Virtual Address

Search Engine Google, Bing, Yahoo, Baidu, Yandex and Duckduckgo

Pendekatan Kognitif Dalam Pembelajaran Pada Anak Usia Dini Hingga Pra-Remaja

Kali ini kita akan membahas pendekatan kognitif dalam pembelajaran pada anak usia dini hingga pra-remaja,yuk simak penjelasannya.

Secara perkembangan fisiologi dan tingkat emosi,anak memang belum memiliki kemampuan yang utuh untuk mengabstrasikan sebuah perkara secara rasional. Namun, anak kecil memiliki potensi yang lebih murni untuk mengembangkan fikiran rasional melebihi kita, orang dewasa. Kemampuan abstraksi yang mulai berkembang pada usia remaja hingga usia dewasa, pada kenyataan malah berekses negatif rupa-rupa.

Banyak para pemikir yang terinspirasi dari anak kecil. Jostein Gaardner dalam novelnya yang berjudul Dunia Shopie, mengkreasikan tokoh utamanya seorang anak perempuan kecil. Novel ini menceritakan tentang kisah gadis kecil Norwegia, bernama Shopie Amundsen yang tengah mempelajari sejarah filsafat dari kejutan-kejutan misterius Albert Knox.

Jauh sebelum itu, ada novel Hayy Ibn Yadzan karangan Ibn Thufail. Hayy merupakan anak yang dibuang oleh orang tuanya ke pulau terpencil. Hayy kemudian dirawat oleh kawanan rusa. Saat si rusa yang merawat Hayy mati, usia Hayy masih tergolong anak-anak. Kejadian ini memicu curiosity Hayy untuk membedakan benda yang bernyawa dan tidak bernyawa.

Anak-anak memiliki potensi luar biasa untuk berfikir rasional. Tinggal bagaimana lingkungan sekitar membentuknya.

Pikiran irasional bukanlah tabiat bawaan dari lahir. Secara alamiah, manusia itu terlahir rasional. Pikiran irasional cenderung dibentuk oleh lingkungan sekitar. Bagaimana pola asuh dalam keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan pertemanan dan sosial masyarakat: merupakan pembentuk bagaimana cara berfikir dan cara mengambil kesimpulan dari seorang individu.

Balita: Role Model Rasionalitas

Balita merupakan role model rasionalitas. Kemampuan abstraksi balita yang masih sederhana, menjadikan kesimpulan yang diambilnya tidak diselipi oleh kepentingan tertentu. Apa adanya.

Misal, saat seorang balita lapar, ia akan menunjukkan respon menangis. Ini tidak membuat si balita menganggap bahwa sang orang tuanya tidak menyayanginya. Dan si balita akan berhenti menangis seusai disusui.

Baca Juga  Apa Itu Pengertian, Manfaat Globalisasi, Dampak, dan Pengaruh Negatifnya

Masih dalam situasi yang sama. Saat si balita menangis, ada kemungkinan si orang tua berfikiran bahwa si balita rewel. Kesimpulan yang diambil oleh orang dewasa tidak cukup dengan “oh dia lapar”. Dan, anggapan bahwa si balita rewel, belum tentu hilang walaupun si balita telah berhenti menangis. Toh, andaikan esok harinya si balita tertawa riang dan bertingkah lucu, tetap belum menjamin hilangnya anggapan bahwa balita itu rewel.

Lalu apakah yang bisa diambil dari sini? Apakah kita perlu kembali seperti balita ?

Tidak. Saya yakin kita tidak bisa kembali seperti balita. Dan kita tidak perlu melakukannya. Karena kerumitan pikiran manusia itu, disatu sisi mengakibatkan berbagai kerusakan, disisi lain kerumitan pikiran ini berperan besar dalam membawa kemajuan pada peradaban.

Kemampuan abstraksi balita yang masih sederhana dan pengambilan kesimpulan mereka yang tidak diselipi dengan unsur lainnya, bisa kita jadikan role model untuk mengatasi berbagai kesalahan berfikir yang kita alami. Dan sebagai contoh untuk menetralisir unsur-unsur yang tidak mempunyai kaitan dengan kesimpulan yang kita buat.

Selain itu, hal ini juga bisa kita jadikan sebagai bahan reflektif. Ke arah manakah kita, sebagai orang tua, sebagai saudara, sebagai guru, dan sebagai anggota masyaraka membawa pengaruh pada generasi penerus? Ke arah yang lebih positif ataukah ke arah yang lebih buruk?

Pendekatan Kognitif Pada Anak Usia Dini Hingga Usia Pra-Remaja: Apakah Bisa?

1. Gestalt (Pola-pola)

Kohler, salah satu dari tiga (Wertheimer, Wolfgang Kohler, dan Kurt Koffka) teoritisi Gestalt, melakukan studi intensif mengenai pemecahan masalah dengan wawasan pada simpanse. Simpanse diberi masalah berupa pisang yang dipajang diluar jangkauannya. Pisang ditaruh di atap kandang simpanse. Di dalam kandang itu, berserakan balok-balok yang bisa digunakan oleh simpanse untuk meraih pisang apabila ditumpuk.

