan terhadap lingkungan ataupun sistem. Pengamat akan merancang berbagai informasi dan menyajikannya untuk kita.</li><li>Informasi muncul dalam suatu proses hidup antara pengamat dan juga sistem.</li><li>Melalui komunikasi dan tentunya umpan balik secara konstan, kita dapat mengubah gambaran mengenai dunia dan mengubahnya.</li><li>Sedangkan perubahan ini dinamakan dengan pembelajaran.</li><li>Belajar di timbulkan dari kebutuhan untuk bertahan dalam hal ekonomi, sosial, budaya, ataupun fisik dan lebih memungkinkan kita untuk terus hidup.</li><li>Belajar sendiri memang dipicu oleh lingkungan, pastinya akan sesuai dengan sejarah kehidupan kita yang akan diantisipasi, dan setiap orang akan memiliki perbedaan.</li><li>Kita semua merupakan pengamat yang mengamati sebuah sistem tertentu.</li></ul>
<p>Menurut Joy Murray prinsip-prinsip tersebut adalah jawaban atas berbagai pertanyaan mengenai apa yang dimaksud dengan belajar, mengapa kita belajar, atau bagaimana pembelajaran bisa terjadi.</p>
<h2 class="wp-block-heading">Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Sibernetika</h2>
<p>Ada beberapa kelebihan serta kekurangan dari teori belajar sibernetika, untuk lebih jelasnya simak pembahasannya yang berikut ini:</p>
<h3 class="wp-block-heading">Kelebihan</h3>
<ul class="wp-block-list"><li>Bisa diterapkan dalam kelompok sesuai dengan instruksi dalam kelas bagi setiap individu yang ada.</li><li>Lebih memungkinkan pengajar untuk dapat memahami beberapa mekanisme dasar yang ada dan mengendalikan proses pembelajaran tersebut.</li><li>Dapat menyediakan pendidikan dasar untuk diri sendiri.</li><li>Untuk mengembangkan instruksional ulangan maka digunakanlah prinsip-prinsip dari teori sibernetika.</li><li>Dapat mengembangkan program pendidikan pengajar melalui cara memperkerjakan mekanisme umpan balik untuk memodifikasi perilaku pengajar tersebut.</li><li>Menstimulasi keterampilan pengajaran sosial dan analisis interaksi didasarkan pada teori umpan balik dengan adanya praktek-praktek yang inovatif pada program pendidikan tersebut.</li><li>Memungkinkan pengajar untuk memahami serta menganalisa secara ilmiah pengajaran dengan adanya berbagai elemen pada suatu sistem pengajaran yaitu input, proses dan output.</li><li>Kegiatan pengajakan akan membuat tujuan pembelajaran menjadi lebih terorganisasi dan tertsrtukur dengan baik.</li></ul>
<h3 class="wp-block-heading">Kekurangan</h3>
<p>Ada kekurangan yang dimiliki teori belajar sibernetik ini yaitu memang sulit untuk diterapkan atau diaplikasikan dalam suatu proses pembelajaran karena pembahasan proses belajarnya tidak secara langsung dilakukan.</p>
<p>Nahh itulah ulasan mengenai <a href="https://santuynesia.com/teori-belajar-sibernetik" data-type="post" data-id="130" rel="nofollow noopener" target="_blank">teori belajar sibernetik</a>, semoga penjelasan yang kami sajikan diatas dapat membantu kamu.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.santuynesia.com/blog/teori-belajar-sibernetik/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