Pisang dan balok ialah pola-pola (gestalt) yang menjadi sarana penumbuhan wawasan (insight).

Baca Juga  Model Pembelajaran Talking Stick, Pengertian dan Langkah Aplikasi

Apakah si simpanse berhasil menemukan insight? Setelah berapa lama si simpanse menemukannya?

Dalam studinya, Kohler menemukan sesuatu yang menarik. Si simpanse gagal meraih pisang dengan cara lama yang dikenalnya. Setelah tidak kunjung berhasil meraih pisang, si simpanse nampak berhenti berupaya. Ia duduk-duduk saja. Namun, dalam periode tertentu ternyata si simpanse menemukan hubungan antara balok dengan pisang. Ia tiba-tiba menggunakan balok tersebut sebagai tumpuan untuk meraih pisang di atap kandang. Inilah yang disebut insight (wawasan).

Kontribusi Gestaltian bagi pembelajaran ialah penekanan pada penumbuhan wawasan (insight). Dari Gestalt inilah kemudian muncul teori belajar konstruktivisme.

Bagaimana cara menumbuhkan insight pada anak usia dini hingga usia pra-remaja?

Anda bisa melatih insight pada anak dengan cara-cara sederhana. Berikan masalah (jangan mengkonotasikan bahwa masalah itu perkara negatif, masalah ialah perkara yang membutuhkan jawaban) yang memancing anak untuk mencari tahu jawabannya. Bangun dialog secara horizontal. Sertakan pula sarana yang bisa membantu anak untuk menemukan pemecahan masalah.

Misalkan anda ingin membiasakan anak merapikan baju yang tidak dipakai. Coba taruh beberapa gantungan baju di tumpukan bajunya. Atau misal, anda ingin membiasakan anak cuci tangan sebelum makan. Coba taruh wadah air di meja makan, tapi letakkan di sisi yang berjauhan dari tempat duduk anak.

Bagaimana cara menangani problem perilaku anak menggunakan Gestalt?

Misalkan seorang anak baru bertengkar dengan temannya. Ajak dia berbincang. Buat si anak menceritakan kronologi pertengkaran. Upayakan si anak merasa nyaman bercerita kepada anda. Jangan memberikan kesimpulan apapun. Biar si anak yang menemukannya sendiri. Seusai si anak bercerita dan emosinya nampak reda, tunjukkan empati bahwa anda memahaminya. Lalu tanyakan padanya: Apa yang perlu kamu lakukan agar kamu tidak bertengkar lagi dengannya?

2. Kogntif-Behavior

Albert Ellis, saat usia remaja pernah berfikir bahwa ”Saya lebih berani berjoget di depan umum, dibandingkan berbicara di hadapan mereka” Di kemudian hari dia pun sepertinya berfikir begini, kenapa sih saya mengharuskan orang-orang buat menerima saya? Kenapa saya takut pada penolakan mereka? Bukankah menunjukkan diri pada mereka akan apa yang saya miliki sudah mencukupi?

Baca Juga  44 Manfaat Buah Bit, Tidak Hanya Untuk Kesehatan!

Kognitif-behavior merupakan pendekatan pembelajaran yang menggabungkan teori belajar kognitif dan teori belajar behavior.

Dalam pandangan kognitif-behavior, tidak hanya aspek eksternal semata yang menimbulkan perilaku manusia, sebagaimana pandangan teori belajar behavior awal. Namun, aspek internal berupa bangunan kognisi juga turut serta dalam membentuk perilaku manusia.

Albert Ellis sendiri, si anak yang berpikiran jorok diatas, di kemudian hari menjadi seorang tokoh kognitif-behavior, tapi selanjutnya ia menggagas unsur lain yang turut serta membentuk perilaku, yaitu emosi.

Bagaimana cara mengaplikasikan kognitif-behavior pada anak-anak?

Misalkan, saat anda melarang anak melakukan sesuatu ataupun membiasakan anak melakukan sesuatu, berikan alasan-alasan yang logis kenapa anda melarang ataupun menyukai perbuatan tersebut. Jangan sampai anda membiasakannya dengan alasan-alasan irasional, ataupun tanpa memberitahunya akan alasannya. Karena hal ini bisa menimbulkan sikap menentang dari si anak.

Misalkan, si anak enggan mengerjakan tugas yang anda berikan. Analisa terlebih dahulu apa stimulan negatif yang menyebabkan anak enggan mengerjakan tugas. Upayakan hilangkan stimulan negatif ini, dan ganti dengan stimulan positif.

Apabila ternyata penyebab anak enggan mengerjakan tugas ialah karena ia merasa tidak bisa, anda perlu memberikannya reinforcement (penguatan) berupa dorongan. Ini dari sisi behaviorisme.

Sedangkan dari sisi kognitif, anda perlu menjernihkan pikiran anak bahwa belajar itu tidak dituntut untuk bisa. Ajak dia buat memahami kelebihan yang dimiliki dibandingkan teman-temannya. Berikan dia alasan-alasan logis kenapa dia perlu memiliki kepercayaan diri. Sesekali panggil dia ke depan kelas untuk menceritakan kelebihan yang dimilikinya.